Advertisement

Di dunia ini tidak ada perguruan tinggi yang tidak mempunyai mahasiswa. Tujuan mahasiswa masuk perguruan tinggi adalah untuk menuntut ilmu dan menyelesaikan program studinya serta untuk mendapatkan pengakuan akan keilmuannya.

Telaah sejak mula adanya pendidikan tinggi, kenyataannya mahasiswa bisa menjalani peran :

Advertisement
  • Sebagai anak asuh (ward)
  • Sebagai seorang yang menjadi cantrik atau magang (apprentice)
  • Sebagai warga, anggota (member)
  • Sebagai klien, atau bisa juga
  • Sebagai pengguna jasa (customer).

Apabila dipelajari peran di atas ternyata hal ini bergantung kepada hubungan antara staf pengajar dengan mahasiswa dan ditentukan oleh zamannya.

Pada awalnya yang menjadi mahasiswa adalah masyarakat kalangan berada dan yang mempunyai pengaruh di masyarakat. Mahasiswa ini bisa dari kalangan gereja atau keluarga bangsawan. Mereka ini seolah menggaji dosen, sehingga dosen mengikuti saja kemauan mahasiswa. Suasana pendidikan yang begini ini ditemui di Itali. Di Inggris ataupun Amerika keadaan seperti di Itali tidak terjadi, di sini staf pengajar mengatur rnahasiswa.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan perguruan tinggi lama kelaman menjadi besar, menjadi suatu masyarakat tersendiri, yaitu masyarakat golongan elit. Nyata sekali kalau perguruan tinggi menjadi suatu masyarakat dengan otoritas tersendiri, terlepas dari norma-norma yang berlaku di masyarakat induknya. Anggota masyarakat perguruan tinggi merasa mempunyai kekebalan terhadap hukum. Perasaan bahwa mereka hanya bertanggungjawab kepada pimpinan perguruan tinggi, menjadikan ketaatannya hanya kepada penguasa perguruan tinggi .dan menciptakan suasana paternalisme. Hal ini menyebabkan mahasiswa seperti anak asuh. Suasana demikian ini terus mengarah kepada perasaan adanya otoritas di kampus. Mereka tidak minta bantuan polisi mengurus bila ada pencurian di kampus, tetapi diurusi sendiri dengan hukum kampus. Keadaan macam inilah yang dikatakan penyalahgunaan kebebasan kampus.

Sehubungan staf pengajar lebih banyak ilmunya, lebih tua umurnya maka mereka mempunyai pengalaman lebih banyak. Oleh karenanya staf pengajar lebih dominan perannya di perguruan tinggi dibandingkan peran mahasiswa, sebagai buktinya mahasiswa diarahkan oleh staf pengajar.

Di Inggris dan Arnerika perguruan tinggi tumbuh dengan. tradisi yang mapan, bertambah lama bertarnbah melembaga. Mahasiswa diatur dengan peraturan-peraturan yang tegas. Universitas Oxford dan Cambridge menempatkan mahasiswa pada satu komuniti yang tunggal. Konsekuensinya mahasiswa menjadi sangat bergantung kepada universitasnya dan ketika telah lulus dari studinya mereka sangat setia kepada almamaternya. Peraturan-pera turart untuk mahasiswa sangat membatasi mahasiswa dalam bersikap dan berperilaku. Mereka menjadi terikat seperti layaknya seorang anggota militer. Ada satu pedoman bagi mahasiswa di Inggris untuk bisa disebut. sebagai mahasiswa yang ideal :

The ideal student is tall, handsome, of great personal integrihj, beautiffily mannered, cultured, highly inteligent, tireless zvorlcer, original, good with his hands, skilful in exposition, good nzixer, athletic, devoting his spare time to extramural activities, zvith good family background, and so on and so forth.

Kalau dirasa-rasakan, alangkah berat dan sulitnya menjadi seoiang mahasiswa di Inggris saat itu. Mungkinkah persyaratan itu dipenuhi? Seorang profesor menggambarkan bahwa syarat itu seperti syarat untuk menjadi dewa ataupun hero Yunani kuno.

Advertisement