TIPS MENGAJARKAN ANAK CARA BERDISKUSI

adsense-fallback

TIPS MENGAJARKAN ANAK CARA BERDISKUSI – Dalam diskusi orang mencari kebenaran bersama. Diskusi teijadi kalau dua belah pihak memiliki pengetahuan yang relatif sama. Sebab tanpa pengetahuan yang relatif sama, mereka tidak dapat saling memahami. Masuk diskusi berarti saya sadar bahwa pengeta­huan saya kurang sehingga perlu dilengkapi oleh pihak lain. Kami bersama-sama ingin mencari kebenaran yang lebih menyeluruh lagi. Kami saling melengkapi kebenaran. Keheranan yang lengkap seolah- olah berada di luar kami. Kami berusaha menemukan kebenaran itu. Setelah kami memahami kebenaran itu, kami sama-sama puas.

adsense-fallback

Diskusi lebih cocok untuk ilmu pengetahuan teoritis. Namun diskusi rupa-rupanya tidak mempan untuk mencari kebijaksanaan kehidupan keluarga misalnya memilih jodoh, masalah perkawinan dan kematian. Banyak orangtua moderen yang sudah sedikit dihing­gapi mentalitas ilmu mengira bahwa dengan diskusi bersama anak, mereka dapat memecahkan masalah pribadi anak. Dalam hal ini orangtua membuat kekeliruan, yaitu menyamakan kebenaran ilmu dengan kebijaksanaan hidup. Di satu pihak bisa saja pengetahuan orangtua lebih banyak dari pada pengetahuan anak. Tetapi bisa juga sebaliknya, pengetahuan anak lebih mutahir daripada pengetahuan orangtua. Anak mencap orangtuanya kolot dan ketinggalan jaman. Misalnya orangtua berpen­dapat bahwa sebenarnya keuangan keluarga dipegang oleh isteri. Tetapi anak melanjutkan kebenaran ini bahwa memang dipegang oleh isteri tetapi lebih benar kalau dikontrol oleh suami juga. Dan seandainya dirasa perlu boleh dipakai sistem pembukuan kas sehing­ga habis bulan bisa dilihat manakah kekurangannya dan kalau boleh diperbaiki lagi pada bulan berikut. Ilmu manajemen keuangan telah masuk dalam keluarga, ada untung dan ada ruginya juga. Di satu pihak belanja keluarga dapat diatur secara rasional, di pihak lain sistem pengaturan yang umum itu rupa-rupanya tidak cocok untuk situasi dari beberapa keluarga. Banyak orangtua lupa bahwa kebenaran mengatur ekonomi kelu­arga menurut sistem pembukuan ilmiah tidak sama dengan kebijak­sanaan pengaturan ekonomi keluarga dari masing-masing keluarga. Kebenaran ilmu pengetahuan memberikan cuma sedikit andil dalam proses mengambil keputusan yang bijaksana dalam keluarga. Itulah sebabnya, banyak suami isteri yang berpendidikan sarjana masih saja mengalami konflik besar di sekitar mengurus keluarga. Karena mereka memecahkan masalah keluarga terlalu dipengaruhi oleh cara berpikir ilmiah. Cara memecahkan masalah secara ilmiah dapat ber­sifat seragam untuk semua keluarga di mana saja. Tapi orang lupa kekhususan masing-masing keluarga. Jadi gelar kesarjanaan dari suami-isteri tidak menjamin pengambilan keputusan yang bijaksana dalam keluarga. Karena kebijaksanaan berada di tataran yang sangat lain dari pada tataran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mengenal gaya berpikir induktif atau deduktif serta kesimpulan. Padahal masalah keluarga berurusan dengan masalah eksistensial yang meli­batkan seluruh pribadi suami-isteri beserta anak-anaknya.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback