DEFINISI SIKAP

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Mengapa seseorang memutuskan bahwa pasta gigi yang satu dianggap paling baik atau bahwa rokok yang diisap itu berbahaya? Apa yang menentukan bahwa seseorang akan mengubah pikirannya atau tidak tentang pasta gigi atau rokok?  Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi dasar pembahasan ekstensif tentang pembentukan dan perubahan sikap, yang menjadi inti psikologi sosial di Amerika selama beberapa tahun. Pada tahun 1937, dalam naskah pertama yang terutama dikemukakan berkenaan dengan penelitian eksperimental dalam psikologi sosial, Murphy, Murphy dan Newcomb menulis: “Mungkin tidak ada konsep tunggal dalam keseluruhan bidang psikologi sosial yang lebih mendekati posisi sentral ketimbang konsep tentang sikap” (hal. 889). Meskipun minat terhadap masalah itu mungkin berkurang dan menurun di tahun-tahun terakhir ini, para ahli psikologi sosial telah mencurahkan lebih banyak waktunya selama 50 tahun terkahir ini untuk menelaah sikap dibandingkan dengan waktu yang dihabiskannya untuk mempelajari topik lain.  Definisi tradisional tentang sikap berisikan gambaran yang sedikit berbeda mengenai sikap atau menekankan aspek yang sedikit berbeda. G. W. Allport (1935) me ngemu kak an bahwa “sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau texarak terhadap respons individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya”. Karena “definisi ini sangat dipengaruhi oleh tradisi tentang belajar, juga ditekankan bagaimana pengalaman masa lalu membentuk sikap. Dengan alasan yang sama, sikap terutama digambarkan sebagai kesiapan untuk selalu menanggapi dengan cara tertentu dan menekankan implikasi perilakunya. Sebaliknya, Krech dan Crutchfield yang sangat mendukung perspektif kognitif,, mendefinisikan sikap sebagai “organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai beberapa aspek dunia individu.” Perhatikanlah bahwa mereka mengabaikan beberapa petunjuk tentang asal mula sikap dan lebih menekankan pengalaman subjektif di masa sekarang. Perhatikan juga bahwa mereka menekankan organisasi; mereka memandang seseorang sebagai organisme yang dapat berfikir dan terstruktur secara aktif. Dan akhirnya, perhatikan bahwa tidak ada tekanan tentang perilaku yang nampak. Pandangan kognitif menekankan pengalaman subjektif seseorang.
Dewasa ini, definisi yang paling umum menggabungkan unsur-unsur dari kedua pendekatan itu. Sikap terhadap objek, gagasan atau orang tertentu merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen-komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Komponen kognitif terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu—fakta, pengetahuan, dan keyakinan tentang objek.  Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilaian Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek. Cobalah mengamati sikap mahasiswa terhadap senjata nuklir. Komponen kognitif dapat meliputi beberapa informasi tentang ukurannya, cara pelepasannya, jumlah kepala nuklir pada setiap rudal, dan beberapa keyakinan tentang negara-negara yang mungkin memilikinya, daya hancurnya, dan kemungkinan penggunaannya. Komponen afektif meliputi perasaan seseorang yang dalam hal ini mungkin djdominasi oleh penilaian negatif yang kuat,’ yang mungkin disertai kekhawatiran atau ketakutan akan terjadinya penghancuran oleh nuklir. Komponen perilaku menunjukkan kecenderungan mahasiswa untuk bertindak terhadap senjata nuklir, seperti kecenderungan untuk menandatangani petisi dan mengadakan demonstrasi untuk menentang penyebaran rudal berkepala nuklir, menentang orang yang mendukung penggunaan rudal dan lain-lain.
Ini adalah definisi sikap yang paling dapat diterima para ahli psikologi sosial dewasa ini dan merupakan definisi yang kita gunakan di sini. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa setiap sikap terhadap objek tertentu memiliki tiga komponen atau aspek ini. Komponen-komponen ini dibedakan untuk ketepatan analitik karena ketiganya mengikuti prinsip yang agak berbeda. Komponen-komponen itu tidak selalu bersesuaian satu sama lain; tentu saja, pertanyaan-pertanyaan mengenai kesesuaian itu akan mengarah pada beberapa penelitiai yang amat menarik dalam bidang ini. Fokus keseluruhan sikap adalah objek sikap, yakni rokok. Di sekeliling objek adalah berbagai unsur yang dianggap relevan. Beberapa di antaranya adalah orang, seperti orang tua atau teman sekamar; yang lain adalah keadaan pribadi seperti bau badan; dan yang lainnya adalah sifat-sifat sederhana objek itu sendiri, seperti harga atau rasanya. Maka seluruh kelompok kognisi dan kaitannya dengan objek sikap yang utama merupakan komponen kognitif dari sikap. Selanjutnya adalah komponen afektif atau evaluatif. Unsur-unsur kognitif yang terpisah itu memiliki perasaan positif atau negatif yang berkaitan dengannya, demikian juga dengan objek sikap sentral tersebut. Penilaian tentang objek objen.yang berkaitan diperlihatkan dalam kotak. Perasaan negatif tentang merokok muncul dari ketidaksukaan teman sekamar dan orang tua terhadap rokok, bau dan rasanya yang tidak enak, dan perasaannya bahwa merokok itu berbahaya dan terlalu mahal. Tentu saja, dia menyukainya karena mempermudah belajar dan memberikan kelegaan Hari beberapa kegelisahan sosial. Komponen afeksi dari sikapnya terhadap objek sentral, merokok, menggabungkan penilaian dari seluruh kognisi yang terpisah. Dan dia memiliki penilaian negatif yang kuat terhadap rokok. Dia tidak suka dan takut terhadapnya. Hal ini diperlihatkan dalam diagram dengan tanda minus pada lingkaran tengah. Oleh sebab itu, komponen afeksi dari sikap dapat dinilai sebagai komponen yang terdiri dari seluruh afeksi terhadap objek sentral dan kognisi terpisah yang berkaitan dengan objek sikap yang dibicarakan.

DEFINISI SIKAP | ok-review | 4.5