Advertisement

Malloy & Albright (1990) dalam penelitiannya menemukan bahwa di antara orang-orang yang sudah saling mengenal ada dua hal yang berpengaruh pada persepsi dan atribusi sosial yaitu orang yang dipersepsikan (target) dan orang yang melakukan persepsi itu sendiri atau pengamat (perceiver). Temuan ini mendukung dua teori tentang proses pembentukan atribusi. Teori itu adalah sebagai berikut.

1. TeoriPenyimpulan Terkait(Correspondence Inference) Menurut teori yang berfokus pada target ini, perilaku orang lainmerupakan sumber informasi yang kaya. Jadi, kalau kita mengamati perilaku orang lain dengan cermat, kita dapat mengambil berbagai kesimpulan. Orang yang tersenyum, misalnya, tentunya sedang senang hati atau ramah.

Advertisement

Akan tetapi, seringkali perilaku yang tampak tidak sama dengan yang ada di dalam diri orang yang bersangkutan. Seperti pada contoh yang sudah dikemukakan di atas, kasir toko swalayan yang tersenyum kepada semua langganannya atau satpam yang mengusir anak-anak kampung, hanya berperilaku seperti itu karena tugasnya, bukan karena benar-benar ramah atau bengis. Oleh karena itu, kita harus lebih cermat mengamati perilaku orang lain. Jones & Davis (1965) dan Jones. & McGillis (1976) mengemukakan bahwa hal-hal khusus yang perlu diamati untuk lebih menjelaskan atribusi adalah sebagai berikut.

a. Perilaku yang timbul karena kemauan orang itu sendiri atau orang itu bebas memilih kelakuannya sendiri perlu lebih diperhatikan daripada perilaku karena peraturan atau ketentuan atau tata cara atau perintah orang lain. Misalnya, kasir yang cemberut atau satpam yang tersenyum lebih mencerminkan keadaan dirinya daripada kasir yang harus tersenyum atau satpam yang harus galak. Demikian juga mertua yang baik kepada menantu (walaupun ia dapat saja galak) atau orang yang memberi tempat duduk pada wanita tua di bus yang penuh sesak (walaupun ia dapat saja tetap duduk) benar-benar mencerminkan atribusinya sendiri karena mereka mempunyai pilihan sendiri.

b. Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim lebih mencerminkan atribusi pelaku daripada yang hasilnya berlaku umum. Misalnya, wanita yang mau dengan pria yang gendut, jelek, miskin, tetapi penuh perhatian, lebih dapat diandalkan cintanya daripada wanita yang suka kepada pria ganteng, kaya, dan berpendidikan tinggi. Atau, seorang lulusan SMU yang pandai dan dapat diterima di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Ekonomi, tetapi ia jxistru memilih jurusan Ilmu Purbal’.ala, lebih jelas motivasinya daripada siswa yang prestasinya rata-rata, tetapi bersikeras mau masuk ke Fakultas Kedokteran atau Ekonomi.

c. Perilaku yang tidak biasa lebih mencerminkan atribusi daripada perilaku yang umum. Misalnya, seorang pelayan . toko menunjukkan toko lain kepada pelanggannya yang menanyakan barang yang tidak tersedia di toko tersebut. Atau, seorang pria muda yang mencintai wanita setengah baya yang belum menikah.

Karena adanya prinsip untuk lebih mengamati hal-hal yang khusus dalam hubungan dengan orang lain ini, orang-orang yang sudah berhubungan lama lebih dapat saling mengandalkan dalam hubungan antarpribadi mereka. Dalam sebuah penelitian terhadap 119 pasangan teman dekat dan 1.668 pasangan kenalan biasa di Amerika Serikat, terbukti bahwa teman-teman dekat lebih saling tergantung dalam saling membentuk persepsi sosial antar- mereka daripada kenalan biasa (Kenny & Kashy, 1994).

2. Teori sumber                perhatian

Teori ini menekankan proses yang terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi (pengamat). Gilbert dkk. (1988) mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi dan dalam kognisi terjadi tiga tahap.

a. Kategorisasi

Dalam tahap ini pengamat menggolongkan dulu perilaku orang yang diamati (pelaku) dalam jenis atau golongan tertentu sesuai dengan bagan atau skema yang sudah terekam terlebih dahulu dalam kognisi pengamat (dinamakan :. kognisi).. Misalnya,.dalam.skema kognisi J.ohn.sudah ada.; golongan-golongan perilaku, yaitu ramah, bersahabat,

curang, mau menang sendiri dan sebagainya. Pada awalnya John menggolongkan perilaku Wayan dalam ramah dan bersahabat, tetapi sejak Wayan membawa kemenakannya ke Jakarta tanpa persetujuannya, perilaku Wayan dikate- gorisasikan sebagai curang dan mau menang sendiri.

b. Karakterisasi

Pengamat memberi atribusi kepada pelaku berdasarkan kategorisasi tersebut. Jadi, John memberi sifat baik hati dan bersahabat kepada Wayan ketika ia berada di Bali, sementara waktu di Jakarta John mengatribusikannya sebagai curang, dan tidak memperhatikan teman.            ‘

c. Koreksi

Tahap yang terakhir adalah mengubah atau memperbaiki kesimpulan yang ada pada pengamat tentang pelaku. Dalam kasus John, ia mengoreksi simpulannya tentang Wayan dari orang yang ramah dan bersahabat menjadi orang yang curang dan tidak memperhatikan teman sejak John mendapat informasi baru tentang perilaku Wayan selama ia dan kemenakannya berada di Jakarta. Proses yang sama terjadi juga dalam contoh kutipan cerita pendek di atas pada diri Wayan. John yang semula dikategorisasikan dan diatribusikan sebagai bule yang sederhana dan baik hati dikoreksi dalam kognisi Wayan menjadi bule bekas penjajah yang pelit.

