KEKELIRUAN ATRIBUSI FUNDAMENTAL : AKTOR LAWAN PENGAMAT

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Salah satu belitan menarik dalam kekeliruan atribusi fundamental ialah bahwa ia menghambat para pengamat, tetapi kelihatannya tidak bagi para aktor yang mengamati perilaku mereka sendiri. Sebaliknya, para aktor agaknya lebih mengagungkan peranan faktor ekstern. Contohnya, ada orang tua yang membuat peraturan keras kepada anak-anaknya yang menanjak dewasa, sehingga mereka diijinkan pergi berkencan hanya pada malam Minggu saja; mereka harus sudah kembali ke rumah pada jam tertentu; mereka hanya boleh melihat televisi pada jam-jam tertentu; dan seterusnya. Bagaimana penetapan peraturan itu diinterpretasikan? Para “pengamat,” anak- anak remaja, sering memandang peraturan tersebut sebagai akibat disposisi mereka sendiri, yaitu: Orang tua yang kejam, bersifat otoriter, menghakimi, dan kuno. Para “aktor” sendiri, orang tuanya, sering cenderung menjelaskan perilaku mereka sesuai dengan situasi: Bahwa mereka hanya melaksanakan apa yang terbaik untuk anak-anak mereka, hidup sesuai dengan peranan orang tua, atau tanggap terhadap pemberontakan serta tindakan yang tidak bertanggung jawab anaknya sendiri. Bagaimana kedua belah pihak menginterpretasikannya jika para remaja berulangkah melanggar peraturan? Para “pengamat,” yang kali ini adalah orang tuanya, menginterpretasikannya berdasarkan disposisi, yakni: Para remaja tersebut suka memberontak, buruk, tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Para “aktor,” kali ini terdiri dari para remaja, menginterpretasikan perilaku mereka sendiri sebagai hasil penyebab situasional, yaitu: Pesta yang mereka hadiri menyenangkan sehingga mereka enggan pulang, peraturan orang tua mereka terlampau keras, orang tua tidak memahami diri mereka, dan sebagainya. Singkatnya, para pengamat menilai berlebihan penyebab disposisional, para aktor menilai berlebihan penyebab situasional. Kedua kelompok itu secara kausal menjelaskan perilaku yang sama, namun dengan atribusi yang masing-masing berlainan.
Distorsi aktor-pengamat ini (Jones & Nisbett, 1972) terbukti merupakan salah satu riset paling luas tentang berbagai distorsi atribusional. Dalam salah satu peragaan pertamanya, Nisbett et al. (1973) menyuruh mahasiswa untuk menulis sebuah paragraf tentang mengapa mereka paling menyukai wanita yang mereka ajak kencan, dan mengapa mereka memilih jurusan mereka. Kemudian mereka diminta menjawab pertanyaan serupa seakan-akan penguji adalah kawan karibnya. Respons yang diberikan dicatat sampai sejauh mana perilaku tersebut diatribusikan kepada disposisi aktor (yaitu, “Saya memerlukan seseorang yang bisa saja ajak berkencan,” atau “Saya ingin memiliki banyak uang”) atau secara ekstern, kepada pihak wanita atau jurusan (yaitu, kimia merupakan bidang yang mendapat bayaran tinggi). Para subjek memberikan alasan ekstern untuk perilaku mereka lebih banyak ketimbang kepada perilaku orang lain. Dan terdapat kecenderungan tertentu, meskipun tidak begitu kuat, untuk memberikan lebih banyak alasan disposisional bagi perilaku seorang teman. Jones dan Nisbett menawarkan dua penjelasan bagi perbedaan atribusi ini. Pertama, ialah bahwa para peserta memperoleh informasi yang berbeda sehingga dengan sendirinya sampai kepada kesimpulan yang berbeda pula. Para aktor menerima terlampau banyak informasi historik tentang perilaku mereka sendiri dalam berbagai situasi dibandingkan pengamat biasa. Dengan