CARA BELAJAR KEMPO

By On Thursday, April 17th, 2014 Categories : Kesehatan, Review

CARA BELAJAR KEMPO – Seni bela diri ciptaan biksu Dharma Taishi. Sen ala ia bertugas di India dan mempelajari silat In­dia, Indo-kempo. Ia kemudian pindah tugas ke Cina dan belajar kungfu. Selama 9 tahun ia menyusun tek­nik gerakan bela diri baru yang dinamainya Shorinji Kempo. Tetapi orang lebih mengenalnya dengan se­butan kempo saja.
Setelah Perang Boxer di Cina usai, penguasa mem­bubarkan perkumpulan-perkumpulan silat {boxer), termasuk kempo, dan membakar kuil Shorinji. Para biksu pengikut Dharma Taishi melarikan diri bahkan sampai ke Jepang, Thailand, dan Taiwan. Di tempat persembunyian itu mereka terus mempelajari ilmu be­la diri mereka. Karena pada umumnya pelarian dari kuil Shorinji itu masih muda, mereka belum mengua­sai teknik gerakan kempo secara tuntas. Akibatnya corak dan teknik kempo mulai mengalami perubahan. Misalnya teknik go ho (teknik keras) yang berkem­bang di Mungthai menjelma menjadi tinju Mungthai. Di Kepulauan Okinawa muncul bela diri Okinawate, yang kemudian dikenal sebagai karate. Sebaliknya , teknik gerakan ju ho (teknik lunak) pada kempo di Je­pang berkembang menjadi aikido, jujitsu, dan judo.
 
