BEKERJA DI LUAR NEGERI SALAH SATU ALTERNATIF

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Sosiologi

Terbatasnya peluang kerja di dalam negeri menyebabkan tidak berimbangnya antara pertambahan angkatan kerja dengan daya serap dunia kerja dalam negeri. Salah satu solusi yang dipandang tepat dan cepat bisa menanggulangi masalah kesempatan kerja adalah dengan meraih peluang kerja di luar negeri. Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja sehingga memiliki keunggulan untuk dapat berkompetisi dan meraih peluang kerja yang tersedia. Artinya, perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar kerja di luar negeri. Sebagaimana digambarkan sebelumnya bahwa potret pasar tenaga kerja Indonesia ditandai oleh ekonomi dualistik yang ditandai oleh adanya tenaga kerja modern vs tenaga kerja tradisional, tenaga kerja perdesaan vs tenaga kerja di perkotaan, dan tenaga kerja informal vs formal. Berdasarkan data BPS tahun 2006, jumlah angkatan kerja Indonesia sampai Agustus 2006 mencapai 106,39 juta, dengan komposisi angkatan kerja yang didominasi oleh angkatan kerja dengan pendidikan SD mencapai 53,13 persen, Pendidikan Tinggi hanya sekitar 0,3 persen. Angka ini sungguh sangat memprihatinkan dengan dominasi tingkat pendidikan yang rendah berakibat pada jumlah lapangan kerja informal mencapai sekitar 70%, dan hanya sekitar 30% mengisi lapangan kerja formal. Upaya mengirim TKI ke luar negeri dilakukan karena jumlah lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang masuk ke pasar kerja yang apabila hal ini terus terjadi akan menimbulkan angka pengangguran yang semakin tinggi. Data tahun 2006 menunjukkan bahwa dari 2,7 juta orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, telah berhasil mengirimkan remitansi ke Indonesia mencapai US$.5,0 miliar dari 15 negara penempatan. Angka ini merupakan angka yang tercatat meiaiui mekanisme perbankan, yang diperkirakan jumlahnya sekitar 50-60%, sedangkan sisanya dikirim melalui jasa non-Bank. Meskipun demikian jumlah tersebut sangat signifikan karena devisa tersebut langsung masuk ke daerah-daerah asal TKI terutama untuk membangun ekonomi keluarga untuk produktif. Apabila dibandingkan dengan sektor lain seperti Elektronik mendatangkan devisa sebesar US$ 6,9 M, meskipun jumlahnya lebih tinggi, namun remitansi tersebut langsung masuk ke desa-desa yang dapat menggerakkan ekonomi perdesaan. Sedangkan sektor Pariwisata hanya mendatangkan devisa US$ 4,4 M. Permasalahan yang harus segera di-pecahkan adalah dari 2,7 juta orang TKI, sekitar 70% adalah bekerja di sektor informal (sebagai buruh bangunan, buruh di perkebunan, dan Penata Rumah Tangga). Fokus perhatian terutama pada aspek perlindungan bagi TKW yang bekerja sebagai Penata Rumah Tangga. Berbagai instrumen hukum telah dibuat sebagai upaya untuk melakukan perlindungan hukum bagi TKW, namun dalam.kenyataannya masih banyak kasus-kasus yang terjadi seperti penganiayaan, pemerkosaan, penipuan yang dilakukan oleh majikan diluar negeri maupun oleh oknum petugas di dalam negeri. Advokasi dan pembelaan TKI diluar negeri ditempuh dengan melakukan kerjasama antar Perwakilan RI dengan lembaga Hukum di negara penempatan, serta pengangkatan Atase Tenaga Kerja untuk negara-negara penerima TKI. Demikian pula upaya pemberantasan calo/sponsor TKI di daerah asal, maupun di daerah embarkasi/debarkasi, dilakukan oleh Polri dan aparat terkait. Kesemua instrumen kebijakan tersebut dituangkan melalui INPRES No 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI. Upaya untuk meningkatkan jumlah TKI yang bekerja di sektor formal terkendala oleh ketersediaan calon tenaga kerja terampil dan profesional serta lemahnya penguasaan bahasa asing sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya. Tingginya permintaan dunia terhadap tenaga kerja terampil