BERBICARA DAN KEPEMIMPINAN SERTA KOMUNIKASI

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Terdapat kaitan yang jelas antara jumlah anggota kelompok yang berbicara dengan kepemimpinan kelompok. Bila seseorang ditetapkan sebagai pemimpin rapat, mungkin dia akan berperan serta secara aktif dalam diskusi kelompok. Namun yang lebih menarik adalah hasil pengamatan bahwa bila tidak ada pemimpin yang diketahui, komunikasi dapat mempengaruhi siapa yang akan menjadi pemimpin. Untuk menjadikan seseorang sebagai pemimpin, seringkah yang paling penting untuk dilakukan adalah membuat orang itu berbicara lebih banyak. Eksperimen yang dilakukan oleh Bavelas, Hastorf, Gross, dan Kite (1965) memperlihatkan pengaruh di atas. Subjek dari kelas rekayasa industri, yang tidak saling kenal akrab satu sama lain, dipilih untuk ikut serta dalam diskusi kelompok. Mereka dibagi dalam kelompok yang beranggotakan empat orang, yang diberi suatu masalah yang harus didiskusikan selama 10 menit, dan diberitahu bahwa diskusi mereka akan diamati melalui kaca satu-arah. Seorang pengamat mencatat beberapa kali dan beberapa lama seseorang berbicara. Setelah babak itu berakhir, semua peserta mengisi angket di mana diminta untuk membuat peringkat subjek-subjek lain berdasarkan kemampuan kepemimpinan umum dan beberapa dimensi lain. Eksperimen tersebut dilakukan sebanyak tiga babak.
Di hadapan setiap subjek diletakkan kotak berisi lampu merah dan hijau, dan hanya dia sendiri yang dapat melihat lampu tersebut. Sebelum babak diskusi yang kedua, beberapa orang diberitahu bahwa mereka akan menerima umpan balik tentang penampilan mereka. Bila lampu merah menyala, berarti mereka menghambat atau menganggu diskusi; bila lampu hijau menyala berarti andil mereka bermanfaat. Dengan kata lain, mereka akan mendapat hukuman atau ganjaran berdasarkan apa yang mereka katakan.
Dari setiap kelompok dipilih satu subjek yang jumlah pembicaraannya maupun peringkat potensi kepemimpinannya berada di tingkat bawah, atau hampir bawah. Selama periode diskusi kedua, dia mendapatkan ganjaran (lampu hijaunya dinyalakan) sewaktu dia berbicara. Subjek yang lain mendapatkan hukuman (dengan lampu merah) bila mereka berbicara. Pada kelompok pengendali, anggota-anggotanya tidak menerima umpan balik. Ketika periode diskusi itu berakhir semua subjek kembali mengisi lembar penilaian. Terakhir, babak diskusi yang ketiga dilakukan tanpa adanya penguatan dan lembar penilaian yang ketiga diisi. Selama babak kedua, seperti yang diduga, subjek yang mendapat ganjaran berbicara lebih banyak; sebaliknya, subjek yang lain lebih sedikit berbicara. Segera setelah itu, persentase bicara subjek yang terpilih tersebut melebihi persentase yang semula didapatnya. Dan lagi, pengaruh ini berlanjut pada babak ketiga (yang tidak diberi penguat) meskipun dia tidak menerima perlakuan khusus. Dalam batas tertentu, dapat dikatakan bahwa subjek yang diberi penguat akan lebih berperan sebagai seorang pemimpin dibandingkan sebelum diberi penguat karena dia berbicara lebih banyak. Para pengamat yang mengikuti sebagian eksperimen itu akan melihat bahwa subjek memainkan peranan yang aktif, bahkan dominan, dalam kelompok dan menganggapnya sebagai pe-mimpin. Pengujian lain yang mungkin lebih penting adalah opini kelompok. Hasil yang menarik adalah bahwa kelompok itu pun memberikan nilai yang jauh lebih tinggi dalam skala kepemimpinan. Kenyataannya, nilai orang tersebut bergerak dari yang terendah ke yang tertinggi.
Aktivitas verbal yang sederhana muncul sebagai faktor penting yang menentukan kepemimpinan. Semakin aktif seseorang mengambil bagian, semakin besar kemungkinan dia terpilih sebagai pemimpin. Tetapi ingat bahwa penelitian ini dilakukan dalam kelompok diskusi, di mana aktivitas verbal merupakan hal yang sangat penting. Pada kelompok lain mungkin ada aktivitas lain yang sama penting atau lebih penting—atlit yang pendiam dan kuat mungkin akan menjadi kapten regu olah raga. Namun, kita ketahui bahwa, dalam banyak situasi, perilaku verbal sangatlah penting dan bahwa seringkah seseorang dianggap sebagai pemimpin oleh yang lain hanya karena dia berbicara banyak.
Komunikasi merupakan hal yang penting bagi kegiatan kelompok, apakah itu suatu pembicaraan tanpa akhir dalam rapat panitia, percakapan akrab antara dua teman, atau pertemuan keluarga untuk merencanakan liburan akhir minggu. Siapa yang Berbicara. Salah satu karakteristik dari hampir semua kelompok adalah bahwa beberapa orang berbicara terlalu banyak dan yang lain terlampau sedikit. Situasi sekeliling nampaknya tidak banyak mempengaruhi pola ini. Tidak jadi soal, apakah kelompok tersebut terstruktur atau tidak, apakah masalah yang didiskusikan bersifat umum atau khusus, apakah anggota kelompok itu teman atau orang-orang yang belum dikenal. Dalam suatu seminar, misalnya, biasanya ada satu atau dua orang yang memonopoli diskusi, apa pun masalah yang dibicarakan.
Mereka banyak sekali berbicara, sedangkan yang lain hanya satu-dua kali saja. Mungkin aspek yang paling menarik dari gejala ini adalah bahwa hal itu berlangsung tanpa perduli seberapa besar ukuran kelompok. Tanpa memperhatikan jumlah anggota, komunikasi akan mengikuti pola yang sangat teratur, yang dapat disajikan dengan sebuah fungsi logaritmik. Pola ini untuk kelompok empat, enam, dan delapan orang. Perhatikan bahwa, dalam semua kasus terdapat satu orang yang banyak berbicara, orang berikutnya yang kurang banyak berbicara, dan seterusnya. Jumlah pembicaraan yang dilakukan oleh setiap orang menurun sesuai dengan kecepatan logaritmik. Pada kelompok dengan delapan anggota, dua orang menyumbang 60% pembicaraan, satu orang yang lain memberikan andil 14% pembicaraan dan lima orang yang lain hanya 26% di antaranya. Jelas persentase yang tepat yang disumbangkan setiap orang akan bervariasi dari satu kelompok ke kelompok lain. Memang, ykda juga kelompok-kelompok yang semua anggota memberikan andil pembicaraan yang sama banyak. Tetapi biasanya, hampir di semua kelompok muncul pola yang kurang lebih sama dengan pola yang telah dilukiskan.

BERBICARA DAN KEPEMIMPINAN SERTA KOMUNIKASI | ok-review | 4.5