Pada tahun 1928, Sho Dosin, pembelot tentara Je­pang berjumpa dengan mahaguru (sihang) ke-20, Wen Tay Sun, pengikut Shorinji Kempo. Pada tahun 1945, Sho Dosin kembali ke Jepang dengan memba­wa seni bela diri kempo plus gelar sihang ke-21. De­ngan modal berguru selama 17 tahun, ia mendirikan dojo di Pulau Shikoku untuk mengajarkan kempo. Sampai saat ini kuil di kota Tadotsu, Propinsi Kaga- wa, di Pulau Shikoku, itu merupakan pusat kempo. Kini kempo selain seni bela diri juga merupakan sara­na untuk berolahraga.
Perkembangan Kempo di Indonesia. Trio pemu­da Indonsia yang belajar ke Jepang dengan dana pam­pasan perang akhir tahun 1959, yakni Utin Sjahraz (aim.), Indra Kartasasmita, dan Ginanjar Kartasas- mita, merupakan perintis kempo di Indonesia. Mereka belajar kempo langsung dari sumbernya, di Todatsu. Sekembalinya ke Indonesia, mereka mendirikan Per- kemi (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia) ta­hun 1966.
Kini Perkemi memiliki 26 pengurus daerah. Induk organisasi nasional kempo adalah anggota KONI. Perkemi juga anggota World Shorinji Kempo Organi­zation (WSKO). Tetapi kempo belum masuk dalam nomor resmi dalam SEA Games atau Olimpiade.
Kempo berkembang pesat di Indonesia. Dalam waktu 23 tahun, di Jakarta saja terdapat 50 dojo, dan perkembangan di kalangan mahasiswa meliputi 70 perguruan tinggi negeri dan swasta.
Pada tahun 1985, Perkemi mengikuti kejuaraan Kempo dunia di Tokyo. Kenshi Indonesia berhasil merebut kedudukan runner up, kendati baru dalam nomor Embu berpasangan, di bawah tuan rumah Je­pang dan di atas Amerika Serikat, Venezuela, Inggris dan Perancis.
Pertandingan Kempo. Kenshi yang bertanding baik dalam nomor Randori perorangan atau beregu putra (kenshi putri tak dipertandingkan dalam Rando­ri). Dalam Randori, peserta harus menggunakan do (pelindung dada), mengenakan sarung tangan, serta pelindung kepala. Selama bertanding peserta juga ha­rus mengenakan do g i (seragam kenshi). Pertandingan dilangsungkan pada arena seluas 5×5 meter yang ber- bentuk segi empat. Dalam nomor Randori (perkela­hian bebas) atau dalam nomor Embu (peragaan kerapian teknik/gerakan jurus kempo) dilangsungkan dalam dua babak, masing-masing berlangsung dua menit. Dalam nomor Randori beregu digunakan sis­tem pool dan pertandingan dilangsungkan setengah kompetisi. Pembagian pool ditentukan dengan cara undian untuk mencari juara pool untuk bertanding di babak semi final. Finalis adalah para juara pool yang bertanding di babak final untuk merebutkan juara I, II, III, dan IV.
Sistem pertandingan untuk Embu berpasangan da­pat diadakan 2 babak atau 3 babak menurut jumlah pesertanya. Pasangan Embu terbaik pada babak pe­nyisihan dan babak semifinal berhak maju ke babak final, sedangkan nomor Embu beregu hanya dilang­sungkan dalam 2 babak. Regu-regu terbaik dalam ba­bak penyisihan berhak maju ke babak final.
Pertandingan Randori dipimpin oleh wasit utama yang dibantu oleh 2 sampai 4 wasit pembantu.
Penilaian. Pemenang nomor Randori adalah peser­ta yang menggunakan teknik-teknik kempo, baik tek­nik go ho atau ju ho. Dalam teknik go ho, peserta harus menghasilkan pukulan atau tendangan.
Tendangan/pukulan yang tak tertangkis diberi nilai Ippon (10) atau dua kali nilai Waza Ari (5). Bila pe­serta kurang bersemangat (kiai), atau posisi kuda- kuda tak sempurna diberi nilai Waza Ari. Bila menggunakan teknik ju ho, harus menggunakan tek­nik kuncian (Katame). Bila sesudah berlangsung tek­nik ju ho, terbukti peserta tak melakukan Katame, serangan selanjutnya hanya boleh diarahkan ke sasar­an do, bukan ke muka atau ke kepala lawan.
Bila peserta menggunakan serangan beruntun (Ren Geri) untuk menaklukkan lawan sehingga terjatuh ia dapat ditetapkan mendapat kemenangan Waza Ari. Kemenangan mutlak diberikan kepada salah seorang peserta (Mujokan Kachi) bila dalam pertandingan wa­sit utama menilai jalannya pertandingan tak seim­bang. Bila terdapat perbedaan tingkat penguasaan teknik atau kekuatan, salah seorang peserta diberi ke­menangan mutlak dengan nilai 15.
Khusus menghadapi kasus seri, dalam nomor Ran- dori perorangan saja diberlakukan ketentuan ronde perpanjangan selama 2 menit.
Nomor Randori beregu mempertandingkan dua pe­serta dari tiap regu yang bertanding. Setiap regu terdiri atas 6 orang. Mereka secara bergantian menda­patkan giliran bertanding. Setiap anggota hanya ber­tanding sekali dengan sistem pertandingan yang berlaku dalam nomor Randori perorangan, yaitu prin­sip peserta mana yang lebih dahulu mencapai nilai Ippon. Regu pemenang ditentukan oleh jumlah peme­nang terbanyak. Bila terjadi seri, regu yang mengum­pulkan nilai Ippon dan Waza Ari terbanyak menjadi pemenangnya. Jika dalam pertandingan penentuan nomor Randori beregu ditemukan jumlah nilai yang sama, kemenangan diberikan kepada peserta dengan nilai Yusei Kachi. Tetapi jika dalam pertandingan pe­nentuan ini ditemukan pemenangnya first in first win, kemenangan disebut Itten Shobu.
Bila peserta meninggalkan arena, atau tak dapat meneruskan pertandingannya, angka Ippon (10) dibe­rikan kepada lawannya.
Dalam nomor Embu, peserta diizinkan memilih ju­rus yang ditawarkan oleh panitia pertandingan sesuai
dengan tingkat peserta. Batas waktu melakukan Embu untuk setiap peserta selama 1 1/2 sampai 2 menit. Pa­da saat nomor Embu berlangsung, peserta diberikan isyarat tentang waktu yang sudah dijalaninya, karena dalam Embu dikenal hukuman denda. Peserta, baik berpasangan atau beregu, yang mengalami kelebihan waktu 10 detik saja akan didenda 1,5 nilai. Malah ka­lau terjadi kelebihan 3 menit peserta langsung dikena­kan diskualifikasi. Namun, peserta Embu yang bertanding sampai di luar batas arena pertandingan tak dikenai denda. Untuk nomor Embu nilai terting­ginya 100.
 

CARA BELAJAR KEMPO | ok-review | 4.5