CIRI-CIRI DASAR PERILAKU KELOMPOK

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Kita semua adalah anggota kelompok yang pengaruhnya sangat besar dalam hidup kita. Sebagian besar dari kita lahir di tengah-tengah keluarga dan melewatkan masa kanak-kanak kita melalui interaksi dengan orang tua dan saudara-saudara kandung. Ketika kita memberanikan diri untuk memasuki lingkungan sosial yang lebih be-sar, kita berhadapan dengan kelompok —mungkin kelompok bermainan sekitar rumah, kelas taman kanak-kanak, kelompok pramuka, atau kelompok di Gereja atau Mesjid. Sewaktu kita makin berkembang, kita bergabung dengan klub, klub olah raga, kelompok kerja, partai politik dan organisasi-organisasi lainnya. Kita akan mulai dengan memberikan definisi kelompok dan menelaah beberapa proses dasar interaksi kelompok yang mencakup komunikasi dan persaingan lawan kerja sama. Kemudian, kita akan membahas sifat kepemimpinan dalam kelompok, dan menggali produktivitas kelompok dan pengambilan keputusan. Kita akan mengakhirinya dengan pandangan sekilas tentang aspek yang secara potensial bersifat negatif dalam kehidupan deindividuasi dan wabah sosial.
Definisi Kelompok
Kita melewatkan waktu melalui beragam agregat sosial, yang merupakan istilah umum untuk sekelompok orang (McGrath, 1984). Di sini dikemukakan beberapa contoh jenis agregat sosial:
–          Agregat statistik: Untuk tujuan penelitian, kadang-kadang diperlukan pengelompokan untuk menganalisis seluruh anggota suatu kategori sosial tertentu, seperti semua yang berambut pirang, semua wanita, semua kepala rumah tangga yang tidak bekerja, atau semua orang yang berusia di atas 65 tahun. Semua anggota agregat statistik memiliki beberapa karakteristik umum, meskipun mungkin mereka tidak saling menge¬nal atau berinteraksi.
–          Audiens: Semua orang yang mendengarkan siaran berita pukul 06.30 di saluran 6 Jakarta dan sekitarnya adalah bagian dafi kelompok hadirin yang sama, meskipun mereka tidak saling mengetahui dan tidak berinteraksi.
–          Kerumunan (Crowd): Sekelompok orang yang berada dalam kedekatan fisik dan bereaksi terhadap stimulus atau situasi umum disebut kerumunan. Contohnya, para pengagum yang berkumpul di seputar ruang ganti seorang bintang rock, antrian orang di muka toko yang menunggu dibukanya acara penjualan khusus, atau orang yang berkumpul menyaksikan keributan di jalan.
–          Tim: Sekelompok orang yang secara teratur berinteraksi dalam kaitannya dengan aktivitas atau tujuan tertentu, seperti kelompok kerja, tim olah raga, klub bridge, merupakan suatu tim.
–          Keluarga: Sekalipun jenisnya banyak, pada hakikatnya keluarga terbentuk dari sekelompok orang yang diikat oleh hubungan kelahiran atau aturan hukum dan biasanya tinggal bersama di suatu tempat.
–          Organisasi formal: Merupakan agregat yang lebih besar dari orang-orang yang sering bekerja bersama-sama dengan cara yang terstruktur jelas dalam usaha mencapai tujuan bersama. Contohnya adalah sistem sekolah, gereja atau mesjid, partai politik nasional, “Sierra Club,” atau Asosiasi Menembak Nasional.
