GANJARAN, HUKUMAN, DAN ANCAMAN

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Salah satu cara untuk menimbulkan ketaatan adalah dengan meningkatan tekanan terhadap individu untuk menampilkan perilaku yang diinginkan melalui ganjaran, hukuman, atau ancaman. Semua itu merupakan insentif pokok untuk mengubah perilaku seseorang. Orang tua yang ingin agar anak gadisnya tidak merokok sering menggunakan ancaman. Dia mengancam tidak akan mengijinkan anaknya menonton acara televisi kesenangannya, tidak memberikan uang saku, atau memukulnya bila dia tidak taat. Mungkin dia akan memberikan salah satu hukuman tersebut bila acaknya tidak taat. Atau, mungkin dia akan memberikan uang dan menjanjikan uang saku yang lebih besar atau televisi baru bila anaknya taat. Metode-metode ini ganjaran, hukuman, ancaman dapat digunakan. Orang yang berjerawat akan lebih bersedia tampil untuk iklan krim kulit di televisi dengan wajahnya yang buruk itu bila diberi Rp. 10.000.000,— daripada orang yang hanya diberi Rp. 1.000,—. Orang yang diberitahu bahwa kokain dapat menyebabkan kerusakan otak akan lebih berusaha menghindarinya daripada orang yang diberitahu bahwa kokain akan menimbulkan insomnia (dengan asumsi bahwa mereka mempercayai pemberitahuan itu). Dalam batas-batas tertentu, semakin besar ganjaran, ancaman, atau hukuman, semakin besar ketaatan yang akan timbul. Ketaatan juga dapat dipengaruhi melalui peniruan dan imitasi. Seperti perilaku yang lain, individu cenderung melakukan apa yang mereka lihat dilakukan oleh orang lain. Bila seseorang bertindak agresif, orang lain juga akan cenderung menjadi lebih agresif. Efek yang sama terjadi juga pada ketaatan. Bila individu melihat bahwa orang tidak taat, dia cenderung akan menjadi kurang taat. Efek ini diperlihatkan oleh Bryan dan Test (1967), Grusec dan Skubiski (1970), dan lain-lain. Namun, setidak-tidaknya pada ketaatan, efek peniruan tampaknya agak terbatas. Grusec dan Skubiski (1970) menunjukkan bahwa, agar efektif, model harus benar-benar menampilkan perilaku tersebut dan tidak hanya sekedar mengatakannya. Situasinya sedemikian rupa sehingga subjek memberikan ganjaran atau tidak memberikannya. Ada tiga kondisi—tanpa model, ada model yang mengatakan bahwa dia akan memberikan ganjaran tetapi tidak benar-benar melakukannya, dan ada model yang betul-betul memberikan ganjaran. Beberapa subjek yang menyaksikan model yang memberikan ganjaran akan lebih cenderung membagikan ganjarannya sendiri daripada subjek yang berada dalam situasi tanpa model. Tetapi mereka yang hanya mendengar seorang model mengatakan bahwa dia akan memberikan ganjaran tidak menampilkan ketaatan yang lebih besar dibandingkan mereka yang berada dalam situasi tanpa model. Dengan kata lain, seperti yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tampaknya bukan apa yang dikatakan oleh model yang menimbulkan pengaruh, tetapi apa yang dilakukannya.
