ATRIBUSI TERHADAP ORANG LAIN

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Prinsip-prinsip teoritis ini biasanya diterapkan pada atribusi tentang mengatribusikan perilaku orang lain. Pertanyaan yang paling pokok adalah sebagai berikut: Bilakah kita menarik kesimpulan bahwa tindakan orang lain mencerminkan pembawaan sejati seperti ciri, sikap, keadaan hati, atau keadaan intern lain misalnya menemukan bahwa berbagai objek jatuh dari tempat tinggi ke tempat rendah, tidak terkecuali apakah objek itu bulu burung atau peluru meriam, baik dari puncak gedung atau dari ketinggian sebatas pinggang, maka mereka menyimpulkan bahwa terdapat faktor penyebab umum — yaitu, gaya tarik bumi. Seperti psikolog yang naif, orang awam mengamati perilaku orang lain dan mencari pengaruh tetap yang tidak bervariasi, yang mengikuti stimulus tertentu. Dengan cara itu mereka akan sampai kepada sebuah atribusinya? Bilakah kita menyimpulkan bahwa orang lain sesuai dengan situasi eksternnya? Atau, guna lebih menempatkannya secara kontras, bilakah kita membuat kesimpulan pembawaan yang bertentangan dengan kesimpulan situasional ?
Kita tahu bahwa orang tidak selalu melakukan atau mengatakan apa yang diyakininya. Seorang tawanan perang mungkin akan mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan sikapnya yang sebenarnya. Atau, seorang pemuda barangkali akan gembira dan bahagia di sekolah setelah semalam ia ditinggal pergi pacarnya. Sebaliknya, adakalanya tawanan perang mengungkapkan kecaman yang murni keluar dari hatinya terhadap rencana penyerangan negaranya. Hal ini pasti terjadi di Vietnam pada beberapa serdadu Amerika dan penerbang. Dan pemuda tadi mungkin merasa lega sejati karena hubungan dengan pacarnya selama ini membuatnya tertekan. Jadi, bagaimana kita dapat membedakan bilakah tindakan seseorang itu benar-benar merupakan cerminan sikap internnya atau merupakan ciri lain?
Prinsip keraguan menyatakan bahwa terlebih dahulu kita harus mempertimbangkan apakah paksaan ekstern yang mungkin akan me-ngarahkan seseorang untuk salah menempatkan sikapnya yang sejati atau tidak. Contohnya, apakah seseorang m’engarahkan senjatanya ke kepala orang tersebut? Jika demikian, dapat dibuat atribusi ekstern. Tidak terdapatnya paksaan ekstern masuk akal semacam itu, penyebab ekstern tetap akan meragukan sifatnya, dan harus dibuat atribusi intern, yakni: Orang tersebut harus benar-benar bersikap sesuai dengan perkataannya. Sejumlah telaah menunjukkan bahwa prinsip keraguan berlaku bila para pengamat mencoba untuk menentukan sikap sejati orang lain. Jones dan Harris (1967) memberikan karangan kepada para subjek, yang ditulis oleh mahasiswa lain dalam empat kondisi, yaitu: Karangan-karangan yang mendukung Fidel Castro atau yang menentangnya dan yang diduga telah ditulis berdasarkan tugas atau berdasar pilihan bebas.
Dengan kondisi pilihan bebas, para pengamat segera menyimpulkan bahwa pendapat yang dikemukakan penulis sama dengan sikap dasarnya yang sejati. Pidato pro-Castro dan anti-Castro dianggap mencerminkan sikap dasar pro atau anti-Castro. Para subjek meragukan kemungkinan sebab-akibat ekstern, karena terdapatnya pilihan bebas. Sebaliknya, jika penulis digambarkan tidak mempunyai pilihan (paksaan ekstern yang kuat), maka para pengamat biasanya masih merasa bahwa sikap tertulis itu mencerminkan sikap yang mendasarinya, tetapi mereka kurang merasa yakin akan hal itu. Dengan kata lain, prinsip keraguan menyatakan bahwa khususnya kita lebih menekankan ekstern jika memang terdapat bukti. Dalam telaah Jones dan Harris ini, para pengamat nampaknya lebih beralasan untuk membuat atribusi ekstern atas sikap terhadap Fidel Castro yang diungkapkan dalam karangan, jika penulisnya tidak mempunyai pilihan mengenai pendirian yang akan mereka tulis. Kelihatannya para pengamat sebagian meragukan kemungkinan diambilnya atribusi intern (bahwa penulis sebenarnya percaya akan pendirian yang diambil dalam karangan), dengan mendapat tekanan ekstern yang jelas.
