Advertisement

Jean Piaget adalah seorang biolog dan dokter hewan Prancis yang mengkhususkan dirinya pada penelitian tentang perilaku hewan. Minatnya pada filsafat akhirnya membawanya ke dunia psikologi.

Sebagai biolog ia mendefinisikan inteligensi sebagai proses kehidupan dasar yang membantu organisme menyesuaikan diri pada lingkungannya. Penyesuaian diri (adaptasi) artinya adalah mampu memenuhi tuntutan gituasi sesaat. Misalnya, bayi yang lapar mampu meraih makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya, remaja berhasil membaca peta sehingga tidak tersesat, dan sebagainya. Makin dewasa seseorang, makin rumit kerangka struktur kognitifnya karena tuntutan dari lingkungan juga makin rumit.

Advertisement

Struktur kognitif ini antara lain terlihat dari skema kognitif, yaitu pola pikir tertentu yang dijadikan rujukan untuk bertindak dalam menjawab tuntutan atau permasalahan dari lingkungan. Skema kognitif pada manusia adalah inteligensi. Hal ini ber- kembang sesuai dengan pengalaman manusia itu sendiri. Dengan demikian wajar jika seorang anak berumur tiga tahun, menganggap mobil bernyawa (hidup), karena mobil dapat bergerak. Bagi anak itu, segala sesuatu yang bergerak adalah bernyawa sehingga mobil pun bernyawa. Baru pada usia yang lebih lanjut anak itu dapat membedakan antara gerak dari makhluk hidup dan gerak dari mesin.

Perkembangan kognitif pada anak, menurut Piaget terdiri atas empat tahap.

1. Tahap sensori-motorik (0-1 tahun)

Yang berperan adalah skema motorik. Jadi, anak harus berbuat atau melakukan sesuatu dahulu untuk mengetahui sesuatu. Kalau kepalanya sudah terbentur dinding barulah ia tahu bahwa dinding itu keras.

2. Tahap pra-operasional (2-7 tahun)

Anak sudah mengembangkan skema simbolik (lisan dan kemudian juga tulisan). Anak cukup diberitahu secara lisan bahwa dinding itu keras, dengan sendirinya dia tidak akan membenturkan kepalanya ke dinding.

3. Tahap operasional kongkrit (7-11 tahun)

Dalam usia sekolah dasar ini anak sudah mampu memecahkan masalah-masalah yang konkret (dua jeruk ditambah tiga jeruk menjadi lima jeruk). Selanjutnya, ia mampu berperilaku di -• • • -dalam kognisinya {menghitung/- menambah, membag-i-, mengalikan, mengenaH nama-nama kota di .peta buta, dan sebagainya) sehingga ia tidak perlu sungguh-sungguh berbuat sesuatu untuk memecahkan suatu masalah. Untuk menemukan kantor kepala desa, misalnya, ia tidak usah berjalan menyelusuri seluruh desa, tetapi cukup membaca peta desa dan mengikuti peta tersebut sampai ke kantor kepala desa.

4. Tahap operasional formal (11 tahun ke atas)

Pada tahap ini orang sudah mampu memecahkan masalah- masalah hipotetis dan dapat berpikir deduktif (menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak atau belum terjadi dalam kenyataan). Misalnya, “jika reaktor nuklir bocor apakah yang harus dilakukan pemerintah? atau “jika seorang anak tiga kali tidak naik kelas apakah yang harus dilakukan orang tuanya? “atau” jika X adakah sepertiga Y, padahal nila’i Y adalah 300, berapa nilai X?”, dan sebagainya.

Menurut Piaget, tahapan perkembangan kognitif itu adalah invariant,yaitu seragam atau sama saja bagi setiap orang dan tidak ada tahapan yang dapat diloncati sebelum masuk ke tahap yang berikutnya.

Advertisement