TUBERKULOSIS DI INDONESIA

39 views

(TB) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam Annual Report of Global TB control 2003 menyatakan terdapat duapuluh dua negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Setiap tahunnya, TB menyebabkan hampir dua juta kematian, dan diperkirakan saat ini sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB, yang mungkin akan berkembang menjadi penyakit TB di masa datang. Selain jumlah kematian dan infeksi TB yang amat besar, pertambahan kasus baru TB pun amat signifikan, mencapai jumlah sembilan juta Kasus baru setiap tahunnya. Bila tak dikendalikan, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Melihat kondisi tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan TB sebagai kedaruratan global sejak tahun 1993.

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ketiga tertinggi di dunia setelah China dan India. Pada tahun 1998, diperkirakan TB di China sebanyak 1.828.000 kasus, di India 1.414.000 kasus dan di Indonesia 591.000 kasus. Perkiraan kejadian sputum BTAyang positif di Indonesia pada tahun1998 adalah 296.000 kasus. Berdasarkan survey kesehatan rumah tangga 1985 dan survey kesehatan nasional 2001, TB menempati rangking nomor tiga sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relative rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan merubah di masa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ke tahun. Menurut Dinas Kesehatan, di Jakarta, penderita TB mencapai 14.416 orang, dengan rincian Jakarta Pusat 3.188, Jakarta Barat 3.046, Jakarta Selatan 2.679, Jakarta Utara 837 dan Jakarta Timur 5.666. Sekitar 75% pasien TB menyerang kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis ( 15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata- rata waktu kerjanya 3-4 bulan. Hal tersebut ber¬akibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 -30 %. Jika ia me-ninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma, bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Sulitnya pengobatan penderita TB paru menyebabkan banyak terjadi kegagalan pengobatan. Di Jakarta, penderita TB yang mengalami gagal pengobatan sebanyak 437 orang.(2) Pengobatan tidak teratur, penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT) tidak adekuat ataupun pengobatan terputus menimbulkan kuman yang resisten terhadap OAT. Penderita TB tersebut akan menjadi sumber penularan kuman yang resisten di masyarakat. (DepKes RI, 2007). Berdasarkan pedoman nasional pena-nggulangan TB, paduan OAT dibagi menjadi dua kategori, yaitu (4) Kategori I : paduan OAT ini diberikan pada pasien baru : pasien baru TB paru BTA ( + ), pasien TB paru BTA (-) foto thorax (+ ), pasien TB ekstra paru. Kategori II: paduan OAT ini diberikan pada pasien BTA (+) yang telah diobati sebelumnya, pasien kambuh, pasien gagal, pasien dengan pengobatan setelah default (terputus).

1. Efek Samping Obat. Didapatkan dari 71 responden yang mempunyai efek samping obat sebanyak 34 responden (47,9%), dengan jumlah responden dalam perilaku minum obat secara teratur sebanyak 25 responden (35,2%) dan tidak teratur sebanyak 9 responden (12,7%). Dari hasil analisis data didapatkan hubungan tidak bermakna (p = 1,00) antara efek samping obat dengan perilaku minum obat. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tjetjep Yudiana (2000) yang menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan proporsi kegagalan pengobatan di antara penderita yang merasakan efek samping OAT dibandingkan dengan penderita yang tidak merasakan efek samping OAT. Dapat disimpulkan bahwa odds penderita TB paru BTA ( + ) yang merasakan efek samping OAT mempunyai resiko kegagalan pengobatannya 2,773 kali lebih besar dibandingkan dengan odds penderita yang tidak merasakan adanya efek samping OAT.

2. Dorongan Teman. Pada Tabel didapatkan dari 71 responden yang tidak mempunyai dorongan teman sebanyak 38 responden (53,5%), dengan jumlah responden dalam perilaku minum obat secara teratur sebanyak 27 responden (38%) dan tidak teratur sebanyak 11 responden (15,5%). Dari hasil analisis data didapatkan hubungan tidak ber-makna (p = 0,75) antara dorongan teman dengan perilaku minum obat. Walaupun hasil penelitian ini secara statistik tidak bermakna, namun responden yang menyatakan mendapat dorongan teman yang baik, mempunyai kecenderungan untuk minum obat teratur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *