Advertisement

Baik teori determinisme, teori interaksionisme maupun teori kognisi adalah teori-teori yang dikembangkan di Barat, yang berawal dari pemikiran Barat, khususnya yang berakar dari falsafah Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles dalam teorinya tentang logika, berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya ini terbagi- bagi dalam jeriis’-jenis dan golo’ngan-golongan. Suatu hal tidak’ mungkin termasuk dalamdua golongan sekaligus; Manusia tidak mungkin sekaligus juga hewan (karena manusia berakal, hewan tidak), katak tidakmungkih sekaligus ikan (karena ikan ber insang, katak tidak), dan seterusnya. Hal kedua yang dikemukakan Aristoteles dalam teori logikanya adalah bahwa segala sesuatu di jagat raya ini mempunyai sebab dan akibat. Tidak ada hal yang berdir i sendiri dan keberadaannya tidak berhubungan dengan hal lain. Kedua prinsip itulah yang mendasari pemikiran ilmu pengetahuan Barat dari sebelum Masehi sampai hari ini.

Pemikiran Barat ini sangat berbeda dari pemikiran Timur (yang berlaku juga di kalangan orang Indonesia). Bagi orang Timur bisa saja manusia sekaligus juga dewa (dalam pewayangan misalnya, Semar adalah dewa yang juga manusia). Teori ten tang Yin dan Yang, misalnya, beranggapan bahwa kegelapan mengandung terang, kejantanan mengandung kelembutan, kebaikan mengandung kejahatan, dan sebagainya, karena tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Selain itu, orang Timur juga percaya bahwa dirinya, lingkungannya, dunianya, dan Tuhannya merupakan suatu sistem yang tidak terpisahkan. Karena itu, orang Jepang dapat bekerja seumur hid up di perusahaannya, sementara orang Amerika bisa pindah kerja beberapa kali selama kariernya. Karena itu, orang Timur lebih tergantung pada lingkungannya, sedangkan orang Barat lebih tergantung pada dirinya sendiri. Orang Timur juga percaya pada hal-hal yang tiba-tiba saja ada (nasib, keajaiban, mukjizat, dan sebagainya). Tidak semua dapat diterangkan dalam hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, tidak jarang kita lihat di masyarakat Timur orang yang berdoa saja tanpa belajar kalau menghadapi ujian, atau calon gubernur yang lebih mengandalkan dukun dari- pada perjuangan politiknya.

Advertisement

Mengenai perbedaan proses kognitif antara orang Barat dan Timur (khususnya orang Indonesia, lebih khusus lagi orang-orang dari berbagai suku di Indonesia) terdapat beberapa penelitian.

Misalnya, Chia (1976) mengatakanbahwa orang Cina mempunyai locus of control yang berbeda dari orang Barat, karena konsepnya tentang diri yang juga berbeda. Buat orang Cina, diri-sendiri adalah bagiah dairi’ diri yang lebih besar, yaitu orang tua/ teman-terrian, tetangga, masyarakat, dan dukunnya. Karena itu, suatu hal yang dilakukan orang lain, sejauh orang lain itu masih termasuk dirinya yang besar itu, masih dianggap sebagai dirinya sendiri.

Ho (1995) juga membuktikan bahwa ada perbedaan antara diri Barat dan diri Timur. Psikolgi Barat melihat diri terpisah dari lingkungan dan ada dua jenis yaitu yang aktif (/)dan yang pasif (me) sebagaimana yang diuraikan oleh W. James (lihat him. 114).

Dampaknya adalah adanya empati pada orang Barat, sementara buat orang Tao segala sesuatu dipandang sebagaitiagian dari diriku (tidak ada pemisahan antara diri dan dunia luar) yang dampaknya adalah mementingkan diri sendiri (selfishness). Sebaliknya, buat penganut konfusi us diri sendiri tidak terpisahkan dari dunia luar (juga tidak ada pemisahan), tetapi dampaknya adalah hasrat untuk bertimbal-balik, saling menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

Tidak adanya pembedaan antara diri dan lingkungan dalam psikologi orang Jawa muncul dalam bentuk disatukannya berbagai segi kehidupan (agama, ekonomi, seni, ilmu, permainan, dan sebagainya) dalam satu kesatuan saja (Veeneklaas, 1949). Akibatnya, orang Jawa menjadi malas karena kerja dapat terhenti demi agama dan jadi tidak berdaya, tergantung pada kekuasaan orang lain. Sebaliknya, orang dapat berusaha mencari kekuasaan dan mempertahankannya mati-matian, karena dianggapnya sekali kekuasaan itu sudah berpindah tangan, sulit untuk merebutnya kembali (Anderson, 1990). Orang Jawa juga cenderung mencari penyelesaian persoalan pada perkumpulan-perkumpulan kebatinan, karena agama, Tuhan, ekonomi, jabatan, dan sebagainya dianggap menjadi satu dalam sistem yang hanya dapat dikuasai melalui pelatihan kebatinan. SebuahpenelitiandiSolo (Howee, 1980) membuktikan bahwa di kota itu saja pada akhir tahun 1970-an tercatat 15 perkumpulan kebatinan (a.l. Sapta Darma, Sumarah, Pangestu, Paguyuban Mulat Salira Hangesti Tunggal, Ilmu Sejati, dan sebagainya) yaiig anggotanya berkisar antara 27 sampai lebih dari 400 orang.

Dalam bidang gangguan jiwa, struktur kognisi yang tidak terkategorisasikan dengan jelas ini menyebabkan gejala yang khas Jawa (atau mungkin juga Indonesia), yaitu “latah” (mengulangi kata-kata atau gerak tanpa kendali) pada wanita dan “amuk” (agresi yang sangat intens dan akut, tetapi hanya ber- langsung beberapa saat) pada pria. Kedua gejala tersebut pada umumnya terjadi pada orang dari lapisan masyarakat bawah yang pengetahuannya terbatas dan secara tiba-tiba harus ber- hadapan dengan stres.

Walaupun sudah ada beberapa penelitian, kita masih banyak sekali menggunakan teori dan metode yang dikembangkan di Barat untuk menjelaskan perilaku orang Indonesia. Teori-teori itu mungkin saja banyak yang tidak tepat. Misalnya, apakah ada Oedipoes Complex pada anak-anak dari suku Minang karena di sana yang berkuasa adalah paman (bukan ayah) dan ibu lebih dominan dari ayah dan anak-anak laki-laki sejak umur 7 tahun sudah tidur di langgar (tidak tidur serumah dengan orang tuanya seperti anak-anak di Austria pada zamannya Freud)? Misalnya lagi, apakah teori Piaget tentang perkembangan kecerdasan berlaku untuk orang-orang yang buta huruf, walaupun sudah menginjak usia dewasa? Kalau perkembangan kognisinya belum mencapai taraf yang sepadan, apakah teori perkembangan moral dari Kohlberg berlaku juga untuk mereka? Contoh lain metode wawancara untuk orang Barat tidak menimbulkan masalah, tetapi di Indonesia, di mana orang tidak dapat mengemukakan pen- dapat sendiri (khususnya wanita, bawahan, murid), metode wawancara mungkin tidak dapat diandalkan kesahihannya.

Akan tetapi, karena perkembangan psikologi yang khas untuk Indonesia sendiri masih jauh dari memadai, teori-teori dan metode- metode dari Barat itu tetap dipakai.

 

Advertisement