TIPS MENGAJARKAN ANAK BELAJAR BERMUSYAWARAH

adsense-fallback

TIPS MENGAJARKAN ANAK BELAJAR BERMUSYAWARAH – Dalam keluarga tradisional, para anggota keluarga dan suku memecahkan masalah-masalah penting seperti perkawinan atau kematian melalui musyawarah. Mereka berkumpul bersama untuk merundingkan jodoh anak atau mas kawin. Pembicaraan mereka harus disesuaikan dengan pola adat yang berlaku. Beberapa peraturan atau patokan diterima begitu saja tanpa mempersoalkannya kembali. Bila ada kekecualian maka dicari pembenarannya oleh dan dalam adat-istiadat itu sendiri. Keturunan suku A harus kawin dengan keturunan suku B. Bila ada penyimpangan, misalnya keturunan suku A kawin dengan keturunan suku C (yang sebenarnya dilarang) maka tetua adat harus mencari lagi pembenaran adat-istiadat dengan menoleh ke masa lampau pada perkawinan nenek moyang mereka. Dalam perundingan adat, senioritas harus diperhatikan. Apa yang dikatakan oleh kakek dinilai lebih bertuah dari pada apa yang dikata­kan oleh ayah. Dan apa yang dikatakan oleh ayah dinilai lebih ber­tuah daripada apa yang dikatakan oleh anak. Walaupun anak memi­liki pendapat yang cemerlang dan mungkin lebih bijaksana dari pada kakeknya, tetapi prinsip senioritas tidak membenarkan anak menang sendiri. Inisiatif atau prakarsa dari golongan muda sulit didengarkan dan sulit diterima. Dalam perundingan adat sangat dijaga keharmonisan atau keru­kunan. Sedapat-dapatnya konflik dihindari. Secara perlahan, sabar dan dalam waktu yang cukup lama, para anggota suku berunding dan akhirnya menemukan kebijaksanaan bersama yang kiranya me­muaskan semua pihak. Kebijaksanaan yang dicapai adalah kebijak­sanaan kolektif demi keharmonisan suku dan masyarakat. Pada keluarga tradisional ayah sangat berperanan dalam mengam­bil keputusan. Ayah mengambil keputusan dengan memperhatikan pola adat istiadat suku. Isteri dan anak-anak harus patuh dan taat pada keputusan ayah. Jadi sebenarnya mudah saja mengambil kepu­tusan dalam keluarga tradisional karena peraturannya memang sudah ada. Tinggal saja, masing-masing anggota menyesuaikan tindak-tan­duknya dengan pola yang ada itu. Sehingga perkembangan kebijak­sanaan yang baru berjalan sangat lamban. Perubahan tidak teijadi secara revolusioner tetapi secara evolusioner.

adsense-fallback

Banyak orangtua Indonesia di jaman moderen ini masih dihing­gapi mentalitas tradisional dalam mengambil keputusan bagi soal-soal yang menyangkut kehidupan anaknya seperti pilihan jodoh, perkawinan atau mencari pekerjaan. Di pihak lain, banyak anak tidak memahami pola berpikir orangtua mereka. Anak telah men­dapatkan gagasan-gasan baru seperti jodoh ditentukan oleh dia sen­diri. Maka bisa saja teijadi konflik antara anak dan orangtua. Lalu kita bertanya, “Dalam kasus seperti ini bentuk komunikasi macam manakah yang bisa dipakai oleh dua belah pihak untuk mengambil keputusan yang bijaksana?” Masalahnya adalah karena kebijaksanaan tradisional yang sudah terpolakan tidak cocok lagi dengan situasi masyarakat yang mengandung pluralitas pandangan dan nilai.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback