ATRIBUSI TERHADAP DIRI SENDIRI

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Bahwa emosi, sikap, ciri, dan kemampuan kita seringkali tidak jelas dan meragukan kita sendiri. Kita harus menyimpulkannya dari perilaku terbuka kita dan persepsi kita tentang paksaan lingkungan di sekitar kita. Pendekatan tersebut menyatakan bahwa dalam persepsi-diri-sendiri, seperti halnya persepsi terhadap orang lain, maka kita mencari asosiasi penyebab-akibat tetap serta menggunakan prinsip keraguan untuk membagi tanggung jawab tentang berbagai sebab yang masuk akal. Jika kita mempersepsikan paksaan ekstern yang kuat mendorong kita ke arah perilaku kita sendiri, maka kita akan terdorong untuk sampai ke atribusi situasional. Andaikata tidak terdapat paksaan .ekstern yang jelas, kita mengasumsi bahwa atribusi dispositional akan lebih tepat. Pendekatan ini telah banyak mendorong diadakannya riset tentang persepsi-diri-sendiri atas sikap, motivasi, dan emosi.
Sikap
Sudah sejak lama para psikolog mengasumsikan bahwa orang menilai sikap mereka sendiri melalui introspeksi, yaitu dengan meninjau kembali berbagai kognisi dan perasaan secara sadar. Bem (1967), sebaliknya, berargumentasi bahwa kita hanya menerima petunjuk intern yang minimal dan meragukan akan sikap kita, seperti halnya kita juga tidak mempunyai jalan pendekatan langsung atas petunjuk intern orang lain. Jika demikian halnya, maka kita harus menyimpulkan sikap kita sendiri dengan jalan mengamati perilaku bawaan kita. Jika kita mengamati perilaku kita sendiri dalam situasi di mana tidak ada paksaan ekstern yang kuat, maka kita asumsikan bahwa kita hanyalah mengungkapkan sikap sejati kita sendiri dan membuat atribusi intern. Sebaliknya, jika terdapat tekanan ekstern yang kuat atas diri kita untuk melakukan sesuatu (seperti mendapat tugas tertentu dalam suatu perdebatan), maka kita mempersepsikan pernyataan kita itu sebagai disebabkan secara ekstern.
Dengan kata.lain, kita belajar tentang sikap kita sendiri dengan mengamati-bagaimana kita berperilaku dalam lingkungan yang mempunyai tekanan ekstern berlainan di dalamnya, dan bukan dengan mengintrospeksi bagaimana perasaan kita. Bem tidak beranggapan bahwa orang tidak pernah mempergunakan kenyataan intern, justru karena sampai suatu tingkat tertentu yang mengherankan, orang bergantung kepada kenyataan ekstern perilaku bawaan mereka dan kondisi yang menimbulkan- nya, untuk menyimpulkan sikap sejati mereka sendiri. Untuk menguji teori Bem tentang persepsi diri sendiri, kita harus memanipulasikan persepsi perilaku seorang individu sementara memegang faktor lain dengan konstan (seperti perilaku aktual dan tekanan lingkungan). Kemudian kita menentukan apakah persepsi orang tersebut atas perilakunya menentukan persepsi atas perilakunya sendiri. Guna mengujinya, Salancik dan Conway (1975) dengan cerdik memanipulasi uraian para subjek atas perilaku relegius mereka, yaitu: Beberapa di antaranya ditanyai apakah mereka “kadang-kadang” membaca koran atau majalah religius, pergi ke gereja atau ke sinagoga, atau berkonsultasi dengan pendeta tentang masalah pribagi mereka. Banyak mahasiswa turut serta dalam gerakan religius semacam ini, sehingga mereka dalam kondisi ini melaporkan berbagai perilaku religius. Lainnya ditanyai apakah mereka “sering” melakukan hal itu. Karena kebanyakan mahasiswa tidak melakukannya secara “sering,” maka para mahasiswa dalam kondisi ini sedikit sekali melaporkan perilaku religius. Oleh karena itu kedua kelompok tersebut telah dipilih secara acak. Dalam kenyataannya, mereka diduga hampir sama dalam perilaku aktual. Karena terdapatnya perbedaan di dalam pengungkapkan masalah, maka kelompok subjek pertama menggambarkan diri mereka sebagai terlibat dalam berbagai macam perilaku religius, sedang kelompok kedua menggambarkan sedikit tindakan religius. Dengan sendirinya, ketika kemudian mereka ditanya tentang sikap religiusnya secara keseluruhan dalam bentuk pertanyaan “Seberapa religiuskah Anda?,” maka kelompok pertama yang diminta menggambarkan keterlibatan dirinya dalam perilaku religius mengatakan bahwa pada umumnya mereka lebih religius.
Motivasi
Gagasan yang sama telah diterapkan terhadap persepsi diri akan motivasi. Gagasannya adalah bahwa pelaksanaan tugas demi penghargaan tinggi, akan menjurus kepada atribusi eksternal — yaitu, saya melakukannya karena telah dibayar tinggi untuknya. Melaksanakan yang sama dengan penghargaan rendah akan menjurus kepada atribusi intern — saya tidak seyogianya telah melakukannya demi sedikit uang tersebut, sehingga saya harus sudah melakukannya karena saya benar-benar menikmatinya. Hal ini akan menjurus kepada ramalan paradoksal bahwa penghargaan rendah akan menjurus ke minat intrinsik yang amat besar akan suatu tugas karena orang tersebut mengatribusikan pelaksanaan tugas tadi dengan minat jntrinsik, dan bukan dengan penghargaan £kstrinsik. Dengan kata lain, pembenaran berlebihan untuk terlibat ke dalam suatu aktivitas akan merongrong minat intrinsik akan aktivitas tersebut. Peragaan paling awal tentang pembenaran berlebihan ada bermacam-macam, tanpa meli¬hat apakah murid taman kanak-kanak yang diberi hadiah untuk turut serta dalam sebuah tugas (bermain dengan mata pena) yang memang mereka sukai (Lepper, Greene, &Nisbett, 1973). Beberapa anak diberi tahu bahwa mereka akan mendapat sebuah “Piala Pemain Terbaik” dengan bintang emas dan pita jika mereka mau menggambarkan dengan memakai pena selama beberapa menit. Anak lainnya tidak diberitahu sama sekali tentang hadiah tadi. Semua anak menyelesaikan gambar mereka, lalu kelompok pertama diberi hadiah. Beberapa hari kemudian, semua anak tersebut diamati dalam situasi bermain bebas dengan pena yang sama. Anak-anak yang telah pernah mendapat hadiah hanya mempergunakan setengah waktu mereka untuk menggambar dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapat hadiah. Ternyata minat intrinsik mereka untuk menggambar telah “dirusakkan” atau dikurangi oleh penghargaan ekstrinsik. Penemuan ini kemudian diulang berkali-kali dalam berbagai konteks. Kunda dan Schwartz (1983) misalnya, menyuruh para subjek agar membantu mencatat bahan-bahan bagi seorang mahasiswa tunanetra dengan atau tanpa bayaran. Setelah itu mereka ditanyai sampai sejauh mana kewajiban moral mereka untuk membantu orang lain dengan berbagai cara, termasuk membacakan pekerjaan sekolah kepada seorang mahasiswa tunanetra. Mereka yang tidak mendapat bayaran merasa lebih bertanggung jawab. Jika penghargaan ekstrinsik untuk melakukan tugas-tugas menyenangkan mengurangi minat intrinsik, maka ancaman esternal yang mencegah keterlibatan dalam perilaku tertentu, akan meningkatkan minat. Contohnya, semakin keras hukuman atas pemakai obat bius, akan semakin menariklah obat tersebut di mata orang. Di sini orang mengatribusikan penghindaran terhadap aktivitas berisi ancaman tersebut, dan bukan keadaan tidak menyenangkan dari aktivitas itu sendiri. Wilson dan Lassiter (1982) menemukan beberapa bukti untuk hipotesis ini ketika mereka mencampurkan hukuman dengan ancaman bagi penipuan. Pengalasan yang sama juga menyatakan bahwa akibat pembenaran berlebihan seyogianya meningkat jika penghargaan eksternal dibuat lebih menonjol (Roos, 1975) dan menurun jika perhatian awal yang sebenarnya terhadap aktivitas tersebut dibuat lebih menonjol. Dalam sebuah eksperimen guna menguji hal tersebut, Fazio (1981) menyuruh anak-anak bermain dengan bolpen ajaib, lalu memvariasikan apakah mereka melihat pottet diri mereka ketika mengerjakan tugas yang sangat menyenangkan ini sebelumnya atau tidak. Dalam hal lain, eksperimen tersebut hampir serupa dengan telaah Lepper et al. (1973) yang diuraikan di atas. Anak-anak yang telah melihat foto-foto permainan mereka sebelumnya, maka perhatian intrinsik awalnya untuk bermain dengan bolpen ajaib tersebut sangat menonjol. Jadi, penghargaan ekstrinsik sedikit sekali rongrongannya di sini. Anak-anak tersebut tahu bahwa mereka memang benar-benar menyukai bolpen ajaib itu, jadi mereka mengatribusikan permainan mereka selanjutnya demi kesenangan sendiri, bukan demi penghargaannya. Implikasi dari riset ini penting sekali. Penghargaan adakalanya .menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, yaitu: Penghargaan itu dapat menjauhkan orang secara aktual dari segala aktivitas yang mungkin akan mereka nikmati,, dan bukannya memberikan dorongan. Hukuman pun dapat membuat aktivitas terlarang kelihatan lebih menarik, meskipun bukti mengenai hal ini lebih sedikit jumlahnya.
