CARA BETERNAK IKAN

By On Tuesday, March 25th, 2014 Categories : Review

CARA BETERNAK IKAN. Atau Pisces, merupakan super kelas dari Ver­tebrata yang anggotanya hidup di air tawar, payau, maupun asin. Ciri khasnya adalah berdarah dingin, sebagian besar bernapas dengan insang, serta bergerak dan menjaga keseimbangan badannya dengan meng­gunakan sirip. Ikan hidup di seluruh dunia, yaitu pada semua jenis perairan dan kedalaman.
Jenis ikan amat beraneka ragam. Umumnya, ben­tuk ikan memipih tegak. Namun ada pula yang me­miliki bentuk memipih datar, misalnya ikan pari, atau berbentuk bola ketika menghadap bahaya, seperti ikan buntal. Ukuran ikan pun bervariasi, antara 8 milimeter (sejenis ikan gobi) sampai 20 meter (ikan cucut geger lintang). Ikan memiliki aneka warna yang memben­tuk ratusan corak dan pola, misalnya garis-garis, bin­tik-bintik, dll. Dibandingkan dengan ikan di daerah beriklim sedang, ikan di daerah tropis mempunyai po­la yang kompleks serta warna lebih cerah.
Ikan berperanan penting dalam kehidupan manu­sia, terutama sebagai sumber protein hewani, misalnya ikan mas, gurame, mujair, kakap, kembung, tawes, lele, dll. Beberapa jenis ikan dipakai dalam industri farmasi dan makanan hewan. Selain itu, ikan dapat pula memenuhi hobby manusia, misalnya dalam olah­raga memancing. Ikan hias, seperti ikan cupang, mas koki, angel fish, dan guppy, yang dipelihara dalam akuarium dapat memperindah dekorasi suatu ruang­an. Ikan juga dapat dipakai sebagai hewan pembasmi hama secara hayati. Misalnya, ikan koan ditanam sebagai pembasmi gulma enceng gondok.
Beberapa jenis ikan berbahaya dan merugikan ma­nusia. Sebagai contoh, ikan cucut dan ikan pari se­ring menyerang perenang; sedangkan gerombolan ikan piranha dapat mencabik daging manusia dan hewan lainnya. Ikan gabus, yang bersifat karnivora dan hi­dup liar, dapat menjadi hama dalam kolam-kolam pemeliharaan ikan.
 
Jenis Ikan.
Ikan, yang terdiri atas lebih kurang 30.000 jenis, terbagi atas tiga kelas, yaitu kelas Agnatha, Chondrichthyes, dan Osteichthyes.
Agnatha merupakan ikan tidak berahang. Ciri khas lainnya antara lain mempunyai chorda dorsalis; tulang belakangnya terdiri atas tulang rawan, lubang insang tidak ada, kantung insangnya berlekatan dengan se­laput otak, dan lubang hidungnya satu. Sepintas lalu, ikan dari kelas ini tampak seperti belut dan termasuk kelompok ikan purba. Sebagian besar Agnatha hidup di laut, hanya beberapa jenis dari suku Petromyzon- tidae yang hidup di perairan tawar, baik pada seluruh hidupnya atau sementara untuk keperluan pemijahan.
Anggota kelompok ikan ini tidak pernah ditemukan di Indonesia, jarang ada di daerah tropika, namun se­ring dijumpai di daerah beriklim sedang dan kutub. B; isa Cyclostomata merupakan satu-satunya bangsa fa kelas Agnatha. Kebanyakan Cyclostomata sudah punah; yang hidup sampai sekarang hanya dua suku, yaitu Myxinidae (hagfish) dan Petromyzontidae (lam­prey).
Chondrichthyes dikenal sebagai ikan bertulang ra­wan. Ciri khas lainnya adalah mempunyai chorda dor­salis; rahang dan kerangkanya terdiri atas tulang ra­wan yang sudah mulai berkapur, lubang insang ber­hubungan dengan selaput otak melalui jaringan ikat, dan siripnya berpasangan. Kebanyakan ikan bertulang rawan hidup di laut, hanya beberapa jenis, misalnya sejc ;is cucut yang hidup di Afrika, hidup di perairan tawar. Yang termasuk kelas ini cucut dan ikan pari. Ikan pari pernah merajai lautan pada jaman Devon.
Osteichthyes disebut ikan bertulang sejati. Ciri umum lainnya adalah mempunyai chorda dorsalis, rahang, kerangka yang terdiri atas tulang, sirip ber­pasangan, dan lubang hidung yang berpasangan. Ha­bitatnya di seluruh perairan baik air asin maupun tawar. Diduga nenek moyang ikan ini hidup di air tawar dan sudah ada sejak jaman Devon. Kini ikan yang dianggap paling muda usia evolusinya berasal dari golongan Osteicthyes, yaitu Teleosteii.