Dalam kehidupan sehari-hari siklus kategorisasi karakterisasi koreksi ini terjadi dalam setiap hubungan antarpribadi, yaitu hubungan rekan kerja, teman sekolah, sahabat, pacaran, perkawinan, rekan bisnis, dan sebagainya. Hubungan itu dapat bersifat positif (saling menyukai, saling mencintai, saling percaya) atau negatif (saling benci, saling curiga, saling iri) atau dapat berlanjut atau putus berdasarkan karakterisasi yang diberikan pada saat tertentu (Jaspers & Hewstone, 1990).

Setelah kita mengetahui bagaimana proses terjadinya atribusi, per tanyaan yang berikut adalah bagaimana kita menetapkan atribusi internal atau atribusi eksternal. Hal ini dijelaskan oleh teori tentang atribusi berikut.

3. Teori atribusi internal dan ekste Michela,         1980)

Teori ini, yang tetap mendasarkan diri pada akal sehat saja mengatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menetapkan apakah suatu perilaku beratribusi internal atau eksternal.

a. Konsensus

Apakah suatu perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang pada situasi yang sama. Makin banyak yang melakukannya, makin tinggi konsensus dan makin sedikit yang melakukannya, makin rendah.

b. Konsistensi

Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dalam situasi yang sama. Kalau “ya”, konsistensinya tinggi, kalau “tidak” konsistensi- nya rendah.

c. Distingsi atau kekhususan

Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dalam situasi yang berbeda- beda. Kalau “ya”, maka distingsinya tinggi, kalau “tidak” distingsinya rendah.

Sekarang marilah kita kembali ke contoh John dan Wayan. Buat John, perilaku Wayan membawa kemenakannya menginap di rumahnya tanpa izin, meminta ongkos untuk kemenakannya dan tidak mau piiiang walau siidah diusir adalah perilaku yang kdttsistensir.ya rendah (sepengetahuan John tidak lazim dilakukan

orang), konsistensinya tinggi (Wayan mengatakan bahwa ia sudah biasa pergi dari rumah selama lebih dari satu bulan, ia biasa tidur sekamar berlima, ia biasa tidur di kursi, dan sebagainya) dan distingsinya rendah (waktu John di Bali, perilaku Pak Wayan berbeda sekali). Pelaku jenis ini (konsensus rendah, konsistensi tinggi, dan distingsi rendah) diberi simpulan sebagai beratribusi internal (memang pada dasarnya Wayan bersifat curang).

Akan tetapi, kalau John tahu bahwa di Bali (dan di kebudayaan Timur pada umumnya) sudah biasa orang mengajak keluarga dalam acara-acara dengan teman (karena keluarga dianggap seperti diri sendiri), ia akan berkesimpulan bahwa konsensus dalam hal perilaku Wayan adalah tinggi. Apalagi, kalau selama di Bali Wayan juga mengajak keponakannya dan minta ongkos juga untuk keponakannya, distingsinya menjadi tinggi. Dalam hal ini kesim- pulan John sangat berbeda, yaitu bahwa perilaku Wayan bukan karena sifat Wayan yang curang, melainkan karena keadaan ligkungannya (kebiasaan, adat, dan sebagainya) yang menyebab- kannya berperilaku seperti itu (atribusi eksternal).

Dengan demikian, atribusi yang dibuat oleh pengamat, sekali lagi, sangat tergantung pada keadaan kognisi si pengamat itu, bukan semata-mata tergantuhg pada perilaku pelaku. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti bahwa atribusi hanya ditentukan oleh pengamat dan pelaku. Kadang-kadang adanya faktor lain atau orang lain juga dapat menentukan apakah suatu atribusi adalah internal atau eksternal.

4. Atribusi karena faktor lain

Kalau seorang ibu marah-marah kepada anaknya, atribusi yang mungkin diberikan oleh orang yang menyaksikannya (pengamat) adalah bahwa ibu itu (pelaku) galak kepada anaknya. Apalagi, jika marah-marah itu dilakukan di depan orang lain’yarig sefiairusnya tidak menyaksikan perilaku semacam itu (misalnya di hadapan guru anaknya), kesan atribusi internal (ibu itu memang galak) akan lebih kuat lagi. Akan tetapi, jika ibu itu marah karena tiba-tiba anaknya menyeberang jalan seenaknya sehingga hampir tertabrak mobil, simpulan pengamat cenderung pada atribusi eksternal daripada internal (pantas ibu itu marah-marah karena anaknya nakal, melakukan hal yang berbahaya, menyeberang tiba- tiba, dan hampir ditabrak mobil).

Advertisement