segala informasi dari dalam tentang perilaku mereka sendiri yang bervariasi dalam berbagai situasi, maka para aktor akan lebih mungkin mengatribusikannya kepada karakteristik unik dari berbagai situasi daripada memandang perilaku mereka yang seragam itu disebabkan predisposisi umum. Hal ini sebenarnya merupakan penjelasan model ko variasi. Penjelasan lainnya, dan yang paling diutamakan oleh kebanyakan ahli riset, adalah perbedaan karena berbagai perspektif yang berbeda, serta faktor kunci yang berbeda pula dalam penonjolannya. Dengan sendirinya para pengamat memfokuskan diri kepada aktor. Penonjolan khusus aktor ini mengarahkan pengamat terlalu mengatribusikan perilaku aktor kepada disposisi, seperti yang sudah kita lihat. Inilah yang disebut ‘”kekeliruan atribusional fundamental.” Akan tetapi, aktor tidak memandang perilaku mereka sendiri. Dia memandang situasi, yaitu tempat, orang lain, pengharapan mereka, dan sebagainya. Perilaku aktor sendiri tidaklah menonjol bagi dirinya sendiri seperti dalam pandangan para pengamat terhadap mereka. Dengan alasan ini, aktor akan memandang situasinya lebih menonjol dan oleh karena itu, secara kausal lebih kuat dan berpengaruh. Ringkasnya, bagi pengamat perilaku aktor menutupi bidang pengamatannya, sehingga ia dipandang sebagai paksaan pokok terhadap hubungan sebab-akibat. Bagi aktor, lingkungan lebih menonjol daripada perilaku, dan lingkungan tersebut menutupi bidang pengamatan dan menjadi fakta yang menjelaskan hubungan sebab-akibat yang dominan.
Storms (1973) berhasil menunjukkan bahwa gagasan perspektif yang berbeda ini dapat menjelaskan perbedaan aktor-pengamat. Menurut argumentasinya, jika perbedaan atribusi semata-mata disebabkan adanya perbedaan perspektif, ia dapat dibalik dengan membalikkan segi pandangan. Jika perilaku aktor sendiri direkam dalam pita video dan diperlihatkan kembali kepadanya, ia harus memandang dirinya sendiri sebagai sasaran paling menonjol di seluruh bidang, dan memberikan arti sebab-akibat kepada pembawaannya sendiri. Jika pengamat melihat rekaman video dari sudut pandangan aktor, dia akan melihat lebih banyak situasi di mana aktor memberikan lebih banyak tanggapan daripada semata-mata memfokuskan diri kepada sang aktor, sehingga karenanya mereka harus memberikan arti kepada sebab-akibat situasi serta tidak hanya memandang disposisi sang aktor sebagai penyebab utama. Untuk menguji hipotesis ini, Storms juga membuat situasi di mana dua orang asing (para aktor) bertemu dan berkenalan. Di ujung meja yang lain duduklah dua orang pengamat yang mengikuti pembicaraan tadi, dan masing-masing mendapat tugas untuk mengamati aktor yang berlainan. Kedua aktor tadi direkam dalam video. Interaksi tadi lalu diputar kembali bagi keempat partisipan itu Perilaku salah serorang aktor dipertunjukkan dan perilaku yang lain tidak dipertontonkan (pembuat eksperimen mengatakan bahwa salah sebuah kamera rusak). Seroang aktor melihat dirinya sendiri, yang akan meningkatkan atribusi pembawaan; aktor yang lain melihat hal yang sama dengan yang dilihatnya selama berlangsung pembicaraan, yaitu aktor yang lain. Jadi tanggapannya sama dengan tanggapan yang diberikan sebelumnya. Bersamaan dengan itu, seorang pengamat melihat rekaman video dari aktor yang mendapat tanggapan dari aktornya, dan oleh karena itu akan lebih sesuai dengan paksaan situasional yang bekerja atas diri aktornya. Pengamat lainnya melihat ulangan dari hal yang sama seperti yang dilihatnya semula, jadi