TIPS MEMULAI DIALOG DALAM KELUARGA

adsense-fallback

TIPS MEMULAI DIALOG DALAM KELUARGA – Dalam dialog orang mencari kebijaksanaan dan bukan kebenaran ilmiah. Masing-masing orang mempertaruhkan seluruh pribadinya di saat kini beserta segala latar belakang hidupnya di masa lampau dalam mengambil keputusan untuk masa depan. Dialog memper­bincangkan pertimbangan alternatif etis dan keutamaan moral, se­perti cinta, kerendahan hati, keadilan, dan lain-lain. Dengan demikian orang dapat bertindak secara tepat.

adsense-fallback

Dalam dialog, suami-isteri dan anak-anak saling membuka diri dan hati masing-masing. Mereka berbicara lebih berdasarkan suara batin ketimbang memakai nalar. Hati suami bertemu dengan hati isteri, hati orangtua bertemu dengan hati anak. Mereka saling me­mahami. Dalam dialog, orangtua bersama anak berbicara tentang tujuan hidup, tentang bentuk dan panggilan hidup, entah hidup berkeluarga atau hidup membujang. Mereka berhadapan dengan misteri kehi­dupan itu sendiri. Mereka berasal dari kehidupan dan akan kembali ke kehidupan. Orangtua mendengarkan jawaban anak, lantas memberikan beberapa pertimbangan alternatif. Pertimbangan orangtua tidak bersifat me­maksa tetapi bersikap menyingkapkan kebijaksanaan. Orangtua bersama anak menjadi semakin bijaksana dalam berdialog. Dalam diskusi, orangtua bersama anak secara tepat mendapat­kan banyak informasi ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam dialog, orangtua bersama anak menjadi semakin halus dalam kebijaksanaan, semakin padat dan bernas. Kebijaksanaan melibatkan seluruh eksis­tensi kehidupan manusia. Sedangkan diskusi hanya menambah ke­simpulan dan sintese. Dialog berakhir dengan hanya saling memahami dan mau mengerti satu sama lain. Setelah berdialog tentang jodoh anak misalnya, orangtua bersama anak tidak mengambil kesimpulan tetapi mereka saling memahami. Dialog menumbuhkan kekuatan ba­tin untuk menguatkan keputusan yang telah diambil atau bisa juga merubah seluruh keputusan yang ada. Kita belum sepenuhnya meninggalkan pola keluarga tradisional tetapi kita pun belum masuk sepenuhnya dalam pola keluarga moderen. Oleh karena itu pengambilan keputusan yang bijaksana dalam keluarga mengikuti campuran musyawarah, diskusi dan dialog. Untuk urusan perkawinan misalnya kita tidak untuk tidak melibatkan seluruh anggota keluarga besar atau suku. Namun beberapa hal tradisional seperti urusan pesta rupanya perlu diatur secara rasional. Kita tidak mau menghabiskan segala uang untuk pesta dan setelah itu pengantin yang baru hidup dalam piutang. Kita menginginkan agar pengantin yang baru menempuh hidup de­ngan bahagia. Kita mau membantu mereka untuk mulai membangun hidup perkawinannya. Oleh karena itu bentuk pesta yang sederhana dapat menunjang masa depan keluarga yang baru. Untuk menempuh kebijaksanaan seperti ini, kita perlu berdialog dari hati ke hati dengan melibatkan seluruh eksistensi kita.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback