DILEMA NARAPIDANA

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Kecenderungan untuk bersaing tidak hanya disebabkan oleh adanya ciri unik permainan truk. Kecenderungan ini juga terjadi pada permainan lain, seperti dilema narapidana. Disebut demikian karena permainan didasarkan pada masalah yang dihadapi dua orang tersangka di kantor polisi. Petugas keamanan berpendapat bahwa kedua tersangka melakukan kejahatan besar secara bersama-sama, tetapi tidak mempunyai bukti untuk menuduh mereka. Keduanya ditempatkan di ruangan yang terpisah, dan diberitahu bahwa mereka mempunyai dua alternatif: mengaku atau menyangkal. Bila tidak ada yang mengaku, mereka tidak dapat dituduh melakukan kejahatan besar itu. Tetapi petugas keamanan itu memberitahu bahwa mereka bisa dituduh melakukan kejahatan ringan, dan keduanya akan menerima hukuman ringan. Bila keduanya mengaku, tuduhan kejahatan berat akan ditimpakan pada mereka. Tetapi petugas keamanan itu mengatakan bahwa dia akan mengajukan permohonan kelonggaran. Bila salah seorang di antara mereka menerima tuduhan, dan yang lain menyangkal, orang yang menerima tuduhan akan dibebaskan dan tersangka yang lain akan menerima hukuman maksimum. Jelas, terjadi konflik di sini. Dengan anggapan bahwa rekannya akan mengakui tuduhan itu, seorang tersangka juga akan mengakuinya; di lain pihak, hasil terbaik akan diperoleh kedua tersangka bila keduanya bersama-sama menyangkal, sehingga mereka hanya menerima hukuman ringan. Jadi, bila kedua tersangka saling mempercayai satu sama lain, mereka tidak akan mengaku. Namun, biia salah seorang tersangka yakin bahwa pasangannya tidak akan mengakui tuduhan, hal pertama yang akan dilakukannya adalah hal yang lebih baik bagi dirinya, yaitu mengakui tuduhan dan dengan demikian dia akan dibebaskan.
Kita tidak tahu apa yang sesungguhnya dilakukan oleh kedua narapidana bila menghadapi situasi ini. Dalam penelitian tentang masalah ini, banyak hal yang diubah tetapi pada dasarnya permainan ini serupa. Subjek penelitian tidak hanya bermain untuk mendapatkan kebebasan tetapi juga nilai atau uang. Meskipun dalam permainan ini para peserta saling berpasangan biasanya mereka tidak diijinkan untuk berbicara satu sama lain. Kepada setiap pemain diberikan dua strategi sebagai pilihan, dan hasil akhir permainan bergantung pada apa yang dilakukan oleh salah seorang pemain maupun apa yang dilakukan oleh pemain lain.
Ada berbagai bentuk pola hasil menunjukkan pola untuk dua pemain, Anton dan Budi. Bila kedua pemain memilih alternatif X, masing-masing mendapat 10 angka. Jika Anton memilih X, dan Budi memilih Y, Anton kehilangan 15 angka dari Budi mendapat 15 angka. Bila keduanya memilih Y, mereka sama-sama kehilangan 5 angka. Dengan kata lain, mereka bisa bekerja sama (dengan memilih X) dan keduanya mendapat tambahan angka, atau bisa juga mereka bersaing (salah seorang atau keduanya memilih Y) dan berusaha mendapatkan angka sebanyak mungkin tetapi dengan risiko kalah. Kedua pemain diberitahu bahwa tujuannya adalah mendapatkan nilai sebanyak mungkin. Jelas, cara terbaik bagi mereka untuk mendapatkan nilai tertinggi adalah dengan sama-sama X (pilihan koperatif) pada setiap babak. Tetapi, sama halnya dengan apa yang terjadi pada permainan truk, terdapat kecenderungan yang kuat untuk bersaing. Dalam suatu permainan yang khas, hanya sekitar sepertiganya yang menghasilkan pilihan koperatif. Tambahan pula, pada saat permainan terus berlangsung (dan biasanya para pemain mendapatkan jumlah nilai yang kecil), jumlah pilihan koperatif semakin sedikit. Kedua pemain semakin sering memilih strategi kompetitif, meskipun pada kenyataannya mereka mengetahui bahwa dengan bekerja sama mereka akan mendapatkan lebih banyak angka. Salah satu faktor dalam perilaku kompetitif adalah bahwa pada setiap kali permainan, pilihan kompetitif memiliki keuntungan jangka pendek. Bila Anton memilih strategi koperatif, hasil yang dia peroleh bergantung pada apa yang dilakukan Budi. Bila Budi memilih untuk bekerja sama, Anton akan menpatkan nilai 10; bila Budi memilih untuk bersaing, Anton akan kehilangan nilai 15. Jika Anton memilih cara persaingan, sekali lagi hasil akhirnya tergantung pada Budi. Kalau Budi memutuskan untuk bekerja sama, Anton akan mendapatkan nilai 15; kalau Budi memilih untuk bekerja sama, Anton akan memperoleh nilai 15 dan bukan 10; bila Budi memutuskan untuk bersaing, Anton akan kehilangan 5 angka dan bukan 15 angka. Dilema ini berlangsung sepanjang permainan tersebut, Anton akan memperoleh hasil yang jauh lebih baik bila dia dan Budi setuju untuk bekerja sama. Mereka akan memperoleh kemenangan di sepanjang permainan dan bukannya menang di beberapa babak lalu kalah di babak yang lain. Cara ini akan menghasilkan hasil individual mereka, oleh karena itu merupakan strategi yang paling rasional. Satu-satunya keuntungan dari pilihan kompetitif adalah bahwa salah seorang pemain akan memperoleh nilai yang lebih besar daripada pemain lain, meskipun nilai itu lebih rendah dibandingkan nilai yang akan diperoleh bila mereka bekerja sama. Ketika subjek penelitian ini ditanya tentang alasan-alasan mereka berperilaku demikian, kebanyakan di antara mereka menjawab bahwa mereka ingin “mengalahkan” pemain lain. Hal ini terjadi meskipun peneliti menyatakan bahwa tujuan permainan terbut adalah mendapatkan angka sebanyak mungkin.

DILEMA NARAPIDANA | ok-review | 4.5