KEMANTAPAN PERUBAHAN SIKAP

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Pertanyaan terakhir menyangkut kemantapan sikap yang senantiasa berubah, segera setelah dirangsang oleh suatu komunikasi. Nampaknya jelas bahwa, pada umumnya, ingatan tentang detil argumen hilang sejalan dengan waktu dalam cara yang mirip kurva lupa Ebbinghaus yaitu, pada mulanya penurunan terjadi secara cepat, kemudian semakin berkurang. Meskipun demikian, pada umumnya kemantapan perubahan sikap tidak harus tergantung pada ingatan tentang detil argumen. Sebuah penelitian yang cukup baik menemukan bahwa ingatan mengenai argumen hanya mempunyai makna penting sekunder (McGuire, 1969). Hal-hal lain yang terjadi setelah komunikasi jauh lebih berarti. Salah satu faktor yang penting adalah apakah kemudian penerima teringat akan isyarat-isyarat /penting selain argumen itu sendiri, seperti’misalnya kredibilitas sumber. Sebagai contoh, Kelman dan Hovland (1953) mema-nipulasi kredibilitas sumber dan menemukan perbedaan yang biasa pada tes yang dilakukan segera setelah pemanipulasian tersebut: sumber dengan kredibilitas tinggi menimbulkan lebih banyak perubahan sikap. Tiga ming- gu kemudian, perbedaan kredibilitas itu dihilangkan. Sehingga pesan dari sumber dengan kredibilitas rendah sama efektifnya. Namun, perbedaan kredibilitas semula dapat muncul kembali bila subjek teringat pada sumber pesan yang semula. Seperti yang bisa Anda lihat, segera setelah komunikasi, perbedaan antara sumber dengan kredibilitas tinggi dan sumber dengan kredibilitas rendah sangat besar. Tiga minggu kemudian, perbedaan ini .menghilang pada kondisi “tanpa pemunculan kembaii.” Namun, bila subjek teringat pada sumbernya yang semula, perbedaan kredibilitas itu akan muncul kembali. Penulis berpikir bahwa orang lebih mudah melupakan sumber pesan daripada argumen, sehingga tanpa pemunculan kembali kredibilitas sumber, perbedaan itu tidak akan .bertahan lama.
Penelitian ini menimbulkan beberapa pertentangan dan penelitian yang sungguh-sungguh. Bila perubahan sikap meningkat karena asosiasi antara pesan dengan sumber yang berkredibilitas rendah telah dilupakan, hipotesis pengabaian isyarat (discounting cue) akan menyatakan bahwa pemunculan kembali asosiasi yang menurunkan martabat ini akan memusnahkan peningkatan bertahap dalam perubahan sikap itu. Idenya adalah bahwa berbagai isyarat yang mengelilingi pesan menyatakan pada si penerima apakah sebaiknya dia mengabaikan pesan tersebut atau tidak. Kredibilitas sumber yang rendah mungkin merupakan salah satu isyarat itu, yang akan menjadi petunjuk lain bahwa argumen itu diinformasikan secara salah atau menyimpang. Bila isyarat-isyarat ini senantiasa dilupakan, perubahan sikap bisa benar-benar meningkat, sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek pelelap (the sleeper effect). Cook dan Flay (1978), dan yang lain  telah menarik kesimpulan bahwa efek pelelap semacam itu mungkin terjadi terutama bila pengabaian isyarat semula timbul setelah pesan. Bila pengabaian isyarat itu timbul setelah pesan, si penerima akan siap mendengarkan argumen dan menerimanya dengan sungguh-sungguh. Bila dia mendengar isyarat-isyarat yang diabaikan itu sebelum pesan, si penerima mungkin tidak akan memberikan perhatian pada pesan dan dengan demikian tidak akan ada ingatan tentang argumen yang dapat diambil alih bila dia telah melupakan sumber yang berkredibilitas rendah.