Emosi
Para ahli teori tradisional tentang emosi menyatakan bahwa kita mengenal apa yang kita rasakan dengan mempertimbangkan keadaan fisiologis kita sendiri, keadaan mental kita, dan stimulus ekstern yang menyebabkan keadaan tersebut. Namun, bukti terakhir menunjukkan bahwa berbagai reaksi emosional, secara biokimia serupa. Kita dapat membedakan rangsangan tinggi dari rangsangan rendah, tapi tidak dapat membedakan berbagai jenis emosi. Sebagai contoh, sukar sekali membedakan antara rasa cemburu yang berlebihan dari rasa cinta yang besar. Oleh karenanya, kita memerlukan informasi lain guna menginden- tifikasi emosi kita.                ^
Stanley Schachter (1962) telah mengambil pendekatan persepsi-diri-sendiri berdasar emosi. Ia menyatakan bahwa persepsi terhadap embsi kita tergantung dari (1) tingkat rangsangan fisiologik yang kita alami dan (2) ciri kognitif yang kita terapkan seperti “marah” atau “senang.” Untuk sampai kepada ciri kognitif, kita meninjau perilaku kita sendiri serta situasinya. Jika secara fisiologik kita dan mentertawakan pertunjukan komedi di televisi, maka dapat kita simpulkan bahwa kita merasa senang. Jika kita membentak seseorang karena dia telah mendorong kita di jalan yang padat, maka dapat kita simpulkan bahwa kita marah. Pada setiap kasus, perilaku dan interpretasi kita tentang keadaan akan melengkapi kita dengan ciri kognitif yang memungkinkan kita untuk menginterpretasikan pengalaman intern kita mengenai rangsangan emosi. Seperti teori Bem tentang teori persepsi-diri-sendiri, segi pandangan ini kembali menekankan sifat meragukan dari keadaan intern, dan karena itu persepsi-diri-sendiri sangat tergantung dari persepsi atas perilaku yang timbul dan lingkungan eksternal. Schachter dan rekan-rekannya melakukan sejumlah telaah berdasarkan gagasan bahwa rangsangan fisiologik yang. tinggi akan meningkatkan pencariar penyebab yang tepat. Jika terdapat atribusi yang masuk akal bagi rangsangan, maka ia akan diterima. Jika tidak terdapat rangsangan semacam itu, orang tersebut akan mencari lingkungan guna memperoleh sesuatu’ yang meyebabkan terjadinya penimbulan itu. Apa pun yang diberikan lingkungan sebagai penjelasan, juga akan memberikan ciri bagi emosi. Jika mendadak Anda merasa sangat bergelora secara fisiologik namun tidak tahu apa sebabnya, Anda tentu akan mencari secara cepat apa penyebabnya. Jika tiba-tiba Anda ingat bahwa seseorang baru saja menghina Anda, maka Anda dapat menandai rangsangan itu sebagai kemarahan terhadap orang tadi, dan menjelaskannya menurut penyebab tadi. Nampaknya hal ini biasanya dilakukan dengan sadar dan penuh kesengajaan, namun semuanya itu terjadi dalam waktu yang amat singkat sehingga kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang melakukan proses tersebut. Jadi, gagasan pokoknya ialah bahwa rangsangan tidak dapat dibedakan dan menjurus kepada usaha untuk menjelaskannya, sehingga kita seringkali memperoleh penjelasan apa saja yang diberikan lingkungan, dan menggunakan penjelasan tadi guna melengkapi penandaan khusus bagi emosi kita. Pada awal dilakukannya eksperimen-eksperimen tersebut, memberikan obat perangsang kepada para subjek, yaitu epinephrine, yang mengakibatkan rangsangan fisiologik yang umumnya diasosiasikan dengan emosi. Beberapa subjek diberitahu bahwa obat itu akan menghasilkan rangsangan fisiologik yang nampak jelas seperti detak jantung yang lebih cepat, sedang subjek lainnya tidak diberitahu apa-apa. Beberapa subjek yang sudah terangsang dapat mengatribusikan keadaan intern mereka kepada obat tadi, sedangkan subjek lainnya tidak memiliki penjelasan yang gamblang. Semua subjek kemudian ditempatkan dalam sebuah situasi di mana seorang anak buah pembuat eksperimen pura-pura mengalami emosi tertentu.

ATRIBUSI TERHADAP DIRI SENDIRI | ok-review | 4.5