AGRESI DALAM KOMUNIKASI

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Pendekatan belajar menyatakan bahwa keterbangkitan motif akan menimbulkan perubahan sikap hanya bila dengan menerima pesan tersebut keterbangkitan akan berkurang. Bila rasa takut dibangkitkan dengan cara melihat gambar korban tetanus yang mengerikan, dan saya menerima pendapat komunikator, kemudian pergi untuk mendapatkan suntikan tetanus, rasa takut saya akan berkurang. Perubahan sikap tergantung pada pengurangan keterbangkitan. Hal yang sama berlaku juga untuk agresi. Keterbangkitan agresi akan menimbulkan perubahan sikap hanya bila komunikan dapat mengurangi agresinya dengan menerima sikap yang baru. Para pemimpin politik akan dapat menimbulkan perubahan sikap dengan cara menggerakkan agresi pengikut-pengikutnya tetapi hanya bila mereka menyajikan sesuatu untuk dibenci pada pengikut-pengikutnya, seperti seorang musuh atau kambing hitam yang tepat sehingga komunikan dapat mengungkapkan agresi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Weiss dari Fine (1956) menguji hipotesis ini, yaitu bahwa keterbangkitan agresi menimbulkan perubahan sikap hanya bila komunikasinya merupakan komunikasi yang agresif. Beberapa subjek ditempatkan pada situasi yang menjengkelkan dan menimbulkan frustrasi, yang dirancang untuk membuat mereka menjadi agresif. Subjek lainnya mengalami pengalaman sebaliknya mereka memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan. Kemudian kedua kelompok tersebut dihadapkan pada suatu komunikasi persuasif yang bertemakan sikap toleran terhadap kenakalan remaja, atau yang bersifat menghukum. Para peneliti mengajukan hipotesis bahwa subjek yang telah dijadikan agresif kemungkinan besar akan lebih menerima komunikasi yang bersifat menghukum, karena pesan yang bersifat menghukum akan memberi jalan bagi subjek yang agresif untuk mengungkapkan agresinya. Pesan yang bersifat toleran kemungkinan besar akan lebih memuaskan kebutuhan yang relatif tidak agresif dari subjek-subjek yang non agresif.
Hasilnya sesuai dengan dugaan ini, subjek I yang agresif lebih dipengaruhi oleh komunikasi yang bersifat menghukum, dan subjek yang nonagresif lebih dipengaruhi oleh komunikasi yang bersifat toleran. Jadi, frustrasi pribadi bisa membuat orang lebih rentan terhadap komunikasi persuasif yang mendukung aksi militer, serangan terhadap kaum minoritas, atau perlakuan kasar terhadap orang yang tidak setuju, tetapi mungkin frustrasi itu tidak akan meningkatkan kerentanan terhadap seruan nonagresif seperti kampanye amal.

AGRESI DALAM KOMUNIKASI | ok-review | 4.5