Advertisement

TEORI KROMOSOM MENGENAI KEBAKAAN, Setelah aturan-aturan dasar genetika dan kelakuan kromosom pada mitosis dan meiosis diuraikan secara terpisah, kini tinggal menghubungkan dua perangkat informasi tersebut. Jika kromosom, yang merupakan susunan tempat bahan inti terorganisasikan, akan dianggap sebagai pembawa kebakaan, maka perlu dipertunjukkan bahwa kromosom-kromosom itu berperilaku sejalan dengan fakta-fakta pengamatan kebakaan.

Mendel menarik kesimpulan dari pengamatan, tetapi keadaan pengetahuan mengenai struktur sel pada waktu itu belum cukup baginya untuk dapat mengidentifikasikan apa yang disebutnya ‘faktor-faktor’ dengan satuan-satuan struktural yang ada dalam sel. Ketika perincian mitosis ditemukan, tampaklah bahwa setiap jenis memiliki jumlah kromosom tertentu, bentuk dan ukuran relatifnya konstan, dan bahwa ada dua kromosom dari setiap macamnya. Kemudian timbul pertanyaan mengapa tidak ada pengganda-an progresif dari jumlah kromosom pada setiap pembuahan. Jawabannya diperoleh ketika terbukti bahwa telur dan sperma cacing pita (Ascaris) pada kuda, yang sel somatiknya memiliki empat kromosom, hanya berisi dua kromosom, atau setengah jumlah dari kromosom sel somatik. Pengamatan ini menunjukkan suatu cqntoh sifat umum kromosom organisme diploid, yaitu bahwa dalam sel somatik terdapat kromosom yang jumlahnya dua kali lipat daripada dalam garnet. Perhatian lalu difokuskan pada perubahan inti yang mengarah ke pembentukan garnet, dan ditemukan bahwa selama proses dua pembelahan khusus yang secara bersama-sama merupakan proses meiosis, kromosom bergabung dalam pasangan, dipertautkan oleh jembatan yang berbentuk silang, dan jumlahnya diparuh. Selanjutnya tinggallah memperagakan kesejajaran yang jelas antara hukum-hukum kebakaan Mendel dan perilaku kromosom selama mitosis dan meiosis. Kesejajaran ini mencakup hal-hal berikut:

Advertisement
  1. Setiap kromosom, jadi juga bagian-bagiannya, adalah rangkap dua dalam zigotnya, tetapi hanya satu dalam gametnya, persis seperti faktor Mendel atau gen. Seperti akan diuraikan kemudian dalam bab ini, generalisasi ini tidak berlaku bagi kromosom seks dalam organisme yang dioesis.

2 Dalam meiosis anggota-anggota dari setiap pasangan kromosom homolog memisah, dan sama halnya dengan tiap pasangan faktor Mendel atau alel yang satu sama lain memisahkan diri.

  1. Anggota-anggota dari setiap pasangan kromosom homo-log satu sama lain bersegregasi secara bebas persis sama dengan yang dilakukan oleh kedua alel dari gen yang terpisah pada silangan dihibrid Mendel. Bukti langsung dari segregasi kromosom secara bebas, dan dengan sendirinya gen-gen juga tampak, misalnya, pada silangan ortoptera Circotettix antara satu ras yang memiliki kromosom homolog dengan pasangan tak sama (heteromorfik) dan satu ras yang memiliki kromosom homolog dengan pasangan sama. Kromosom-kromosom yang tak serupa bersegregasi persis seperti suatu faktor Mendel yang bebas.
  2. Salah satu modifikasi yang harus dibuat terhadap hukum Mendel yang orisinal ialah bahwa gen-gen itu antara satu dan lainnya tidak selalu bersegregasi dengan bebas. Menurut teori kromosom tentang kebakaan, segregasi tidak bebas dan juga segregasi bebas diharapkan akan terjadi, sebab berbagai gen yang terletak pada kromosom yang sama akan dengan sendirinya ditransmisikan bersama (yaitu terjalin erat dengan pewarisan), kecuali jika gen-gen itu menjadi terpisah sebagai akibat pembentukan kiasma. Pada organisme tertentu jumlah kelompok pertautan yang dapat ditentukan dengan eksperimen penangkaran selalu sama atau kurang dari jumlah keseluruhan pasangan kromosom homolog organisme itu. Pada jagung, misalnya, beberapa ratus sifat dapat disusun menjadi sepuluh kelompok pertautan, yang jumlah dan bentuknya sejalan dengan sepuluh 13asang kromosom homolog.

Karena itu setiap sifat transmisi gen memiliki rekanimbangan (counterpart) fisik dalam perilaku kromosomnya. Alasannya tentu saja bahan kebakaan yang sama dapat diamati melalui dua cara yang berbeda, yaitu secara genetika dengan eksperimen penangkaran dan secara sitologi dengan mikroskop. Peta pertautan yang dibuat melalui satu deretan panjang eksperimen penangkaran merupakan rekan-imbangan genetika dari kromosom.

Oleh karena itu sebagai ringkasan, kesejajaran yang kuat antara kesimpulan Mendel dan perilaku kromosom dalam meiosis, ditambah bukti dari kelompok pertautan, kiranya dapat dijadikan bukti yang tidak dapat dibantah mengenai pandangan bahwa kromosom merupakan pembawa sifat turun-temurun.

Advertisement