BELAJAR MENGARTIKAN KONTAK MATA SEBAGAI KOMUNIKASI NONVERBAL

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Kontak mata merupakan bentuk sangat menarik dari komunikasi nonverbal. Sebagaimana halnya dengan bentuk lain, arti kontak mata sangatlah bervariasi dan tergantung dari konteks. Akan tetapi, hampir dalam segala interaksi sosial, kontak mata selalu menyampaikan informasi. Paling tidak, kontak mata menunjukkan perhatian atau kurangnya perhatian. Film-film Hollywood sering menampilkan pasangan yang saling bertatapan mata untuk menggambarkan cinta, kasih sayang, atau perhatian besar. Tentu saja kita semua sudah biasa berkontak mata untuk menunjukkan rasa simpatik kita kepada seseorang. Sebuah obrolan santai dapat merupakan ekspresi daya tarik romantis jika salah seorang pembicara terus melakukan kontak mata. Sebaliknya, menghindari atau memutuskan kontak tersebut biasanya merupakan pertanda bahwa orang itu tidak tertarik. Tentu saja jika seseorang tidak melakukan kontak mata selama melakukan pembicaraan, maka kita akan cenderung menginterpretasikan hal ini sebagai petunjuk bahwa dia tidak sungguh-sungguh melibatkan diri di dalam interaksi tersebut. Bagaimana pun penuhnya perhatian seseorang dalam menjawab pertanyaan, mengangguk pada waktu-waktu yang tepat, dan melanjutkan obrolan tersebut, namun kurangnya kontak mata berarti bahwa dia tidak menaruh minat kepada apa yang diucapkannya.
Akan tetapi, ada pengecualian atas prinsip umum ini. Seseorang yang menyampaikan kabar buruk atau mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati mungkin akan menghindari kontak mata. Kurangnya kontak mata kadang-kadang dapat berarti bahwa orang tersebut pemalu atau takut. Jika orang menjadi malu, mereka tidak mau menjadi pusat tatapan langsung. Dalam telaah yang dilakukan Ellsworth dan rekan-rekannya (1978), mahasiswi perguruan tinggi diberitahu bahwa mereka harus mendiskusikan masalah “yang menyangkut masalah pribadi Anda, yaitu hal-hal yang biasanya tidak dibicarakan para mahasiswa.” Kemudian setiap mahasiswi harus menunggu pasangan masing-masing yang 75 persen waktu yang ada digunakan untuk menatapnya secara langsung, atau hanya melihat kepadanya sekali. Sebagian besar subjek lebih menyukai pasangan yang menghindari-tatapan. Subjek lain yang tidak mengharapkan pembicaraan bersifat memalukan akan bersikap acuh. Nampaknya tatapan langsung mengancam para wanita yang merasa malu tersebut. Selanjutnya, kontak mata dapat dipakai secara lebih aktif, untuk mengancam. Dalam eksperimen lain, seseorang menatap subjek yang berada dalam posisi bertindak agresif terhadap penatap. Para subjek yang ditatap itu menjadi kurang agresif dibanding dengan kalau tidak ada tatap mata sama sekali (Ellsworth & Carlsmith,. 1975). Kelihatannya kontak mata yang diperpanjang waktunya dapat diinterpretasikan sebagai ancaman dan menyebabkan orang lari atau bertindak sela-ras. Kita semua mungkin dapat mengingat guru yang menggunakan teknik semacam ini dengan sangat efektif terhadap diri kita.
Mungkin tidak mengherankan bahwa kontak mata mempunyai dua arti yang kelihatan berbeda — yakni persahabatan atau ancaman. Dalam kedua kasus tersebut, kontak mata menunjukkan keterlibatan lebih besar serta kepuasan emosional lebih tinggi. Positif atau negatifnya emosi tergantung dari konteks; petunjuk nonverbal sendiri tidak mempunyai kepastian arti apa pun.

BELAJAR MENGARTIKAN KONTAK MATA SEBAGAI KOMUNIKASI NONVERBAL | ok-review | 4.5