DIMENSI SEBAB-AKIBAT

By On Friday, November 29th, 2013 Categories : Psikologi

Dimensi sebab-akibat (causalitas) kedua ialah apakah penyebabnya stabil atau tidak stabil. {Maksudnya, kita harus tahu apakah penyebab tersebut merupakan bagian menarik yang relatif permanen dari lingkungan ekstern atau pembawaan intern orang itu. Ada beberapa penyebab ekstern yang cukup stabil seperti peraturan dan undang-undang (larangan untuk menjalankan kendaraan pada waktu lampu merah menyala, atau larangan menyakiti lengan pelempar bola baseball yang cakap di pihak lawan), peranan jabatan (profesor harus memberikan kuliah dari tahun ke tahun), atau tahap kesulitan tugas tertentu (sukar sekali memukul bola yang dipelintir, dan mudah sekali membuat tertawa anak perempuan kita dengan menggelitiknya).
Beberapa penybab bersifat tidak stabil: cuaca banyak sekali mempengaruhi apakah kita akan berbelanja di malam minggu atau tinggal di rumah membaca buku, namun cuaca itu banyak sekali ragamnya. Adakalanya tendangan bola dapat dikendalikan, namun adakalanya lebih mudah menendang tanpa arah.Itu berarti bahwa keberhasilan seorang pemain bola tergantung dari penyebab ekstern yang tidak stabil. Tugas dan jabatan tertentu memiliki berbagai tuntutan ekstern atas pemegang tugas atau jabatan tersebut. Seseorang yang menjadi jendral akan mempunyai kekuatan ekstern yang berbeda pada masa perang dibandingkan pada masa damai, dan bahkan tuntutan yang jauh berbeda di berbagai sektor peperangan. Penyebab intern dapat bersifat stabil maupun tidak stabil. Pelawak Amerika, Woddy Allen, selalu mampu melucu; bakatnya untuk membuat humor selalu stabil. Sebaliknya, Hamlet termashur karena ketidakstabilannya dalam memutuskan tindakan apa yang harus diambilnya terhadap ayah tirinya. Beberapa pemain tenis menjadi legenda karenaggp, permainannya yang indah namun akhirnya ter-dampar di daerah miskin; secara rata-rata mereka memang berbakat, namun bakat tersebut nampaknya tidak stabil. Dengan kata lain, penyebab dapat terdiri atas berbagai kombinasi dari kedua dimensi tersebut. Sebuah gambar tipologi Weiner mengenai penugasan hasil sederhana.
TEMPAT SEBAB-AKIBAT Masalah pokok paling umum dalam persepsi sebab-akibat adalah menentukan apakah suatu tindakan tertentu menurut kesimpulan Anda disebabkan keadaan intern atau kekuatan ekstern. Maksudnya, apakah “tempat sebab-akibat?” Misalnya Anda minta kepada wanita muda yang duduk di samping Anda di ruang kuliah untuk nonton bersama akhir minggu ini, tetapi ia menolak karena minggu ini ia sibuk sekali. Apakah inti “Sebenarnya” dari penolakannya tersebut? Hal itu mungkin disebabkan karena beberapa keadaan intern, seperti misalnya dia tidak tertarik kepada Anda, atau dia lebih tertarik mengerjakan hal lain. Atau bisa juga dikarenakan faktor ekstern seperti, misalnya dia memang benar-benar mempunyai tugas lain. Atribusi intern mencakup semita penyebab intern seseorang seperti keadaan hati, sikap, ciri kepribadian, kemampuan, kesehatan, preferensi, atau keinginan. Atribusi ekstern akan mencakup semua penyebab ekstern seseorang seperti tekanan orang lain, uang, sifat situasi sosial, cuaca, dan seterusnya. Jadi, apakah wanita muda tadi benar-benar sibuk (atribusi ekstern), atau apakah dia baru saja memutuskan bahwa dia tidak tertarik berkencan de¬ngan Anda (Atribusi intern)?
Seorang mahasiswa yang gagal dalam satu mata kuliah ingin mengetahui apakah hal itu disebabkan karena dia memang kurang cakap atau karena kurang belajar (sebab-akibat intern), atau karena sang profesor memberikan kuliah yang meragukan, buku teksnya terlampau sulit, atau ujiannya berlangsung tidak adil (sebab-akibat ekstern). Pada pertemuan dewan sekolah, konvensi akademik, ruang pengadilan, dan gedung legislatif telah terjadi perdebatan sengit tentang apakah anak-anak kulit hitam kurang berhasil daripada anak kulit putih karena adanya rasa rendah diri sebagai bawaan sejak lahir atau karena motivasi rendah (sebab-akibat intern) atau karena diskriminasi rasial, guru kulit putih kelas-menengah yang kurang peka, fasilitas rendah diri, dan kelompok setingkat yang tidak memberikan rangsangan (sebab-akibat ekstern). Jadi, yang jadi masalah utama ialah apakah harus dibuat kesimpulan intern atau kesimpulan ekstern terhadap perilaku pemberi stimulus. Pengambilan kesimpulan ekstern menguraikan sebab-akibat kepada segala sesuatu yang berada di luar orang tersebut seperti lingkungan umum, orang yang diajak berinteraksi, peranan yang dipaksakan, kemungkinan mendapat hadiah atau hukuman, keberuntungan, sifat khusus tugas, dan selanjutnya. Penyebab intern mencakup ciri kepribadian, motif, emosi, keadaan hati, sikap, kemampuan, dan usaha.

DIMENSI SEBAB-AKIBAT | ok-review | 4.5