EPIDEMIOLOGI LEPTOSPIROSIS

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Kesehatan

Angka kejadian penyakit leptospirosis sebenarnya sulit diketahui. Dikenal pertama kali sebagai penyakit occupational pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit kuning berat, disertai demam, perdarahan, dan gangguan ginjal. Sedangkan Inada mengidentifikasikan penyakit ini di Jepang pada tahun 1916. (Bodner, Elizabeth M, 2005). Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor risiko tinggi tertular penyakit okupasi ini. Angka kejadian penyakit tergantung musim. Insidensi pada negara beriklim hangaHebih tinggi dari negara yang beriklim sedang, kondisi ini disebabkan masa hidup leptospira yang lebih panjang dalam lingkungan yang hangat dan kondisi lembab. Kebanyakan negara-negara tropis merupakan negara berkembang, dimana terdapat kesempatan lebih besar pada manusia untuk terpapar dengan hewan yang terinfeksi. Penyakit ini di daerah yang beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur karena temperatur adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptospira, sedangkan di daerah tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan.  Penemuan kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unreported dan underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala ringan, self limited, salah diagnosis dan nonfatal. Di Amerika Serikat sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai. Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali. Beberapa tahun terakhir di daerah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembang biak di daerah pesisir pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan. Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%. Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori ini. Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus.
Kelompok yang berisiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual binatang, bidang agrikultur, rumah jagal, buruh dan tukang susu. Tiga pola epidemiologi leptospirosis didefinisikan oleh Faine S (1999): pertama; ditemukan dalam iklim sedang dimana sejumlah kecil serovar terlibat dan penularan pada manusia hampir selalu terjadi akibat kontak langsung dengan binatang yang terinfeksi di peternakan sapi atau babi; kedua; dijumpai di daerah tropik yang basah, dimana lebih banyak lagi serovar yang menginfeksi manusia dan hewan serta sejumlah besar spesies reservoir. Manusia terpapar tidak terbatas pada pekerjaan, tetapi lebih sering disebabkan oleh kontaminasi yang tersebar luas dilingkungan, khususnya selama musim hujan. Kontrol populasi hewan pengerat, drainase pada area yang basah dan hygiene pekerjaan menjadi penting untuk pencegahan leptospirosis pada manusia; ketiga; infeksi oleh hewan pengerat pada lingkungan urban yang menyebabkan outbreak di daerah kumuh pada negara berkembang.

EPIDEMIOLOGI LEPTOSPIROSIS | ok-review | 4.5