CARA PENCEGAHAN LEPTOSPIROSIS SEBAGAI PENYAKIT PASCA BANJIR

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Kesehatan

Timbulnya permasalahan kesehatan masyarakat atau timbulnya kejadian penyakit salah satunya tergantung faktor perubahan lingkungan, khususnya banjir. Biasanya pasca banjir banyak genangan air kotor, banyak sampah, dan suplai air bersih menjadi tidak baik. Lingkungan yang kotor tersebut menyebabkan sarang penyakit yang kerap muncul setelah musibah banjir, dan salah satu penyakit yang dapat terjadi pasca banjir adalah leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan binatang. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat menjangkiti manusia. Termasuk penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama Hood fever atau demam banjir karena memang muncul dikarenakan banjir. Di beberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit stuttgart, penyakit weil, demam canicola, penyakit swineherd, demam rawa atau demam lumpur. (PDPERSI Jakarta, 2007). International Leptospirosis Society (2001) menyatakan Indonesia sebagai negara dengan insiden leptospirosis tinggi dan peringkat ketiga di dunia untuk mortalitas (16,7%) setelah Uruguay dan India.-Di Indonesia, leptospirosis ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Lampung, Sumetera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumetra Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Leptospirosis acapkali luput didagnosa karena gejala klinis tidak spesifik, dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosa tanpa uji laboratorium. Kejadian luar biasa leptospirosis dalam dekade terakhir di beberapa negara telah menjadikan leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang termasuk the emerging infectious disease. Lebih jauh tentang leptospirosis terutama epidemiologi, cara pe-nularannya serta cara pencegahannya. Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang berbentuk spiral dari genus leptospira yang patogen, menyerang hewan dan manusia. Penelitian tentang Leptospirosis pertama dilakukan oleh Adolf Hei’ pad3 tahun 1886. Dia melaporkan adanya penyakit tersebut pada manusia dengan gambaran klinis demam, pembesaran hati dan limpa, ikterus dan ada tanda-tanda kerusakan pada ginjal.
Penyakit-penyakit dengan gejala tersebut oleh Goldsmith (1887) disebut sebagai “Weil’s Disease”. Dan pada tahun 1915, Inada berhasil membuktikan bahwa Weil’s Disease disebabkan oleh bakteri Leptospira ieterohemor- rhagiae. (Bodner, Elizabeth M, 2005). Bakteri leptospira sebagai penyebab leptosĀ¬pirosis berbentuk spiral termasuk ke dalam Ordo Spirochaetales dalam family Trepanometaceae. Lebih dari 170 serotipe leptospira yang patogen telah diidentifikasi dan hampir setengahnya terdapat di Indonesia. Leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan, tetapi dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. Hewan-hewan yang menjadi sumber penularan leptospirosis ialah tikus, babi, sapi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, insektivora (landak, kelelawar, tupai), sedangkan rubah dapat menjadi karier leptospira.

CARA PENCEGAHAN LEPTOSPIROSIS SEBAGAI PENYAKIT PASCA BANJIR | ok-review | 4.5