 
Habitat.
Ikan hidup di lingkungan air, yaitu di perairan tawar, payau, dan laut. Keanekaragaman jenis dan jumlah ikan suatu perairan ditentukan oleh be­berapa faktor, yakni faktor fisik, misalnya iklim di daerah tersebut, jumlah sinar matahari yang masuk, kedalaman, dan suhu air; faktor kimiawi, seperti ka­dar oksigen terlarut dan kadar garam (salinitas); dan faktor biologi, antara lain kualitas dan kuantitas plankton.
Perairan tawar terdapat di semua benua, kecuali Antartika yang tertutup lapisan es. Perairan ini berupa danau, waduk, kolam, sungai, kali, areal persawahan, saluran irigasi, dan rawa-rawa. Jenis ikan air tawar meliputi sepertiga dari seluruh jenis ikan, dan dari jumlah ini hampir semuanya termasuk ikan bertulang sejati. Ikan air tawar ini hidup di berbagai tingkatan perairan, yaitu di permukaan, berenang di daerah an­tara permukaan dan dasar, atau di dasar perairan. Di Indonesia, jenis ikan air tawar yang sudah dibudi­dayakan antara lain ikan gurami, mas, mujair, nilem, sepat, tambakan, tawes, dan lele.
Sekitar dua per tiga dari seluruh jenis ikan hidup di laut. Keanekaragaman jenis ikan di laut tropis lebih banyak daripada di laut kutub dan di laut beriklim sedang; namun populasinya lebih banyak di laut kutub dan laut beriklim sedang dibandingkan lautan tropis. Diperkirakan sepertiga dari seluruh jenis ikan laut dapat ditemukan di laut berkarang di Samudera Hin­dia dan Pasifik.
Kebanyakan ikan laut hidup dekat permukaan air. Bagian ini masih dapat menyerap sinar matahari, yang merupakan salah satu faktor penting dalam peristiwa fotosintesis fitoplankton. Karena itu daerah yang disebut zone eufotik ini kaya plankton yang meru­pakan makanan ikan. Pada kedalaman 200 meter sinar matahari sudah tidak dapat masuk, sehingga keadaan­nya gelap gulita. Dibandingkan lapisan di atasnya, lapisan yang disebut zone afotik ini mempunyai jenis ikan lebih sedikit. Banyak jenis ikan di daerah ini mempunyai organ penerangan, misalnya belut listrik. Umumnya, ikan dasar laut berbentuk memipih men­datar. Bentuk seperti ini merupakan salah satu cara untuk mentolerir tekanan hidrostatik yang tinggi.
Beberapa jenis ikan dapat beradaptasi dengan ling­kungan peralihan antara laut dan air tawar. Ikan-ikan ini hidup di muara-muara sungai. Umumnya, ikan hanya hidup di satu jenis perairan, misalnya di perairan tawar, payau, atau asin. Namun beberapa jenis ikan dapat hidup baik di air asin maupun air tawar. Ikan-ikan ini biasanya bermigrasi dari laut ke sungai, atau dari sungai ke laut, untuk memijah atau bertelur. Contoh ikan jenis ini adalah ikan salem yang tumbuh dewasa di laut, namun bermigrasi melawan arus sungai ke arah hilir untuk bertelur.
Anatomi Ikan. Meskipun ikan mempunyai keane­karagaman anatomi, namun ada beberapa bentuk anatomi yang menjadi karakteristik ikan. Ikan tidak mempunyai leher dan bentuknya ber­macam-macam, antara lain memipih datar (ikan lele), memipih tegak (ikan mas), seperti tombak, segi ter­potong, dan berangsur mengecil (ikan layur). Pada dasarnya, tubuh ikan terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian kepala, badan, dan ekor. Pada bagian kepala yang meruncing ke depan terdapat mulut, lubang hi­dung, mata, dan penutup insang; bagian badan ter­dapat sirip punggung, sirip dada, dan sirip perut; dan di bagian ekor terdapat sirip anal (dubur) dan sirip ekor. Di bagian sisi ikan dijumpai garis melintang yang disebut gurat sisi (linea lateralis). Gurat sisi berfungsi sebagai organ yang peka terhadap perubahan tekanan air, perubahan suhu lingkungan, dan suara berfre­kuensi rendah; atau sebagai sistem tanda bahaya dan alat navigasi ikan.
