ADOPSI INOVASI PENEMUAN BARU

By On Tuesday, November 12th, 2013 Categories : Antropologi

Inovasi adalah penemuan-penemuan baru berupa gagasan, tindakan atau benda-benda baru yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat (Rogers, 1995: 10). Inovasi dapat berupa komponen nonfisik seperti ide, gagasan, metode, tetapi dapat pula berupa komponen fisik seperti alat, bahan atau mesin, atau merupakan campuran keduanya, yaitu komponen nonfisik dan komponen fisik. Menurut Koentjaraningrat, inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan distribusi produk-produk baru (Koentjaraningrat, 1983:260). Di dalam suatu inovasi terdapat ide baru yang dapat diaplikasikan untuk menghasilkan atau memperbaiki sebuah produk, proses atau pelayanan (Robbins, 1997: 532). Dengan kata lain suatu ide, gagasan atau produk yang baru pertama kali diketahui oleh seseorang dapat dikatakan sebagai inovasi bagi orang itu. Kemungkinan ide, gagasan atau produk itu bukan merupakan sesuatu yang baru di tempat lain, tidak menggugurkannya sebagai inovasi, karena inovasi tidak harus merupakan sesuatu yang baru sama sekali, sehingga penerapan konsep atau gagasan apa pun yang berbeda dari yang sudah ada atau yang pernah dilakukan sebelumnya dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas kerja dan pencapaian keuntungan, dapat dikategorikan sebagai inovasi (Andrew C. Crosby, 1968: 43).
Inovasi juga tidak mempersoalkan apakah ide pembaruan itu betul-betul baru atau tidak, dilihat dari selang waktu sejak digunakan atau diketemukan pertama kali. Hal yang baru dalam inovasi diukur secara subjektif, menurut pandangan individu masing- masing. Sesuatu yang penting dilihat pada inovasi adalah ada sesuatu yang baru, ada perubahan, yaitu mengubah sesuatu sehingga menjadi berbeda (Steven P. Robbins, 1997: 532). Inovasi tidak mempersoaikan apakah ide itu betul-betul baru atau tidak jika diukur dengan selang waktu sejak digunakan atau diketemukan pertama kali. Hal yang baru dalam inovasi diukur secara subjektif, menurut pandangan individu yang menangkapnya. Apabila sesuatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ide itu adalah inovasi bagi orang itu. Baru dalam ide yang inovatif tidak berarti harus baru sama sekali dalam arti pertama kali diketahui. Suatu inovasi mungkin telah lama diketahui tetapi saat itu ia belum mengembangkan sikap suka atau tidak suka terhadap inovasi tersebut serta belum memutuskan apakah inovasi itu akan diterima atau ditolak. Inovasi tidak terbatas pada penemuan baru, tetapi juga penerapan tiap konsep atau gagasan apapun yang berbeda dari apa yang sudah ada atau yang sudah terjadi atau dilakukan sebelumnya dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas dan pencapaian keuntungan (PeterF.Drucker, 1968: 43). Inovasi yang merupakan suatu konsep yang sangat terkait dengan keinovatifan, ia merupakan objek yang menjadi alat dalam melakukan perubahan. Inovasi memiliki karakteristik yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan individu atau masyarakat dalam mengadopsi inovasi. Ada lima ciri utama yang harusnya ada pada gagasan baru agar dapat diterima sebagai bagian dari hidup individu maupun kelompok (Philip Kotler, 1983: 160), yaitu: (1) dapat menguntungkan (relative advantage) pengguna gagasan baru tersebut, (2) kecocokan (compatibility) dengan nilai dan karakter budaya individu dan kelompok, (3) kerumitan (complexity) dari gagasan baru dimaksudkan,(4) dapat dibagikan (divisibility), dan (5) mudah dikomunikasikan (communicability). Ada dua tipe keputusan inovasi, yaitu: (1) keputusan otoritas, yaitu keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh orang lain yang menjadi atasannya, (2) keputusan individual, yaitu proses pengambilan keputusan dimana individu yang bersangkutan terlibat di dalamnya. Keputusan individual dibedakan lagi menjadi dua, yaitu: (a) keputusan opsional, yaitu keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem, dan (b) keputusan kolektif, yaitu keputusan yang dibuat oleh individu- individu yang ada dalam sestem sosial melalui konsensus (Everett M. Rogers, 1995: 162). Proses keputusan inovasi dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu: (1) Pengetahuan, pada tahap ini seseorang mengetahui adanya inovasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang bagaimana inovasi itu berfungsi. (2) Persuasi, pada tahap ini seseorang membentuk sikap bisa menerima aiau akan menolak inovasi. (3) Keputusan, pada tahap ini seseorang terlibat dalam kegiatan yang membawanya pada pemilihan untuk menerima atau menoiak inovasi. (4) penerapan, pada tahap ini seseorang menerima dan melaksanakan inovasi. (5) konfirmasi pada tahap ini seseorang encari penguat bagi keputusan inovasi ang telah diambilnya (Everett M. Rogers, 1995: 96). Tahapan yang dilalui seseorang sebelum mengadopsi sebuah inovasi menurut Dormant adalah: (a) kepedulian, (b) keingintahuan, (c) visualisasi, (d) belajar, dan (e) menggunakan (Diane Dormant, 1992:179). Sebelum mengadopsi sebuah inovasi, individu biasanya memiliki kepedulian terhadap inovasi tersebut. Kepedulian ini kemudian membuat rasa keingin-tahuannya makin besar dan mulai memandanginya secara lebih dekat. Pada tahapan berikutnya, individu tersebut akan mempelajari inovasi tersebut dan mempertimbangkan untung ruginya dalam menggunakan inovasi tersebut. Jika individu tersebut mempersepsikan keuntungan yang dibawa oleh inovasi ini lebih besar dari kerugianhya, maka individu tersebut akan memutuskan untuk menggunakannya. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan adopsi inovasi kepala sekolah adalah kecenderungan lebih awal untuk mengetahui, mercspon, dan mengimplementasikan ide-ide, metode, dan alat baru untuk kemajuan sekolah.

ADOPSI INOVASI PENEMUAN BARU | ok-review | 4.5