Kredibilitas rendah bukan satu-satunya isyarat yang diabaikan. Perubahan sikap juga dapat ditekan secara sengaja dengan memperingatkan penerima tentang maksud komunikator. Orang cenderung menjadi keras kepala bila mereka merasa bahwa sumber komunikasi mencoba membujuk mereka. Tetapi dengan berjalannya waktu, orang-orang semacam ini tampak memperlihatkan peningkatan perubahan sikap, nampaknya sejalan dengan terlupakannya isyarat yang diabaikan (tujuan persuasif) (Watts & Holt, 1979). Hal lain yang menentukan kemantapan, dan mungkin yang paling penting, adalah jenis dukungan sosial yang diperoleh seseorang setelah pengungkapan komunikasi. Contoh yang terbaik adalah penelitian Newcomb (1963) tentang perubahan jangka panjang dalam sikap politik wanita muda yang menjadi mahasiswi Universitas Bennington pada tahun 1930-an. Sebagian besar menjadi lebih liberal ketika mereka berada di universitas itu. Kemantapan tergantung pada lingkungan di mana mereka menetap setelah lulus. Mereka yang dikelilingi kaum liberal, tetap menjadi liberal; mereka yang dikelilingi oleh kaum konservatif, “mundur” ke arah konservatisme mereka sebelum di universitas. Bila dari semua ini ada pelajaran yang bisa diambil, pelajaran itu adalah bahwa tidak ada hal-hal seperti makan siang gratis dalam hidup seorang pembujuk. Mungkin seorang sumber yang berkredibilitas rendah dapat memasukkan pesannya, tetapi pesan ini selalu rentan terhadap penonjolan kembali dukungan lemahnya. Atau, mungkin seseorang dapat sejenak memperdaya orang lain untuk melakukan perubahan dengan tidak memperingatkannya, tetapi pengaruh persuasi itu akan hilang sejalan dengan waktu. Dan suatu pesan dapat secara temporer mengubah sikap seseorang, tetapi perubahan itu harus konsisten dengan nilai-nilai yang dianutnya selama ini, dan dengan nilai teman-temannya, bila perubahan itu hendak bertahan lama. Oleh sebab itu, adalah gagasan yang baik untuk bersikap skeptis terhadap laporan tentang perubahan yang tiba-tiba dan bersifat dramatis. Perubahan semacam ini hanya akan berlangsung singkat, kecuali bila didukung oleh bukti, teman, dan nilai-nilai dasar.
Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan sikap. Beberapa diantaranya adalah dengan menarik nalar seseorang, dengan meningkatkan kepercayaan terhadap komunikasi, dengan memperkuat pesan persuasif, dan pada umumnya dengan menentukan seberapa jauh kepercayaan individu terhadap apa yang dikatakan. Namun, usaha mempengaruhi opini seseorang tidak perlu dilakukan dalam situasi yang benar-benar bersifat kognitif, tidak emosional, dan logis. Situasi itu dapat, dan sering, melibatkan motivasi yang kuat, daya tarik terhadap kebutuhan yang mendalam, dan banyak faktor yang tidak ada hubungannya dengan argumen-argumen logis yang terkandung dalam pesan itu sendiri. Orang yang benar-benar bersifat kognitif dan rasional, sampai tahap tertentu, hanya akan terpengaruh bila argumen yang disajikan bernada logis. Tetapi, karena hanya ada sedikit orang yang seratus persen rasional, faktor motivasi dan emosi juga merupakan faktor penting yang menentukan efektivitas suatu komunikasi persuasif. Sejalan dengan perkembangan penelitian tentang perubahan sikap, telah terjadi beberapa perubahan tekanan teoretik dalam masalah ini. Sebagian besar penelitian awal diarahkan oleh berbagai versi pendekatan alih perasaan atau pendekatan belajar luar kepala, yang memperlakukan orang sebagai makhluk emosional dan refleksif. Yang paling populer dewasa ini adalah teori kognitif, yang menempatkan tekanan yang relatif kecil pada perasaan dan emosi. Teori respons kognitif menyatakan bahwa orang mengubah sikapnya tidak dengan cara membabi buta dan emosional, tetapi sebagai hasil pemikirannya tentang isi komunikasi. Kita memberikan suara menentang golongan konservatif karena kita tidak setuju dengan pendapatnya mengenai masalah tersebut, dan bila kita mendengar dia berbicara, diam-diam kita menyusun argumen untuk menentangnya. Teori tindakan yang masuk akal menyatakan bahwa orang bertindak sesuai dengan keyakinannya melalui cara yang benar-benar masuk akal: Bila orang yakin bahwa dia mampu melakukan sesuatu, dan berpikir bahwa tindakan itu disetujui secara sosial, dia akan melakukan tindakan tersebut. Tentu saja, penelitian tentang perubahan sikap akan selalu memberikan pandangan yang bervariasi mengenai manusia, karena orang memang benar-benar bervariasi dan tidak satu pun teori sederhana yang akan selalu benar. Tetapi kecenderungan dalam penelitian perubahan sikap, seperti juga kecenderungan dalam penelitian persepsi sosial, telah meninggalkan model yang didasarkan pada emosi dan belajar luar kepala serta beralih ke model yang menekankan proses-proses kognitif dan pemikiran rasional.