Berbeda dengan hewan vertebrata lainnya, ikan mempunyai insang dan sirip. Sirip berfungsi sebagai pengganti kaki, yakni untuk alat gerak, dan sebagai kemudi. Nama sirip disesuaikan dengan tempat ber­adanya sirip tersebut, yaitu sirip punggung, sirip perut, sirip dada, sirip anal, dan sirip ekor. (Lihat juga Si rip). Insang, yang berfungsi sebagai alat pertukaran gas, terletak pada setiap sisi kepala. Pada ikan ber­tulang sejati, seperti ikan mas, insang dilindungi pe­nutup insang; namun ikan cucut tidak mempunyai penutup insang. (Lihat juga Insang). Beberapa jenis ikan, misalnya lele dan gurame, mempunyai alat per­napasan tambahan berupa ruang penyimpanan udara yang biasanya terletak di bagian belakang kepala. Ruang penyimpanan udara ini dapat berupa ruang sempit yang berliku-liku (labirin), berbentuk kantong, atau ruang yang dindingnya tidak sempurna. (Lihat juga Labirin, Ikan). Umumnya, tubuh ikan ditutupi sisik. Ada empat jenis sisik, yaitu sisik sikloid (ikan mas), sisik plakoid (ikan cucut), stenoid (ikan betok), dan rhomboid (ikan Polypterus sp.). Lihat juga Sisik.
Tubuh ikan dibentuk oleh adanya sistem rangka dan tulang punggung sebagai sumbu utama tubuh. Pada ikan bertulang rawan, kerangka ini terdiri atas tulang rawan, sedangkan pada ikan bertulang sejati rangka terbuat dari tulang. Tubuh ikan dilengkapi pula dengan otot yang bekerja secara otomatis, mi­salnya otot polos pada usus dan otot jantung di jan­tung, serta otot yang bekerja karena adanya pengarus sistem saraf, yaitu otot-rangka. Dengan adanya otot rangka ini, ikan dapat bergerak dan berenang.
Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari mulut dan berakhir di lubang anus. Penyerapan makanan dilakukan dalam usus. Oleh darah, sari makanan ini diedarkan ke seluruh tubuh. Modifikasi saluran pen­cernaan ini bergantung pada jenis ikan. Pada ikan primitif, ususnya melingkar-lingkar, yang maksudnya untuk memperbesar permukaan sehingga kemampuan menyerap sari makanan pun menjadi tinggi. Ikan kar­nivora mempunyai usus lebih pendek dibandingkan ikan herbivora.
Dalam tubuh ikan, fungsi utama ginjal bukan sebagai alat ekskresi, namun sebagai alat untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Pada ikan, pengaturan keseimbangan air sangat penting, karena terdapat perbedaan antara kadar garam lingkungan dengan cairan dalam tubuh. Tanpa organ ini, cairan tubuh ikan yang hidup di laut akan terus keluar, sedangkan yang hidup di sungai akan terus kemasukan air. Kondisi ini dapat diterangkan dengan prinsip osmosis, J yakni larutan yang lebih pekat akan menarik cairan g dari larutan yang lebih encer.
Jantung ikan hanya mempunyai dua ruang, yaitu j atrium dan ventrikel. Darah yang sudah beredar dari I seluruh tubuh dan yang mengandung bahan-bahan g sisa masuk ke atrium lewat pembuluh vena. Dari sini, darah menuju ventrikel yang memompanya keluar p melalui arteri menuju insang. Di insang darah me­nyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, lalu diedarkan ke seluruh tubuh setelah terlebih dahulu m menyerap makanan dari usus.
Ikan merupakan hewan berjenis kelamin satu. Ova­rium (alat kelamin betina) dan testis (alat kelamin j an- | tan) terletak di bagian punggung. Testisnya mempunyai saluran yang menuju keluar tubuh, sedangkan ovarium tidak. Umumnya pembuahan telur pada ikan terjadi di luar tubuh, misalnya ikan koan dan mas, hanya beberapa jenis ikan yang terjadi di dalam tubuh, contohnya ikan cucut, karena yang jantannya mem­punyai organ clasper yang dapat menahan ikan betina, sehingga sperma dapat masuk ke tubuh ikan betina.
Sistem saraf ikan terdiri atas tulang sumsum, otak, dan pembuluh saraf. Tulang sum-sum yang terletak dalam tulang punggung terdiri atas jaringan saraf yang berjalan dari otak melalui tulang belakang. Otak terletak dalam tengkorak dan merupakan pembesaran sumsum tulang belakang. Pembuluh saraf terletak di seluruh bagian tubuh ikan. Tugasnya membawa pesan dari indera ke atau dari otak dan sumsum tulang.
Pada ikan, kantung renang berfungsi sebagai alat hidrostatik sehingga memungkinkan ikan mengapung atau tenggelam dalam air, dan untuk keseimbangan, bernapas (pada ikan Dipnoi), serta untuk menghasil­kan suara. Organ ini terletak di bagian dorsal rongga tubuh.
