CARA MENONJOL DALAM PERGAULAN

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Satu cara kita untuk menyederhanakan pemrosesan kognitif ialah dengan memberikan reaksi terlalu banyak kepada stimuli yang menonjol. Distorsi ini akan mengarahkan kita untuk mengamati stimuli yang paling menonjol sebagai suatu yang sangat berpengaruh. Jika sesuatu dalam keadaan bergerak, berwarna-warni, atau baru, kita mungkin melihatnya sebagai penyebab utama dari apa saja yang berubah di lingkungan itu. Orang yang berlari di jalan akan dilihat sebagai penyebab matinya sistem alarm di bank. Guntur yang menggelegar dipandang sebagai penyebab manusia mencari tempat berlindung. Wanita bergaun merah itu dianggap sebagai penyebab berpalingnya pandangan orang padanya. Kadang-kadang, stimuli yang paling menonjol dalam kenyataan merupakan penyebab paling kuat dari perilaku manusia, sehingga atribusi semacam itu kemudian menjadi akurat. Distorsi timbul karena stimuli yang paling menonjol dalam penglihatan, sering mendominasi penjelasan sebab-akibat, bahkan meskipun mereka bukan penyebab yang paling kuat.
Dengan mulus Taylor dan Fiske (1975) me- nguji gagasan ini: yakni, apa saja yang nampak menonjol akan terlihat sebagai penyebab yang dominan. Dua pasangannya, berlaku sebagai “aktor.” Mereka terlibat dalam sebuah percakapan sambil duduk berhadapan. Para subjek biasa merupakan “pengamat” yang duduk di belakang para pasangan atau di sebelah mereka. Oleh karena itu, setiap aktor mempunyai masing-masing pengamat yang duduk di belakang atau di hadapannya. Dengan sendirinya aktor dan perilakunya akan kelihatan lebih menonjol bagi mereka yang duduk di hadapannya dibanding mereka yang duduk di sebelah belakang. Namun kedua aktor tersebut harus sama-sama menonjol bagi para pengamat yang duduk bersebelahan dengan mereka dengan jarak yang sama jauh dari kedua aktor tadi.
Para pasangan melakukan percakapan yang sudah ditentukan selama lima menit, bersenda-gurau seakan-akan mereka baru saja bertemu. Mereka saling bertukar informasi tentang rencana kerja yang besar dan umum, kampung halaman, keluarga, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lainnya. Percakapan tadi dipantau secara teliti guna memastikan bahwa pada garis besarnya percakapan semacam itu juga ada pada semua kelompok eksperimental. Kemudian para subjek ditanyai tentang persepsi sebab-akibat mereka: Berapa banyak ma-sing-masing pasangan menekankan nada percakapan mereka, menentukan jenis informasi yang saling ditukarkan, dan mengakibatkan aktor lain berperilaku seperti yang dilakukannya? Di situ diperlihatkan bahwa seorang aktor yang terlihat lebih menonjol diberi peranan sebab-akibat dominan (sekutu yang berhadapan dengan subjek), dan aktor yang kurang menonjol (yang duduk di belakang sekutu) terlihat kurang berpengaruh. Para subjek yang jarak duduknya sama jauh dari kedua pasangan, akan memandang kedua pasangan itu sama-sama potensial. Jadi, aktor A kelihatan paling kuat oleh mereka yang duduk berhadapan dengannya (pengamat 1 dan 2), sedangkan aktor B terlihat paling kuat oleh mereka yang berhadapan dengannya (pengamat 3 dan 4) — meskipun dalam kenyataan semua subjek semata-mata melakukan interasi yang sama (dan salah satu yang diamati secara tepat merupakan pengamat yang tidak berprasangka berada pada nomor 5 dan 6 di tengah gambar).
Penemuan bahwa penonjolan yang terlihat menyebabkan peranan sebab-akibat seseorang berlebihan, nampaknya sudah menjadi hal yang umum. Untuk menunjukkan hal ini, McArthur dan Post (1977) memberikan video tape yang berisi percakapan kepada para subjek ketika dilakukan perkenalan, yang memanipulasikan penonjolan visual dari para aktor dalam berbagai cara. Dalam sebuah telaah, aktor yang menonjol itu disuruh duduk di bagian yang sinar lampunya terang, sedang aktor yang tidak menonjol disuruh duduk di bawah sinar temaram. Dalam percobaan lain, aktor yang menonjol disuruh duduk di kursi goyang sedang yang tidak menonjol disuruh duduk diam. Dalam telaah lain, aktor yang menonjol mengenakan kemeja yang polanya cemerlang dan bukan kemeja abu-abu yang suram, atau jenis kelaminnya berbeda daripada lawannya bercakap. Dalam semua kasus tersebut, perilaku aktor menonjol itu lebih diatribusikan kepada penyebab bawaan daripada perilaku aktor yang tidak menonjol. Robinson dan McAthur (1982) menemukan hal yang sama, yang menggunakan lebih banyak audio daripada penonjolan visual, yakni: Suara lebih keras di antara dua pembicara dipandang paling dominan menurut sebab-akibat, meskipun perbedaan keras suara hanyalah 75 sampai 70 desibel. Taylor dan rekan-rekannya (1979) menemukan hal yang sama bahkan dalam kondisi yang mereka anggap akan mengurangi pentingnya penonjolan, yakni: Jika pengamat merasa bimbang, jika kesan diberikan setelah dilakukan penundaan, jika percakapan itu sendiri sangat menarik, dan jika para pengamat tersebut terlibat di dalam perdebatan.

CARA MENONJOL DALAM PERGAULAN | ok-review | 4.5