BILAKAH ATRIBUSI SEBAB-AKIBAT TERJADI?

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Bilakah manusia terlibat dalam proses menanyakan “mengapa?” Meskipun manusia selalu ingin tahu, namun mereka tidak bertanya mengapa kepada sekelilingnya tentang segala sesuatu yang terjadi. Ketika orang bangun di pagi hari, mereka tidak bertanya mengapa matahari terbit, mengapa petinju di layar televisi memakai sarung tangan, atau mengapa bis yang mereka tumpangi masih berhenti keni dati lampu rambu lalu lintas telah hijau. Sebagian besar peristiwa alamiah dan tindakan manusia nampaknya tidak membutuhkan banyak usaha kognitif untuk mencari atribusi sebab akibatnya yang benar. Seperti kita lihat dalam bab yang lalu, manusia cenderung bersifat kikir terhadap sumber kognitifnya; kebanyakan mereka mengambil jalan pintas dan menghindari kerja kognitif yang luas dan kreatif. Apakah syarat-syarat melakukan pencarian sebab-akibat?
Orang cenderung sangat Ingin tahu tentang sebab-akibat jika sesuatu yang tidak diharapkan atau yang istimewa terjadi. Penjelasan mengenai perjalanan rembulan dan matahari banyak dilakukan pada saat terjadi gerhana ketimbang pada saat-saat biasa. Pembaca surat-Kabar, pejabat pemerintah, dan ilmuwan sosial menghendaki jawaban ketika terjadi kerusuhan rasial yang mendadak dan tidak diduga sebelumnya atau pergolakan mahasiswa, diban-dingkan pada saat tenang. Lau dan Russell (1980) menemukan bahwa hasil tak terduga dari pertandingan sepak bola profesional yang sudah diramalkan sebelumnya akan menimbulkan banyak penjelasan sebab-akibat di kolom olah raga surat kabar. Para wartawan paling banyak berpusatkan atribusi jika regu kesayangan mengalami kekalahan atau hanya menang tipis. Peristiwa yang buruk dan tidak menyenangkan juga mengilhami pencarian atribusi sebab akibat. Taylor (1982) menemukan bahwa 95 persen contoh korban kanker yang ditelitinya membuat kesimpulan tentang penyebab penyakit mereka. Di antara anggota keluarganya, di mana penyakit itu dianggap tidak begitu parah, hanya 70 persen yang melakukannya. Bulman dan Wortman (1977) secara mengharukan mencatat usaha para penderita lumpuh syaraf tulang belakang untuk menganalisis mengapa hal itu sampai terjadi kepada mereka. Umumnya penyakit mereka disebabkan oleh kecelakaan yang tidak terelakkan, namun para korban masih tetap menghendaki penjelasan yang lebih pasti. Pembunuhan terhadap John F. Kennedy tidak saja mengilhami Komisi Warren dalam usahanya menyampaikan penjelasan resmi, namun juga mengilhami sejumlah penyelidikan amatir. Dalam hubungan intim, terjadinya konflik telah menyebabkan kedua pasangan untuk mencari penyebab masalah mereka (dan seringkah saling bertukar penjelasan secara bersaing; lihat Orvis, Kelley, & Butler, 1976).
Peristiwa yang tidak menyenangkan dan tidak terduga sebelumnya dengan bebas menggerakkan usaha pencarian atribusi. Wong dan Weiner (1981) telah menunjukkan bahwa orang lebih pantas menanyakan mengapa sebuah peristiwa terjadi jika peristiwa tersebut bersifat negatif dan tidak terduga. Mereka memberikan empat situasi hipotetis kepada para subjek, yang menggambarkan keberhasilan atau kegagalan menempuh ujian-semester yang sudah diduga atau yang tidak terduga, lalu bertanya: “Apakah ada pertanyaan yang ingin Anda ajukan kepada diri sendiri?” Pertanyaan mengenai penyebab hasil yang dicapai (“Mengapa hal ini terjadi?”) sudah amat umum datang jika terjadi kegagalan yang ti-dak terduga.
Dua Prinsip Sederhana
Bagaimana kita sampai pada suatu atribusi? Teori atribusi dimulai dengan dua prinsip sederhana, yaitu: prinsip variasi bersama dan prinsip keraguan. Menurut Heider, prinsip variasi bersama berarti bahwa kita cenderung mencari hubungan antara pengaruh tertentu Hengan penyebab tertentu di antara sejumlah kondisi yang berlainan. Jika sebuah penyebab tertentu selalu dihubungkan dengan pengaruh tertentu dalam berbagai situasi, dan jika pengaruhnya tidak terdapat karena dadanya penyebab, maka kita memperhubungkan pengaruh tadi dengan penyebab. Penyebab selalu bervariasi bersama dengan pengaruhi dan jika penyebab tidak ada, maka pengaruh pun tidak ada. Kita andaikan bahwa rekan sekamar Anda marah-marah dan mengeluhkan segala sesuatu sebelum ujian, tetapi menye¬nangkan jika tidak ada ujian. Apakah kita menyimpulkan bahwa dia memang seorang pemarah — yaitu dia memang memiliki kepribadian pemarah? Mungkin tidak. Sebaliknya, kita akan menghubungkan keluhan-keluhannya dengan rasa tegang yang berhubungan dengan ujian, dan bukan karena dia pemarah. Kema-rahannya hampir selalu diasosiasikan dengan ujian dan tidak muncul jika tidak sedang ada ujian, sehingga kitamenghubungkannya-dengan ujian dan bukan kepada kepribadiannya.
Prinsip variasi bersama ini tentu saja sama dengan metode ilmiah yang dipergunakan para ilmuwan. Seorang ilmuwan juga sampai pada penilaian sebab akibat dengan melihat bahwa sebuah faktor tertentu diasosiasikan dengan pengaruh tertentu melalui sejumlah kondisi yang berlainan. Jika para ilmuwan, Prinsip pokok lain guna membuat kesimpulan sebab-akibat ialah yang disebut Kelley sebagai prinsip keraguan: yaitu “peranan penyebab tertentu untuk menghasilkan nih tertentu diragukan kebermrannya.jika penyebab lain vang masuk akal juga hadir”. Maksudnya, kita membuat kesimpulan yang kurang meyakinkan dan kurang mengatribusikan kepada suatu penyebab tertentu, jika terdapat lebih dari satu kemungkinan penyebab. Seorang wira niaga asuransi bersikap sangat manis kepada kita dan menawarkan kopi, namun kita tidak dapat membuat kesimpulan yang meyakinkan mengapa dia sedemikian ramahnya. Kita dapat menyimpulkan perilakunya kepada rasa suka murni terhadap diri kita. Lebih mungkin lagi, kita meragukan kemungkinan penyebabnya dan mengatribusikan perilaku orang tadi sebagian karena dia menghendaki usaha kita. Sebaliknya, jika orang itu tahu bahwa kita tidak memiliki uang untuk membeli polis asuransi, kita tidak perlu memiliki keraguan, karena keinginan terhadap usaha kita bukan lagi merupakan penyebab yang masuk akal.

BILAKAH ATRIBUSI SEBAB-AKIBAT TERJADI? | ok-review | 4.5