TEORI LAPANGAN K. LEWIN

adsense-fallback

K. Lewin awalnya adalah seorang pengikut aliran Gestalt(bentuk keseluruhan) di Jerman. Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari W. Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elementistik (terlalu mengutamakan elemen atau detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara mettyeluruh, sekaligus”, dan terbrganisasikan’, tidak’ sebagiaft-‘ seMgihn atau sepotong-sepotong. Karena itulah, kafa Wertheimer, sebuah lagu, misalnya, Bengawan Solo, tetap terdengar sebagai lagu Bengawan Solo (bukan sebagai lagu lain) selama nada-nada dibunyikan dalam keteraturan tertentu, walaupun tangga nadanya diganti atau irama atau orkes pengiringnya berlain-lainan (Sarwono, 1991a).

adsense-fallback

K. Lewin mengembangkan teori psikologi Gestalt ini dengan mengemukakan teorinya sendiri yang dinamakan lapangan. Dengan teorinya ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi dalam jiwa seseorang sehingga terjadi persepsi dan perilaku yang bersifat menyeluruh. Menurut Lewin, perilaku adalah fungsi dari keadaan diri pribadi          dan lingkungan evironment). Jika dirumuskan menjadi: B = f(P, E). Faktor-faktor, baik dari dalam maupun dari luar pribadi itu terwakili atau terpetakan dalam lapangan kesadaran seseorang. Lapangan kesadaran itu digambarkan Lewin sebagai lapangan yang terbagi-bagi dalam berbagai wilayah (region). Tiap wilayah mewakili sesuatu dari dalam diri sendiri (aku, tubuhku) dan dari luar (ibuku, rumahku, temanku, makananku, dan sebagainya). Makin banyak pengalaman seseorang, makin majemuk keadaan lapangan psikologiknya.

Wilayah-wilayah itu kemudian akan mempunyai makna di saat-saat tertentu. Ketika perut lapar, misalnya, makanan jadi punya makna (valensi) positif. Valensi yang positif akan menarik energi ke wilayahnya sehingga orang tersebut bergerak atau ber- perilaku (dinamakan lokomosi)ke arah wilayah itu, yaitu makan. Sebaliknya, ketika lapar itu, wilayah lain, misalnya belajar, justru mempunyai velensi negatif yang menolak energi, sehingga orang menjadi malas belajar di saat lapar. Jika suatu saat ada dua wilayah yang sama kuat valensi positif- nya, maka bersangkutan akan mengalami konflik, yang dinamakan konflik mendekat-mendekat.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback