ASPEK GENETIK PENYAKIT MENTAL

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Psikologi

Gagasan bahwa ‘kegilaan’ bersifat turunan merupakan suatu gagasan kuno, namun sebelum abad keduapuluh hal tersebut tidak pernah dieksplorasi secara sistematis dan ilmiah. Ada dua perkembangan utama pada awal abad ini yang memungkinkan eksplorasi itu. Pertama adalah penemuan kembali hukum pewarisan Mendel pada tahun 1900 (setelah sekian lama diabaikan sejak publikasinya pada 1866), yang menandai lahirnya sebuah ilmu baru yang pada 1909 dinamakan Bateson sebagai ilmu genetika. Kedua adalah elaborasi dari sebuah sistem klasifikasi gangguan mental yang diterima dan dipakai secara luas, yang terutama dilandaskan pada karya ahli psiko-patologi Jerman, Emile Kraepelin. Akan tetapi, dari luar, usaha mempertemukan pengamatan terhadap pola pev. arisan gangguan- gangguan mental umum dalam sebuah keluarga dengan hukum-hukum Mendel terbukti tidak mudah. Sejumlah gangguan yang relatif kurang dikenal sebagai perwujudan neuropsikiatris, seperti penyakit Huntington, jelas memperlihatkan pewarisan yang dominan (50 persen dari anak-anak yang orang tuanya terkena penyakit ini memperlihatkan gangguan tersebut), dan sejumlah bentuk kelambatan mental yang menun-ukkan pola resesif (25 persen dari anak-anak terkena kalau kedua orang-tuanya adalah ‘carrier’ yang tidak terjangkit). Sedangkan bentuk-bentuk gangguan mental yang lebih umum seperti sehi- zofrenia atau penyakit manic-depresif memperlihatkan gambaran yang lebih rumit. Kedua gangguan itu muncul lebih sering pada kaum kerabat para penderita ketimbang populasi secara keseluruhan, namun tidak tampak adanya pola yang teratur dalam keluarga-keluarga penderita, dan banyak pasien tidak memiliki sejarah penyakit itu dalam keluarganya. Oleh karena itu, pertanyaan yang muncul adalah apakah sehizofrenia dan depresi-manic berputar-putar dalam suatu keluarga hanya lantaran efek-efek lingkungan dan bukan melalui mekanisme genetik. Jawabannya datang dari para peneliti yang memakai anak-anak kembar sebagai ‘bahan eksperimen’. Kembar-kembar yang identik, atau monozigotik (MZ), memiliki gen-gen yang sama serta hidup dalam lingkungan yang sama. Kembar-kembar yang non-identik, atau dizigotik (DZ), rata-rata memiliki kesamaan gen sebesar 50 persen dan diasumsikan mereka hidup dalam kesamaan lingkungan yang setara dengan kembar-kembar MZ, khususnya jika jenis kelaminnya sama.
Dengan demikian, seandainya kembar-kembar MZ lebih sering bersesuaian (artinya keduanya sama-sama terjangkit) ketimbang kembar-kembar DZ untuk gangguan sehizofrenia atau manic-depresif, maka itu berarti faktor-faktor genetik memainkan peran. Penggunaan anak- anak kembar sebagai alat untuk mempelajari tingkah-laku genetik manusia mula-mula disarankan oleh Francis Galton pada akhir abad sem- bilanbelas, tapi metodologi-metodologi ini tidak bekerja sempurna hingga disempurnakan pada tahun 1920-an dan 1930-an oleh Luxenberg dan ahli psikiatri mahzab Munich lainnya. Para ahli riset bisa menunjukkan bahwa persesuaian MZ lebih tinggi ketimbang DZ untuk sehizofrenia, manic-depresif dan berbagai kondisi lainnya. Tragisnya, bukti bahwa gen-gen memainkan peran dalam gangguan-gangguan mental diambil-alih oleh partai Nazi dan digunakan untuk mendukung kebijakan euginiknya (ilmu perbaikan keturunan), yang mau tidak mau menyebabkan para penderita gangguan mental disterilkan atau dibasmi atas dasar asumsi yang naif bahwa pembantaian itu perlu demi menghapuskan gangguan-gangguan mental pada generasi berikutnya. Hasilnya, setelah Perang Dunia Kedua, terjadi pemusnahan, namun bukan pemusnahan mental melainkan pemusnahan ilmu genetik psikiatrik modern yang sebenarnya sangat penting dari negeri asal-mula kelahirannya. Kecurigaan umum terhadap genetika pada umumnya dan ilmu psikiatri genetik pada khususnya, masih tertanam kuat di Jerman. Untunglah para ahli riset di negara lain  seperti ahli psikiatri Inggris Eliot Slater dan Eric Stromgren dari Denmark yang sama-sama pernah menjadi Dosen Tamu di Munich tetap mempertahankan kelangsungan ilmu