sudah seharusnya diisi oleh Indonesia. Sebagai ilustrasi dibawah ini disampaikan 10 negara pengirim tenaga kerja dengan perolehan remitansi yang besar. Lembaga Pendidikan dan Pelatihan menipunyai ruang yang sangat besar untuk ikut berpartisipasi secara aktif mendidik/melatih guna mencetak tenaga kerja muda profesional mengisi pasar tenaga kerja dunia. Pada tahun 2006 Philipina telah berhasil mengirimkan sekitar 6 juta Tenaga Kerja ke luar negeri (Phifipino Overseas worker), dan memperoleh remitansi terbesar ke-4 dunia (US$12,6 M), dengan 55 negara tujuan penempatan (30 negara Utama) diantaranya Timur Tengah. Dari Gambar 3 terlihat India memperoleh remitansi tertinggi yaitu sebesar US$ 27,5 M yang sebagian besar bekerja di sektor formal.
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan sebagai berikut: Saat ini Indonesia dihadapkan oleh tingginya angka pengangguran yang apabila tidak segera dipecahkan akan menimbulkan permasalahan sosial ekonomi secara terus menerus. Upaya pemerintah untuk menurunkan angka pengangguran melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi, secara statistik telah menunjukkan angka penurunan, namun jumlah tingginya angkatan kerja yang terus mengalir setiap tahun belum mampu dikendalikan. Penurunan angka penganguran yang belum signifikan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sejauh ini belum mampu mendorong penciptaan lapangan kerja terutama lapangan kerja produktif. Jumlah pengangguran terbuka pada bulan Pebruari 2007 mencapai 10,55 juta orang atau 9,75 persen dari angkatan kerja, masih cukup besar meskipun jumlah ini telah berkurang sebesar 384 ribu orang. Target pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6,8 persen diharapkan akan menurunkan angka pengangguran terbuka menjadi 8,8 – 9,9 juta orang atau 8,0 – 9,0 persen dari angkatan kerja. Charles A. Beard, seorang historikus politik yang terkenal dalam salah satu karyanya yang dikutip oleh Albert Lepawsky dalam bukunya Administration pada tahun 1937 mengatakan bahwa “tidak ada satu hal untuk abad modern sekarang ini yang lebih penting dari administrasi. Kelangsungan hidup pemerintahan yang beradab dan malahan kelangsungan hidup dari peradaban itu sendiri akan sangat tergantung atas kemampuan kita untuk membina dan mengembangkan suatu administrasi yang mampu memecahkan masalah-masalah masyarakat modern”. Sarjana Amerika yang lain, yaitu James Burnham pernah pula mengatakan bahwa revolusi politik dans osial a kan t imbul d an diselesaikan, akan tetapi akan ada revolusi pada abad modern ini yang tidak akan pernah selesai yaitu managerial revolution yang akan menimbulkan suatu kelas terpenting dalam suatu masyarakat yaitu the managerial class. Jika pendapat kedua ahli tersebut dianalisa lebih mendalam seseorang akan menarik kesimpulan bahwa tegak rubuhnya suatu negara, maju mundurnya peradaban manusia serta timbul tenggelamnya bangsa-bangsa di dunia tidak dikarenakan perang nuklir atau malapetaka akan tetapi akan tergantung pada baik buruknya administrasi yang dimiliki. Pelaksanaan sesuatu keputusan dengan efisien dan ekonomis merupakan sasaran utama dari administrasi dan managemen. Peranan kepemimpinan dalam proses administrasi dan managemen, diketahui bahwa kepemimpinan (leadership) merupakan inti dari managemen. (Nurbaiti. 2002). Pemimpin merupakan “motor atau daya penggerak daripada semua sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia bagi suatu organisasi”. Karenanya dapat dikatakan bahwa sukse atau tidaknya suatu organisasi mencapai tujuan yang telah ditentukan sangat tergantung atas kemampuan para anggota pimpinannya untuk menggerakkan sumber-sumber dan alat-alat tersebut sehingga penggunaannya berjalan dengan efisien, ekonomis dan efektif.

BEKERJA DI LUAR NEGERI SALAH SATU ALTERNATIF | ok-review | 4.5