1. Suatu model yang berguna tentang situasi perubahan sikap mengklasifikasikan berbagai kemungkinan pengaruh terhadap target dipandang dari sudut komunikator, komunikasi, serta variabel situasional dan variabel target.
2. Mekanisme utama yang digunakan orang untuk menolak persuasi menyangkut penyangkalan terhadap argumen komunikator, penolakan terselubung terhadap pesan, penghinaan terhadap komunikator, dan pengubahan pesan.
3. Penilaian target terhadap sumber komunikasi merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam keberhasilan usaha persuasif. Kemungkinan terjadinya perubahan sikap akan semakin besar bila sumber dipandang andal, dapat dipercaya, dan secara umum disukai oleh target. Kelompok teladan di mana target mengidentifikasikan diri merupakan sumber pengaruh kuat lainnya.
4. Aspek yang paling penting dalam komunikasi adalah sejauh mana perbedaan pendapat yang dihadapi target-yaitu, kesenjangannya. Semakin besar kesenjangan komunikasi, semakin besar pengaruhnya-sampai suatu- titik, di mana pengaruhnya mulai berkurang kembali. Titik di mana pengaruhnya berkurang tergantung pada kredibilitas sumber dan keterikatan target pada opini awalnya. Dalam situasi kredibilitas tinggi dan atau keterikatan lemah, titik penurunan pengaruh terjadi pada tingkat kesenjangan yang lebih tinggi.
5. Pada umumnya, perubahan sikap akan meningkat dengan semakin besarnya keterbangkitan rasa takut. Tetapi pada tingkat rasa takut yang sangat tinggi, bila pesan terlalu mengancam atau mengganggu seseorang, komunikasi yang membangkitkan rasa takut bisa menjadi tidak efektif.
6. Tingkat keterikatan terhadap suatu opini merupakan determinan persuasi yang penting. Dalam situasi keterikatan yang Jebih besar, pengaruh persuasi akan semakin kecil.
7. Seseorang bisa dikebalkan terhadap persuasi melalui pemberian versi lemah argumen persuasi yang akan datang, dan usaha belajar untuk menghadapinya.
8. Peringatan sebelumnya tentang pendapat yang akan dianjurkan cenderung meningkatkan ketahanan terhadap perubahan bila pendengar sangat terikat pada suatu pendapat yang senjang. Tetapi dalam situasi keterikatan yang lemah, peringatan sebelumnya bisa membantu dimulainya proses persuasi, dan perubahan sikap akan terjadi meskipun komunikasi belum didengar seluruhnya.
9. Distraksi dapat membantu menimbulkan persuasi melalui penurunan ketahanan pendengar terhadap pesan-pesan yang sangat senjang.
10. Pengulangan pesan merupakan sesuatu yang penting bila perubahan sikap hendak dipertahankan. Namun, pengulangan yang terlalu banyak akan menimbulkan kebosanan dan mengurangi dukungan terhadap perubahan sikap itu. Demikian juga, pemunculan kembali isyarat-isyarat yang berguna, yang diasosiasikan dengan pesan, seperti kredibilitas tinggi dari komunikator, akan membantu memantapkan perubahan sikap.

KEMANTAPAN PERUBAHAN SIKAP | ok-review | 4.5