dia harus menanggapi seperti semula. Kolom pertama menunjukkan bahwa persepsi atas percakapan itu sendiri, tanpa pemutaran rekaman video, menghasilkan standar perbedaan aktor-pengamat, yakni: Para pengamat lebih cenderung memberikan atribusi pembawaan (4,80) daripada yang diberikan para aktor (2,25). Kolom kedua menunjukkan apa yang terjadi jika semua orang menonton salah satu interaksi dalam rekaman video, tetapi melalui perspektif yang serupa dengan yang mereka tonton dalam video. Standar perbedaan aktor-pengamat kembali muncul, yaitu: Para pengamat membuat lebih banyak atribusi pembawaan (4.90) daripada yang dibuat para aktor (0,15), seperti sudah diduga sebelumnya, karena tidak seorang pun merubah perspektifnya. Kondisi puncaknya terletak pada titik di mana rekaman ulang video bertentangan dengan perspektif. Ketika para aktor melihat perilaku mereka dipertunjukkan kembali, maka atribusi mereka semakin menjadi disposisional (6.80). Dan ketika para pengamat menonton rekaman ulang tentang situasi di mana aktor mereka telah memberikan tanggapan, mereka lalu memberikan lebih banyak atribusi situasional bagi perilaku aktor mereka sendiri Eksperimen ini menguatkan prediksi pokok Jones dan Nisbett, bahwa berdasarkan keadaan normal para aktor membuat lebih banyak atribusi situasional, sedangkan para pengamat membuat lebih banyak atribusi disposisional. Hal itu juga merupakan kenyataan bahwa perbedaan tersebut terjadi akibat orientasi atau segi pandangan perseptual yang berbeda. Artinya, mereka menerima informasi terbaru yang berbeda dari bidang perseptualnya masing-masing. Jika orientasi perseptual ini dibalik, maka atribusi sebab-akibat juga harus dibalik.
Regan dan Totten (1975) menambah saran lain ke dalam gagasan yang sama ini. Mereka menemukan bahwa jika pengamat menerima sikap yang lebih tegas dan berusaha memikirkan atau memandang segalanya seperti yang dilakukan sang aktor, maka pengamat akan melihat dunia serupa dengan penglihatan sang aktor. Maksudnya, jika pengamat mempunyai perangkat pengamat yang normal, mereka akan cenderung memberikan lebih banyak atribusi disposisional daripada atribusi situasional. Meskipun demikian, di bawah instruksi agar lebih tegas terhadap sang aktor, Hal ini akan berubah. Atribusi situasional menjadi lebih penting bagi sang aktor. Sebaliknya, pengamat yang hanya mengantisipasi untuk terlibat di dalam tindakan yang serupa akan mulai memberikan atribusi mirip sang aktor yaitu, mereka mulai menggunakan situasi untuk menjelaskan perilaku sang aktor, seperti yang juga dilakukan oleh sang aktor sendiri (Wolfson & Salancik, 1977). Mungkin mereka menegaskan dan mengidentifikasi kepada sang aktor, dan sudah mulai melihat sesuatu dari perspektif lain. Telaah-telaah di atas merupakan bukti yang bagus bahwa pengaruh aktor-pengamat dapat dihasilkan semata-mata melalui titik pandangan berbeda yang dimiliki actor dan pengamat. Apakah hal ini membuat hipotesis informasi- berlainan menjadi tidak sah? Mungkin tidak. Boleh jadi, masing-masing menjadi lebih penting dalam kondisi yang berlainan. Umumnya, jika faktor historik atau keadaan intern merupakan penentu utama, perilaku, maka para aktor mungkin akan menjadi atributor yang lebih akurat. Akan tetapi, jika perilaku itu sendiri atau keadaan eksternnya menonjol, maka teori perbedaan-perspektif akan lebih sesuai untuk perbedaan atribusi di antara aktor dan pengamat.

KEKELIRUAN ATRIBUSI FUNDAMENTAL : AKTOR LAWAN PENGAMAT | ok-review | 4.5