Kasus yang menarik mengenai penggunaan ganjaran adalah apa yang disebut Efek Hawthorne. Salah satu cara yang paling efektif untuk menekan agar orang bersedia melakukan sesuatu’ adalah dengan menunjukkan pada mereka bahwa kita sangat memperhatikan mereka dan sangat mengharapkan mereka melakukan hal itu. Penelitian yang dilakukan di pabrik Hawthorne Western Electric Company, yang telah disebutkan sebelumnya (Homans, 1965), menun-jukkan kekuatan prinsip ini. Tujuan semula dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh berbagai kondisi kerja terhadap tingkat hasil kerja. Enam wanita dari sebuah departemen yang besar dipilih sebagai subjek, dan eksperimen itu dilakukan selama lebih dari satu tahun. Para wanita itu, yang pekerjaannya merakit pemancar telepon dibiarkan bekerja di departemen mereka seperti biasanya selama dua minggu (periode pertama) untuk mengukur tingkat hasil kerja mereka yang biasanya. Mereka termasuk pekerja yang biasa. Setelah periode awal ini, mereka dipindahkan dari departemen tersebut dan ditempatkan di ruangan khusus yang serupa dengan ruang perakitan utama, tetapi di ruangan itu disiapkan metode untuk mengukur hasil kerja setiap orang. Selama lima minggu berikutnya (periode kedua), tidak dilakukan perubahan kondisi kerja. Selama periode ketiga, metode pemberian upah diubah. Upah mereka yang semula bergantung pada jumlah hasil kerja seluruh departemen (terdiri dari 100 pekerja); sekarang hanya bergantung pada hasil kerja keenam wanita itu saja. Selama periode penelitian yang keempat, diberikan kesempatan istirahat selama lima menit dalam jadwal kerja mereka satu di pagi hari, dan satu di siang hari. Dalam periode kelima, waktu istirahat ditambah menjadi 10 menit. Dalam periode keenam, dibuat enam kali waktu istirahat, masing-masing lima menit. Dalam periode ketujuh, perusahaan memberikan makan siang ringan bagi para pekerja itu. Selama tiga periode berikutnya, pekerjaan dihentikan lebih awal setengah jam lebih awal setiap hari. Dalam periode kesebelas, hari kerja dibuat menjadi lima hari seminggu. Terakhir, dalam periode penelitian yang kedua belas, semua kondisi kerja dikembalikan sehingga situasinya serupa dengan kondisi awal. Dari sudut pandang peneliti, eksperimen ini tampaknya merupakan cara ilmiah yang baik untuk menguji pengaruh berbagai kondisi kerja. Diduga, tingkat kerja akan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tersebut sehingga dapat ditentukan mana yang menunjang dan mana yang mengganggu pekerjaan. Namun, hasilnya tidak seperti apa yang di¬harapkan oleh perusahaan. Tanpa memperhatikan bentuk kondisinya, apakah periode istirahatnya lebih singkat atau lebih lama, apakah hari kerjanya lebih singkat atau lebih lama, setiap periode eksperimen menunjukkan hasil kerja yang lebih tinggi dibandingkan hasil kerja sebelumnya para wanita itu bekerja lebih keras dan lebih efisien.
Meskipun pengaruh ini mungkin ditimbulkan oleh beberapa faktor, yang paling penting diperhatikan adalah bahwa para wanita itu merasa diistimewakan, bahwa mereka diperlakukan secara khusus, bahwa mereka berada dalam eksperimen yang menarik, dan mereka diharapkan tampil sebaik mungkin. Mereka merasa senang, banyak perhatian dicurahkan kepada mereka, dan mereka rela melakukan apa yang me nurut mereka diharapkan oleh peneliti (majikan). Mereka mengetahui bahwa ukuran utama pekerjaan mereka adalah tingkat produktivitas, dan mereka mengetahui bahwa hal itulah yang diawasi. Tidak jadi soal perubahan apa yang ditimbulkan. Mereka senantiasa beranggapan bahwa perubahan itu dilakukan dengan maksud baik, dan mereka diharapkan meningkatkan pekerjaan mereka. Oleh sebab itu. mereka bekerja lebih keras. Setiap perubahan merangsang mereka untuk bekerja lebih giat. Peningkatan hasil kerja yang disebabkan oleh adanya perhatian yang lebih besar yang dikaitkan dengan perasaan terlibat dalam suatu eksperimen disebut efek Hawthorne. Efek inilah yang mungkin menimbulkan kerelaan yang lebih besar terhadap keinginan peneliti dalam berbagai eksperimen psikologi sosial. Peneliti itu ramah, berdedikasi, dan bercakap-cakap secara pribadi dengan subjek untuk memberitahukan apa yang ‘diinginkannya dari mereka. Subjek menyerahkan diri pada peneliti, merasa bahwa peneliti mengharapkan mereka mau menampilkan tindakan-tindakan tertentu, memberikan perhatian yang begitu besar kepada mereka, dan merasa sulit untuk menolak permintaan apa pun, bahkan yang kelihatannya tidak masuk akal. Mereka merasa diwajibkan peneliti dan karena itu ingin membantu.

GANJARAN, HUKUMAN, DAN ANCAMAN | ok-review | 4.5