Dalam bahasa sehari-hari, biasanya kita menyebut ini sebagai kelompok (group). Tetapi ilmuwan sosial menggunakan istilah kelompok dalam pengertian yang lebih sempit, lebih tehnis. Kelompok adalah agregat sosial di mana anggota-anggota yang saling tergantung, dan setidak-tidaknya memiliki potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain. Dalam kebanyakan kelompok, anggota-anggotanya melakukan kontak tatap muka yang teratur. Definisi kelompok ini merupakan perluasan dari definisi dasar relasi interpersonal yang dikemukakan. Definisi itu menekankan ciri penting suatu kelompok, yaitu bahwa dengan berbagai cara anggotanya saling mempengaruhi satu sama lain. Berdasarkan definisi ini, suatu agregat statistik seperti para pemain sepak bola biasanya tidak merupakan kelompok, karena orang-orang dalam kategori tersebut tidak saling mengenal satu sama lain, tidak melakukan kontak tatap muka atau saling mempengaruhi. Anggota tim sepak bola Persib Bandung merupakan kelompok, karena secara teratur mereka berinteraksi dan tindakan mereka berpengaruh satu sama lain. Demikian juga dengan anak-anak yang menyaksikan acara “Cerita untuk anak” di televisi merupakan bagian dari pendengar umum tetapi mereka bukan kelompok. Namun, semua anak kelas dua SD Negeri II Jakarta yang mendengarkan gurunya membacakan suatu cerita adalah bagian dari suatu kelompok. Kelompok mempunyai keragaman dalam banyak hal: ukuran, lamanya, nilai-nilai, dan tujuan, serta ruang lingkup. Salah satu dimensi yang paling penting adalah ukuran. Kelompok yang terkecil adalah diad atau pasangan. Sebagian besar penelitian tentang kelompok memusatkan diri pada kelompok kecil yang berkisar antara 3 sampai 20 orang. Bila ukurannya bertambah besar, agregat sosial cenderung menjadi organisasi formal, dan mungkin tidak ada lagi keterlibatan pengetahuan dan interaksi di antara anggota-anggotanya. Untuk menekankan perbedaan antara kelompok dengan organisasi formal, beberapa peneliti lebih menyukai istilah “kelompok kecil” untuk unit sosial yang anggotanya melakukan interaksi tatap-muka. Kelompok bervariasi menurut lamanya, berapa lama kelompok tersebut berada bersama-sama. Keluarga dapat berlanjut sampai beberapa generasi, di mana anggota-anggota baru bergabung dengan kelompok ini melalui kelahiran atau pernikahan dan yang lain meninggalkannya melalui kematian atau perceraian. Anggota dewan hakim dapat bekerja bersama dalam beberapa hari
untuk membahas suatu kasus tertentu dan kemudian berpisah setelah pengadilan berakhir. Kelompok juga bervariasi dalam hal nilai dan tujuan. Perhatikanlah sejenak perbedaan di antara sebuah perkumpulan catur, kelompok pemuda lokal, Himpunan Mahasiswa, dan kelompok pengajian agama di kelas. Kelompok mana, bila ada, yang akan Anda masuki tergantung pada nilai-nilai pribadi, minat dan tujuan Anda sendiri. Besar atau ruang lingkup kegiatan yang ditunjukkan oleh satu kelompok merupakan dimensi lain yang penting. Ada kelompok yang terpusat pada satu masalah. Misalnya, sebagai reaksi terhadap pengajaran yang semakin tidak menyenangkan, mungkin sekelompok mahasiswa membentuk kelompok kerja untuk merumuskan beberapa alternatif dan mengajukannya pada pejabat universitas. Di sini, kelompok dibentuk untuk suatu tujuan khusus. Sebaliknya, kelompok seperti keluarga melakukan berbagai kegiatan yang beragam.
Penelitian tentang kelompok kecil kadang-kadang membahas kelompok yang terbentuk secara alami seperti keluarga, regu, atau kelompok kerja. Tetapi ada pula tradisi panjang tentang penelitian “kelompok buatan” (McGrath, 1984), kelompok yang dengan sengaja dibentuk peneliti. Dalam suatu penelitian khusus, beberapa kelompok orang asing (biasanya mahasiswa) ditempatkan bersama di suatu laboratorium selama beberapa jam untuk mengerjakan tugas pengambilan keputusan secara kelompok. Kita akan membahas hasil-hasil penelitian eksperimental, tentang kelompok di bagian lanjutan bab ini. Untuk saat ini, perlu diperhatikan bahwa kelompok yang terbentuk secara alami biasanya relatif menetap dan mempunyai ruang lingkup yang luas, sedangkan besar kelompok eksperimental tidak bersifat menetap dan mempunyai fokus yang sempit.

CIRI-CIRI DASAR PERILAKU KELOMPOK | ok-review | 4.5