Faktor kedua adalah pengharapan akan sikap sejati yang mendasari individu, menurut informasi apa pun yang kita punyai tentang orang tersebut. Biasanya kita tahu lebih banyak tentang orang tersebut dibandingkan satu pernyataan sikap ini saja. Mungkin kita pernah mendengar orang itu berbicara mengenai masalah tersebut sebelumnya, atau kita pernah mendengarnya membicarakan masalah lain yang ada hubungannya dengan masalah itu. Setiap jenis informasi tambahan akan memberikan harapan yang membantu kita untuk membuat kesimpulan yang meyakinkan mengenai masalah yang sedang dibicarakan. Kita sudah lama tahu bahwa teman kita telah lama menjadi pendukung gerakan pembebasan di Afrika Selatan. Nah, ketika makan malam bersama orang tuanya, dia menganggukkan kepala dalam menanggapi setiap pernyataan konservatif orang tuanya, maka bagaimanapun kita akan menyimpulkan bahwa ia adalah pendukung gigih gerakan pembebasan dan kita akan membuat atribusi ekstern tersebut pada anggukannya. Kita memiliki informasi di masa lalu mengenai sikapnya terhadap masalah itu, sehingga kita sudah dapat menduga apa yang diyakininya. Informasi itu kita persepsikan dengan perilaku yang baru ditunjukkan (yang kelihatan agak anti-gerakan) dan paksaan ekstern (dia tidak mau berdebat dengan orang tuanya) sehingga kita dapat mengambil atribusi yang meyakinkan.
Biasanya, seperti dikemukakan dalam contoh, kita condong membuat lebih banyak atribusi ekstern jika orang selalu menunjukkan pola perilaku yang sudah menjadi kebiasaannya. Contohnya, Kulik (1983), menyuruh subjek menonton video tentang obrolan diantara para mahasiswa dengan latar belakang yang berlainan. Para mahasiswa berperilaku terbuka secara konsisten, tertutup secara kon¬sisten, atau perilaku tidak konsisten dalam kedua episode. Para mahasiswa lebih condong membuat atribusi situasional untuk episode kedua jika ia konsisten dengan episode pertama. Kulik menyebutnya sebuah “atribusi pen-dukung,” yakni: Orang mengangkat atribusi yang menguatkan harapan atau skema terdahulu yang mereka punyai tentang orang lain. Jika orang bertindak konsisten dengan skema kita yang terdahulu tentang mereka, kita percaya bahwa perilaku tersebut dari sikapnya sungguh mempunyai sebab akibat. Jika mereka menunjukkan perilaku yang baru dan berbeda dari yang terdahulu, kita percaya bahwa penyebabnya adalah situasional. Kebutuhan mendukung/menguatkan skema terdahulu itu sedemikian kuatnya sehingga ia juga terjadi dalam telaah ini, yaitu ketika skema itu hanya berdasarkan pengenalan lewat video yang singkat mengenai orang tersebut. Sumber umum kedua tentang pengharapan kita akan sikap orang lain berasal dari pengetahuan kita akan sikapnya terhadap masalah lain. Meskipun kita belum pernah mendengar teman kita berbicara mengenai gerakan pembebasan kulit hitam di Afrika Selatan, mungkin kita sudah menduga secara meyakinkan bagaimana perasaannya dalam membicarakan tentang masalah-masalah lainnya, seperti revolusi di Amerika Tengah, penerimaan khusus golongan minoritas, dan lain sebagainya.
Guna menguji hal ini, Jones dan sejawatnya (1971) melakukan sebuah eksperimen yang hampir menyerupai telaah Jones-Harris sebelum ini, akan tetapi, kali ini langsung membedakan informasi sikap tambahan dengan masalah lain yang dianut penulis karangan. Apalagi penulis itu entah mempunyai atau tidak pilihan bebas tentang pendirian yang dianut di dalam karangan tersebut. Seperti dalam telaah Jones dan Harris, pilihan menjurus ke arah atribusi intern yang lebih meyakinkan. Jika pendirian yang dianut dalam karangan itu diharapkan berasal dari sikap lain penulis, maka para pengamat membuat atribusi intern yang pasti meskipun penulis tidak mempunyai pilihan pendirian. Atau dengan kata lain, para pengamat merasa bahwa perilaku terbuka sesuai dengan sikap sejati yang mendasarinya, yaitu (1) jika tidak ada paksaan ekstern yang kelihatan (kondisi pilihan bebas), atau (2) jika pendirian terbuka itu konsisten dengan harapan mengenai sikap sosio-politik yang menyeluruh dari penulis, meskipun mendapat paksaan ekstern yang kuat. Pada umumnya, kemudian, para pengamat menyimpulkan perilaku terbuka terhadap pendirian intern jika tidak terdapat paksaan ekstern yang jelas, atau jika mereka memiliki informasi lain tentang perilaku masa lalu yang memungkinkan mereka meragukan peranan paksaan ekstern.

ATRIBUSI TERHADAP ORANG LAIN | ok-review | 4.5