HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU SEJARAH DAN METODE HERMENEUTIK

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Filsafat

Filsafat, menurut Dilthey, bersifat esensial historis. Peristiwa sejarah telah menunjukkan bahwa jiwa (psyche) manusia dalam alur waktu dengan cara yang tidak kelihatan. Ini tidak mengherankan karena manusia adalah makhluk yang hidup dan berevolusi. Manusia tidak pernah bersifat statis. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu alamiah yang terisolasi dari totalitas yang bersifat hidup, bahkan perkembangan berikutnya dapat diramalkan dengan cara-cara metodis. Dilthey membedakan dengan tajam antara Naturwissen schaften atau ilmu pengetahuan¬† tentang alam dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologis, kimia, fisika dan ilmu-ilmu lainnya yang termasuk bidang ini serta semua jenis sains yang mempergunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen, termasuk dalam Naturwissenschaften. Sedangkan semua ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah, psikologi, filsafat, ilmu-ilmu sosial, seni, agama, kesusastraan dan ilmu-ilmu lain yang sejenis masuk dalam Geisteswissensschaften. Perbedaan keduanya sangat penting, tujuannya adalah bahwa pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan itu mempergunakan metode atau metodologi pembahasan yang berbeda satu sama lain. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang alam fisik mempergunakan metode ilmiah dan merupakan ilmu-ilmu pasti yang hasil penemuannya dapat dibuktikan dengan metode yang sangat ketat. Disisi lain, yang disebut “ilmu-ilmu pengetahuan tentang hiaup” tidak dapat diterapi metode-metode ilmiah seperti pada ilmu-ilmu eksakta sebab ilmu-ilmu ini berhubungan dengan hidup manusia. Dilthey menganjurkan kita mempergunakan hermeneutik, sebab hermeneutik adalah dasar dari Geisteswissenschaften, berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya, ia merasa perlu memiliki tipe memahami yang khusus. Meskipun orang dapat menyadari keadaan dirinya sendiri melalui ekspresi orang lain, namun orang masih dirasa perlu untuk membuat interpretasi atas ekspresi atau ungkapan tersebut. Dan hermeneutik hanya akan bekerja jika ekspresi atau ungkapan-ungkapan tersebut tidak asing atau sudah kita kenal. Eksegesis atau interpretasi akan sulit dilakukan jika ungkapan-ungkapan tentang kehidupan itu sama sekali asing. Jika ungkapan tentang hidup tidak mengandung sesuatu yang dirasa asing atau ganjil, maka hermeneutik tidak begitu perlu. Sebaliknya, jika ungkapan itu tidak mengandung sesuatu yang sudah terbiasa bagi kita, maka hermeneutik juga tidak mungkin dilakukan (Sumaryono, 1993). Hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah “berhenti satu masa” saja, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Jika demikian, maka interpretasi bagaikan benda cair, senantiasa berubah-ubah. Tidak akan pernah ada suatu konon atau hukum untuk interpretasi. Sejarah bangsa Indonesia tidak mungkin hanya akan ditulis satu kali dan berlaku untuk seterusnya, tetapi akan selalu ditulis kembali oleh setiap generasi. Mungkin yang disebut “masa-masa kelam” oleh sejarawan yang satu tidak akan disebut demikian oleh sejarawan yang lainnya pada generasi berikutnya, yang mungkin mempergunakan tolak ukur yang berbeda. Karya-karya sastra yang dikategorikan kedalam karya klasik tidak boleh hanya diinterpretasi secara klasik saja. Tidak ada salahnya kita mencoba membuat interpretasi ulang terhadap karya-karya Plato pada masa sekarang ini. Demikian juga tentang karya-karya Shakespeare ataupun Revolusi Perancis. Ada kemungkinan pandangan dan penemuan baru tentang isi naskah-naskah klasik justru sangat relevan untuk jaman kita sekarang ini. Peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses :
1. Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli.
2. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah.
3. Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup.
Namun, proses tiga tahap pemahaman itu sendiri tidak berlaku untuk metode ilmiah. Alasannya adalah karena untuk memahami atau mencerna sudut pandang pelaku asli dalam sejarah, kita harus memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi atau cara mengenai orang atau masyarakat. Untuk dapat menilai akibat tindakan seseorang terhadap yang lain, kita harus menggunakan beberapa bentuk eksplorasi atau penjajagan yang tidak harus mengikuti skema yang berhubungan dengan objek. Sebagai contoh misalnya: bagi kita kiranya cukup mudah untuk menentukan akibatnya naiknya harga BBM terhadap situasi ekonomi. Tetapi melacak akibat yang timbul karena keputusan sepihak yang dikeluarkan oleh seorang penguasa, kiranya cukup sulit. Apalagi kalau penguasa tersebut mempunyai agenda yang bersifat tertutup atau dirahasiakan. Jadi, pemahaman dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah merupakan tugas yang mudah untuk dilaksanakan (Sumaryono, 1993). Antara ilmu sejarah dan filsafat tidak dapat dipisahkan. Oleh karena seluruh pengetahuan insani memang bersifat suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan cabang-cabangnya dengan mutlak, walaupun untuk praktek dibutuhkan spesialisasi yang berdasarkan objek khusus dari segenap cabang dan metode penyelidikan yang sesuai dengan objek itu. Karena objek ilmu sejarah meliputi seluruh kehidupan insani (pemikirannya, kehidupan psikis maupun biologisnya), maka jelaslah harus dibantu oleh hasil-hasil dari berbagai pengetahuan lain (diantaranya filsafat), bahkan ahli sejarah sendiri dapat memperoleh suatu keahlian terbatas dalam cabang-cabang ilmu itu (semakin banyak semakin baik). Hal ini tidak menimbulkan persoalan. Persoalan baru mulai kalau ahli ini membangun teori-teori atau angan- angan saja yang tidak berpangkal atas data sejatah atau yang memaksa data itu untuk menyesuaikan diri dengan teori-teori tadi. Hubungan antara-ilmu sejarah dan filsafat ilmu terletak pada permasalahan bahwa apabila ada masalah dari ilmu sejarah yang sulit dipecahkan, maka hal itu menjadi bahasan dari filsafat ilmu, karena itu filsafat ilmu adalah cabang dari filsafat yang membahas permasalahan-permasalahan ilmu yang sulit untuk dipecahkan. Meskipun ilmu sejarah berkembang dengan pesat, namun masih ada masalah-masalah yang tidak dapat dijawab sendiri. Filsafat berhenti pada saat ilmu mulai, dan filsafat ilmu mulai pada saat ilmu berhenti (Beeriing, 1966). Sejarawan membuat interpretasi ber-dasarkan data yang tersedia, jadi tidak satupun sejarawan yang gagasan sepenuhnya objektif. Setiap sejarawan mempunyai persepektif tertentu dan karya-karyanya juga diwarnai oleh persepektif ini. Tidak ada satu interpretasipun yang sifatnya “bebas pengandaian”. Setiap sejarawan selalu menyibukkan diri dengan tempat tertentu dalam ruang dan waktu dan dalam kesibukannya itu ia dipengaruhi oleh Zeitgeist atau semangat yang terdapat dalam kurun waktu tertentu. Ada kemungkinan seorang sejarawan menganut ideologi tertentu yang digunakannya sebagai kerangka berpikirnya dalam menulis sejarah. Jadi, seorang sejarawan dapat menjadi seorang Marxist karena menginterpretasikan sejarah berdasarkan gagasan-gagasan Marx; atau ia menjadi seorang Kristen dan melihat jejak Kristus mengiringi setiap peristiwa di dalam sejarah; atau ia menjadi pengikut Hegel karena melihat setiap peristiwa-peristiwa sejarah bersifat rasional. Karena itu, bila kita membaca sejarah, kewajiban kita adalah “menyusun balik” kerangka yang dibuat oleh sejararawan dengan maksud supaya peristiwa-peristiwa dapat dilihat kembali sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Metode atau proses semacam inilah yang disebut hermeneutik. Dunia sejarah atau dunia sosial tidaklah bisa seperti alam. Kita memahami dunia sejarah atau dunia sosial dari dalam, seperti kita mengamati diri kita sendiri. Kita tidak hanya melihatnya hanya dari aspek luarnya saja. Jadi kita bukan sekedar penonton saja, sebab masa lalu yang kita lacak kembali juga terdiri dari masa lalu kita sendiri, inilah kehidupan kita yang sebenarnya

HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU SEJARAH DAN METODE HERMENEUTIK | ok-review | 4.5