psikiatri genetik tersebut. Dari catatan-catatan penduduk diambil data untuk melakukan studi terhadap anak-anak kembar yang menitikberatkan pada schizofrenia, dan juga manic-depresi, alkoholisme, dan gangguan-gangguan neurotik. Cara ini menjadi metode yang memiliki kepastian sistematis (atau sampling), yang mengatasi potensi bias pada studi-studi terdahulu yang cenderung melakukan oversampling terhadap kembar-kembar yang mencolok, yakni kembar-kembar yang monozigotik dan bersesuaian. Buat pertama kalinya para ahli riset berusaha mengatasi bias-bias diagnostik dengan menggunakan kriteria yang eksplisit dan para peneliti tidak mengetahui jenis zigot dan diagnosis pasangan dari kembar yang ditelitinya. Metode lain yang dikembangkan untuk memisahkan efek genetik dari efek lingkungan keluarga adalah studi mengenai anak yang sejak dini telah terpisah dari orang-tua kandungnya karena diadopsi atau diasuh orang lain. Studi tentang anak adopsi pertama kali dilakukan oleh Heston pada penghujung 1960-an, di mana ia menemukan bahwa lima dari empat puluh tujuh orang anak yang dibesarkan secara terpisah dari ibu kandungnya yang menderita schizofrenia ternyata terkena gangguan yang sama. Ini kontras dengan data kelompok kontrol, yakni nol dari limapuiuh orang anak. Publikasi dari hasil-hasil studi anak- adopsi lainnya segera bermunculan, dan yang paling berpengaruh adalah karya Kety dan rekan-rekannya yang mencocokkan catatan adopsi dan catatan psikiatri di Denmark. Dalam serangkaian studi itu dapat dikonfirmasikan bahwa faktor vital yang menentukan schizofrenia adalah faktor biologis dan bukan hubungan adopsi dengan penderita. Hal ini terus berkembang hingga kalangan anti-psikiatri seperti R.D. Laing menyerang pendekatan medikal ortodoks dalam meng-hadapi schizofrenia, dan yang lain, seperti T. Szasz, yang mengklaim bahwa keseluruhan konsep sakit mental hanyalah mitos. Kety kemudian menyerang balik dengan mengemukakan bahwa seandainya “schizofrenia adalah mitos, berarti ia adalah mitos yang memiliki landasan genetis yang kuat”. Studi-studi yang menggunakan metode anak kembar/adopsi berusaha menunjukkan kemungkinan sumbangan genetik terhadap aneka gangguan, termasuk manic-depresif jenis bipolar (episode-episode mania dan depresi) dan depresi unipolar (episode-episode depresi saja) serta jenis- jenis tertentu gangguan kecemasan dan, yang lebih kontroversial, alkoholisme dan juga kepribadian antisosial dan kriminal. Riset dalam psikiatri genetik berusaha melangkah lebih jauh daripada sekedar mendemostrasikan bahwa sumbangan faktor genetik itu ada. Mereka berusaha menggunakan model statistik yang cocok dengan teknik-teknik untuk memperkirakan seberapa besar variasi peran faktor genetik dalam menimbulkan gangguan-gangguan itu, bagaimana peran lingkungan keluarga dan lingkungan individu yang lebih spesifik. Teknik-teknik pencocokan mode juga digunakan untuk menguji dan membedakan antara mode trasmisi melalui gen tunggal, poli-genik (banyak gen dengan efek kecil) atau oligogenik (banyak gen). Pendekatan statistikal semacam ini menjadi dasar bagi tahap berikutnya, yakni melokalisasi dan akhirnya mengidentifikasi gen-gen yang bertanggung-jawab atas terjadinya gangguan mental dengan menggunakan metode ikatan atau gabungan antar gen. Metode-metode demikian secara dramatis telah berhasil dalam studi tentang gangguan-gangguan neuropsikiatrik yang langka, seperti penyakit Huntington, dan juga kasus Alzheimer yang lebih sering terjadi. Persoalannya menjadi tidak sederhana bila gangguannya lebih kom-pleks seperti schizofrenia, akibat ketidakpastian dalam mode transmisinya. Namun kemajuan dalam ilmu genetika-molekuler telah hampir lengkap menyusun peta gen manusia (yakni duapuluh tiga pasang kromosom yang membawa bahan genetik) yang artinya sekarang telah dimungkinkan untuk meneliti tanda-tanda yang berhubungan dengan bahan-bahan yang lebih kompleks. Karena itu, tampaknya gen-gen untuk gangguan-gangguan mental yang lebih umum dan sering muncul, akan bisa dilokalisasikan tidak lama lagi.

ASPEK GENETIK PENYAKIT MENTAL | ok-review | 4.5