Ikan memiliki alat indera, seperti indera penglihat­an, pendengar, perasa, dan pembau. Tidak semua ikan memilik mata, misalnya ikan yang hidup di perairan afotik atau sungai bawah tanah. Mata ikan tidak ber­kelopak, memiliki lensa yang membulat, dan kedua­nya terletak di setiap sisi kepala ikan, kecuali mata ikan yang memipih datar terdapat pada satu sisi, con­tohnya ikan lidah. Diperkirakan semua ikan dapat mendengar. Karena ikan memiliki telinga dalam yang terletak pada setiap sisi tubuhnya. Indera perasa ikan terdapat di seluruh permukaan tubuh, dan sirip, bah­kan beberapa jenis ikan mempunyai kumis yang ber­fungsi sebagai organ perasa dan peraba. Bagi ikan pemangsa, seperti ikan cucut, indera pembau berperan penting dalam mencari makan. Organ ini terletak pada setiap sisi moncong ikan.
Beberapa jenis ikan mempunyai organ tambahan, antara lain organ yang dapat menghasilkan listrik, misalnya belut listrik dan ikan pari listrik; organ peng­hasil cahaya; dan organ penghasil suara. Biasanya organ-organ tambahan ini dipakai untuk untuk me­nyerang mangsa atau sebagai alat bantu navigasi.
 
Sejarah Ikan.
Diduga ikan pertama kali muncul 450 juta tahun yang lalu. Ikan dari jaman itu, yang disebut Ostracodermi, tidak mempunyai rahang, tidak mem­punyai anggota yang berpasangan, dan tubuhnya di­tutupi tulang dermal yang bentuknya bervariasi dari lempengan besar sampai sisik-sisik kecil. Tubuhnya kecil dan bentuknya pipih mendatar sehingga ada du­gaan hidupnya di dasar perairan. Habitat ikan ini ke­banyakan perairan tawar. Ostracodermi kemudian berevolusi menjadi ikan berahang, yang berevolusi lagi menjadi amfibi. Sementara itu, amfibi merupakan nenek moyang hewan vertebrata darat. Oleh karena itu, pakar biologi menganggap bahwa Ostracodermi adalah nenek moyang seluruh hewan vertebrata yang ada sekarang.
Selama jaman Devon, ikan mengalami perkem­bangan yang pesat. Ostracodermi menyebar secara radiasi. Namun pada akhir jaman Devon, hampir se­mua ikan tak berahang punah, kecuali ikan yang men­jadi nenek moyang ikan tak berahang yang masih hidup sekarang.
Pada waktu Ostracodermi menyebar, muncul ikan dari golongan Placodermi yang mulai punah sekitar 40 juta tahun yang lalu. Placodermi diduga berasal dari nenek moyang Ostracodermi. Berbeda dengan Ostracodermi, Placodermi sudah mempunyai rahang primitif dan sirip. Namun sama dengan nenek mo­yangnya, tubuh beberapa jenis Placodermi masih ditu­tupi oleh lempeng-lempeng keras.
Pada pertengahan jaman Devon, Chondrichtyes atau ikan bertulang rawan sudah merupakan kelom­pok ikan yang beranekaragam. Ikan pari muncul se­kitar 200 juta tahun setelah pertama kali ikan hiu primitif hidup.
Bersamaan dengan Placodermi, muncul ikan ber­tulang sejati. Pada jaman Silur ikan bertulang sejati diwakilkan oleh kelompok ikan Acanthodii, sedang­kan pada jaman Devon oleh ikan kelompok Actinopterygii dan Choanichtyes. Ikan bertulang sejati ini kemudian menyebar ke perairan tawar dan laut. Ham­pir semua anggota ikan primitif ini sudah mempunyai paru-paru primitif. Pada perkembangan selanjutnya, paru-paru ini akan bermodifikasi menjadi gelembung renang. Pada Choanichtyes (misalnya ikan Dipnoi) paru-paru primitif ini masih tetap dipertahankan sam­pai sekarang. Ada dugaan bahwa Amfibi diturunkan dari kelompok ikan Dipnoi ini. Actinopterygii, dengan Chondrostei sebagai super bangsa tertua, mempunyai sirip ray-fin. Ikan ini menjadi nenek moyang ikan ray- fin yang ada sekarang yang merupakan 95 persen dari seluruh jenis ikan. Chondrosteii kemudian berevolusi menjadi super bangsa Holostei. Kelompok ikan ini menjadi dominan di pertengahan kala Mesozoikum. Setelah itu Holosteii berevolusi menjadi Teleosteii yang merupakan ikan dominan di masa kini.

CARA BETERNAK IKAN | ok-review | 4.5