INTERPRETASI KOGNITIF DAN ATRIBUSI

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Beberapa penulis (Miller & M. Ross, 1975; Nisbett & L. Ross, 1980) menyatakan bahwa distorsi yang bekerja sendiri mungkin dapat disebabkan oleh alasan kognitif, dan bukan alasan motivasional. Sebagai contoh, mungkin subjek dalam eksperimen ini sudah lebih terbiasa memperoleh keberhasilan daripada kegagalan (sebagai murid SMA dan mahasiswa perguruan tinggi selalu mendapat nilai baik) dan karena itu merasa kaget ketika menghadapi kegagalan. Pengalaman yang konsisten dengan pengalaman masa lalu akan menjurus kepada atribusi intern: Jika saya selalu bekerja demikian, maka kerja terakhir saya pasti berhubungan dengan sesuatu tentang saya; oleh karenanya, keberhasilan yang saya capai pastilah disebabkan penyebab intern. Sebaliknya, jika apa yang saya kerjakan bersumber dari apa yang saya harapkan dari pengalaman masa lalu, pastilah hal ini disebabkan situasi yang baru; oleh karena itu, kegagalan yang saya alami pastilah diakibatkan penyebab situasional. Menurut Kelley, keberhasilan akan merupakan informasi yang konsistensinya tinggi dan menimbulkan atribusi intern. Kegagalan yang merupakan informasi dengan konsistensi rendah, akan menimbulkan atribusi ekstern. Orang dapat memperlihatkan pola atribusi yang kelihatannya bekerja sendiri, akan tetapi semata-mata dibuat berdasar alasan kognitif, tanpa perluasan, ego sebagai faktornya.
Masalah dalam argumentasi yang dikemukakan ini ialah bahwa kebanyakan orang tidak memiliki pengalaman keberhasilan yang universal sifatnya. Penilaian mereka terhadap keberhasilan mereka biasanya ditentukan oleh beberapa tingkat aspirasi subjektif, dan bukan oleh standar yang mutlak. Contohnya, mahasiswa perguruan tinggi biasanya memandang nilai 5 atau 6 tidak sebagai pengalaman keberhasilan meskipun dengan angka tersebut mereka dapat lulus. Bahkan ada yang merasa kecewa mendapat nilai Orang pada umumnya memiliki berbagai pengalaman yang mereka anggap sebagai kegagalan, dan berdasar pengalaman masa lalu tersebut kita meragukan bahwa mereka akan berharap berhasil setiap saat. Yang kemudian menjadi masalah adalah – Apakah distorsi yang berjalan sendiri akan hilang bersama harapan akan keberhasilan dan kegagalan semacam itu yang selalu dipegang teguh, seperti dinyatakan oleh interpretasi kognitif ini? Sebuah eksperimen oleh Ross dan Sicoly (1979) telah mengujinya dengan cerdik. Pertama mereka memberikan tugas kepada para subjek untuk mengukur “pengetahuan sosial” mereka. Subjek dituntun agar percaya bahwa mereka berhasil atau gagal mengerjakan tugasnya. Pada titik rawan ini sebuah variasi diperkenalkan: yaitu, Seorang pengamat secara acak memberitahukan subjek bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang lebih besar atau lebih kecil terhadap hasil kerjanya. Maksudnya, pengamat memberitahu subjek bahwa hasil yang didapat lebih disebabkan oleh penyebab intern, atau oleh penyebab ekstern daripada yang dikemukakan subjek.
Apa pun hasilnya informasi baru ini sama-sama tidak diharapkan, karena ia berasal dari jumlah yang sama dari penilaian subjek yang sudah diekspresikan. Dengan demikian, pengharapan selalu dipegang secara konstan. Akhirnya, subjek ditanya sampai sejauh mana keakuratan umpan balik yang baru ini. Umpan balik yang memperbesar-ego (atribusi intern bagi keberhasilan, dan atribusi ekstern bagi kegagalan) dinilai jauh lebih akurat daripada umpan balik yang meremehkan-ego. Oleh karena itu, distorsi yang berjalan sendiri tetap ada meskipun pengharapan dipegang secara konstan.

INTERPRETASI KOGNITIF DAN ATRIBUSI | ok-review | 4.5