JENIS PENYAKIT YANG DITIMBULKAN DARI ASAP ROKOK

By On Monday, November 11th, 2013 Categories : Kesehatan

Kebiasaan merokok telah terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit pada berbagai organ tubuh antara lain kanker saluran pernafasan hingga paru, kandung kemih, bronchitis kronik dan penyakit pembuluh darah. Dari sejumlah penyakit itu kematian terbesar terjadi karena kanker paru (87%) dan bronchitis kronik (82%). Selain itu kebiasaan merokok juga meningkatkan resiko terjadinya impotensi sebesar 50% pada pria berusia 30-40 tahun. (Kusmana, 2007). Dalam Fact Sheet dari California Air Resource Board (MacGregor, 2006) ditulis bahwa efek asap rokok terhadap kesehatan bayi dan anak-anak meliputi efek terhadap perkembangan tubuh yang dapat dilihat pertahun perkembangan anak dan efek terhadap saluran pernafasan pada anak-anak di California. Efek terhadap perkembangan tubuh akibat asap rokok adalah kematian pada bayi baru lahir, bayi lahir berat rendah dan bayi lahir premature, masing-masing sebanyak 21. 1.600, dan 4.700 kasus pertahun. Sedangkan efek terhadap saluran pernafasan anak-anak adalah adanya infeksi pada saluran nafas bawah akut seperti bronchitis, terjadinya asma pada anak, dan infeksi telinga tengah. Di Indonesia, lebih dari 43 juta anak hidup serumah dengan perokok dan terpapar pada asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan (ETS). The Jakarta Global Youth Survey melaporkan bahwa 84% dari anak-anak sekolah yang disurvei terpapar ETS di tempat-tempat umum. Anak-anak yang terpapar pada asap tembakau mengalami pertumbuhan paru yang iambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga tengah, meningokokal, menunrunnya fungsi paru, menignkatnya gejala asma dan asma itu sendiri, serta anemia karena oksigen yang masuk ke jaringan berkurang akibat lebih banyaknya kadar karbon monoksida dari asap rokok yang berikatan dengan hemoglobin. Kesehatan yang buruk di usia dini akan menyebabkan kesehatan yang buruk pula di saat dewasa. Saluran pernafasan terdiri dari selaput yang ditumbuhi silia (bulu) yang berfungsi menyalurkan debu yang terbawa nafas dan kemudian dengan reflek batuk dikeluarkan. Merokok melumpuhkan fungsi silia. Kebiasaan merokok akhirnya merubah bentuk jaringan saluran nafas dan fungsi pembersih menghilang, saluran membengkak dan menyempit atau menyumbat. Seseorang yang menunjukkan gejala batuk berat selama paling kurang 3 bulan pada setiap tahun berjalan selama dua tahun, dinyatakan mengidap bronchitis kronik. Hal ini terjadi pada separuh dari perokok diatas 40 tahun yang telah merokok selama masa mudanya. Bronkus yang melemah akan kolaps sehingga udara tidak bisa disalurkan dan alveoli (gelembung nafas) melebar menimbulkan emphysema paru. Komplikasi akibat  bronchitis dan emphysema adalah kematian yang terjadi 4-25 kali lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. (Kusmana, 2007) Menurut Zaini (2007), Efek yang ditimbulkan oleh asap rokok tergantung dari besarnya pajanan (terkait dosis/kadarnya di udara dan lama/waktu pajanan) dan juga factor kerentanan individu yang bersangkutan ( misal: efek buruk lebih mudah terjadi pada anak). Kerugian yang ditimbulkan akibat merokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih banyak saja orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik. Racun dan karsinogenik yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8 Р20 mg nikotin dan setelah dibakar nikotin yang masuk dalam sirkulasi darah hanya 25 persen. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia. Nikotin itu di terima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergic. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu system dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergic, zat ini akan mengaktifkan system adrenergic pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. Hal ini yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang, sehingga kemungkinan kembali merokok.
Kerusakan akibat reaksi oksidatif langsung pada komponen matriks paru seperti elastin dan kolagen yang disebabkan oleh radikal bebas dalam asap rokok. Sintesis elastin dan perbaikan sel dapat terhambat oleh asap rokok dan menyebabkan kerusakan proteolitik pada komponen matriks. Pada beberapa individu juga ditemukan rendahnya kadar antitripsin yang merupakan inhibitor protease termasuk elastase. Menurut Halliwell dan Gutteridge (2005), kadar N02 yang tinggi secara iangsung dapat menyebabkan kerusakan pada sel tipe I alveolus dan meninaktivasi antitrypsin. Salah satunya adalah elastase yang dilepaskan neutrofil yang teraktivasi. Jika elastase tidak diinhibisi akan terjadi hidrolisis banyak protein termasuk elastin dan kolagen. Elastin dan Kolagen merupakan salah satu unsure penyusun saluran pernafasan, sehingga jika terjadi kerusakan pada elastin dan kolagen maka menyebabkan terjadinya penyakit pada paru, seperti bronchitis, emfisema, dan infeksi saluran pernafasan. Selain itu perokok baik aktif maupun pasif cenderung mengalami kerusakan gen p53 yang melindungi tubuh dari kanker. Diduga bahan penyebab kanker yang berasal dari asap rokok melekat pada material sel genetic dan menonaktifkan gen p53, sehingga cenderung mengalami mutasi gen p53 dua kali lebih besar daripada bukan perokok. Pada perokok yang juga meminum alkohol resikonya menjadi tiga kali lipat. Selain itu merokok juga terbukti dapat merusak sperma dan dapat mewariskan kerusakan genetik dari orang tua kepada anaknya. Pada tikus jantan dipapar asap rokok selama 12 pekan kemudian diperiksa sel yang memproduksi sperma, ternyata terjadi mutasi 1,7 kali pada sel DNA tikus yang terpapar asap rokok dibanding tikus yang tidak terpapar asap rokok. Makin lama terjadi paparan asap rokok resiko mutasi DNA makin besar. (Rickert, Walker et all, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan DNA tergantung lamanya dan frekuensi paparan asap rokok, jadi semakin lama merokok (sejak muda sampai dewasa/tua) maka akumulasi mutasi makin besar dan dampaknya terhadap sperma juga makin luas. Hal ini di dukung oleh Wartemberg, Calle dkk (2000), asap rokok meningkatkan resiko terjadinya kanker paru, penyakit saluran pernafasan akut pada anak-anak, berkurangnya fungsi paru, meningkatnya resiko terkena infeksi saluran pernafasan bawah seperti pneumonia, juga menyakit jantung iskemik serta kanker payudara pada wanita.

JENIS PENYAKIT YANG DITIMBULKAN DARI ASAP ROKOK | ok-review | 4.5