Advertisement

SURVEI MENGENAI TUMBUHAN DAN ORGANISME MIRIP TUMBUHAN, Perkembangan dan penggunaan mikroskop elektron secara ekstensif selama 30 tahun terakhir ini telah menghasilkan pengertian yang sangat meningkat mengenai struktur renik berbagai organisme. Pengetahuan baru ini telah memberi implikasi penting bagi konsep kita mengenai dunia kehidupan. Dulu organisme hanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu dunia tumbuhan dan ,dunia hewan, sebab orang hanya memiliki pengetahuan sampai taraf pemikiran mengenai kedua bentuk kehidupan yang paling jelas itu saja, yaitu tumbuhan dan hewan. Organisme apa pun yang sudah jelas bukan hewan dianggap sebagai tumbuhan. Selama masih ada anggapan negatif ini, yaitu dunia tumbuhan adalah dunia ‘bukan hewan’, sangatlah sulit untuk membuat generalisasi yang berarti tentang ‘tumbuhan’, sebab istilah ini mencakup suatu koleksi sangat heterogen dari organisme yang tak berkerabat sama sekali. Suatu pernyataan umum mengenai tumbuhan harus memenuhi persyaratan dengan segala macam kekecualiannya.

Sistem modern untuk mengklasifikasi organisme menerima dunia hewan kurang-lebih tanpa perubahan, sebaliknya membagi dunia tumbuhan menjadi empat kelompok berbeda —virus, bakteri dan ganggang hijau-biru, jamur, dan tumbuhan sejati. Keempat kelompok ini barangkali berbeda satu sama seperti halnya masing.Lmasing berbeda dengan hewan, dan jalan termudah (yang akan diikuti dalam buku ini) untuk mengenal perbedaan itu adalah dengan cara mengklasifikasi setiap kelompok sebagai ‘dunia’ yang terpisah bersama sifat masing-masing. Banyak alasan untuk menguatkan revisi drastis dari dunia tumbuhan ini (dalam pengertian ‘bukan hewan’), tetapi alasan-alasan berikut adalah yang paling penting.

Advertisement

Virus berada terpisah dari semua bentuk kehidupan lain, baik dari tumbuhan maupun hewan, dalam hal virus tidak terorganisasi ke dalam sel-sel, dan kadang-kadang dapat diendapkan dalam bentuk kristal sejati yang memiliki susunan kimia konstan. Partikel virus secara individual terlalu kecil untuk dapat di dengan mikroskop biasa, tetapi dapat di jika diamati di bawah mikroskop elektron. Sebuah kristal virus dapat berisi jutaan partikel. Walaupun virus ini dapat tumbuh dan berkembang biak di dalam sel hidup, makhluk ini tidak dapat berkembang biak sendiri, sehingga timbul pertanyaan benarkah virus dapat dianggap sebagai organisme. Virus dapat dianggap sebagai peralihan antara molekul makro yang tak bernyawa dan organisme sejati. Perihal virus tidak akan diuraikan dalam buku ini, kecuali untuk ilustrasi perihal tertentu dalam genetika (Bab 17).

Bakteri dan ganggang hijau-biru tidak diragukan lagi merupakan organisme, sebab memiliki struktur selular dan dapat tumbuh serta berkembang biak tanpa bantuan sel hidup lain. Organisme itu, baik yang bersel tunggal maupun yang berkoloni, sel-selnya tidak disatukan oleh penghubung protoplasma. Namun, sel-sel organisme itu tidak berisi organel-organel yang dipersatukan oleh selaput (umpamanya inti, mitokondria, dan plastid), suatu ciri yang diperkan oleh organisme lain. Sebagian besar ahli biologi kini menganggap ada atau langkanya organel yang terbungkus selaput sebagai suatu indikasi perbedaan mendasar antarkelompok organisme. Organisme-organisme yang sel-selnya tidak memiliki organel tak terbungkus selaput disebut ‘prokariota’ (secara harfiah berarti pra-inti), sedangkan organisme yang memilikinya disebut ‘eukariota’. Berdasarkan hal tersebut, bakteri dan ganggang hijau-biru dikelompokkan bersama menjadi Prokariota, sedangkan semua organisme sejati lain dikelompokkan menjadi Eukariota. Jika bakteri dan ganggang hijau-biru diberi kedudukan sebagai sebuah dunia, maka mereka dianggap termasuk dunia Monera. Jamur dikeluarkan dari dunia tumbuhan terutama berda-sarkan fakta bahwa sel-selnya tanpa plastid, dan dalam hal ini lebih mirip dengan hewan daripada dengan tumbuhan. Karena hanya ada tiga tipe utama organel yang terbungkus selaput mitokondria, dan plastid) nadir dalam sel-sel eukariota, ada atau tidaknya plastid dianggap pencerminan percabang-duaan (bifurcation) yang penting pada perjalanan evolusi. Karena jamur dan hewan tidak memiliki plastid (yaitu tempat terkumpulnya pigmen fotosintesis, jika ada), maka organisme ini tidak dapat berfotosintesis dan karena itu kebutuhan energinya bergantung pada tersedianya senyawa organik dari luar. Dengan kata lain, jamur dan hewan adalah heterotrof, sedangkan tumbuhan hijau yang mampu berfotosintesis disebut autotrof. Kenyataan bahwa jamur dan hewan tidak memiliki plastid tidak berarti bahwa kedua kelompok itu berkerabat erat, dan barang siapa berusaha untuk memperdebatkan kedua organisme ini akan menyadari bahwa jamur lebih mirip dengan tumbuhan daripada dengan hewan dalam hampir semua sifatnya, kecuali soal Kara. Secara tradisional jamur selalu diklasifikasikan sebagai tumbuhan, sebab memiliki dinding sel, tetapi susunan kimia dinding sel jamur sangatlah berbeda dengan dinding sel tumbuhan yang memiliki plastid. Lagipula jamur tidak pernah mengumpulkan kanji, yaitu cadangan karbohidrat yang khas organisme berplastid. Dari bukti ini sulitlah dihindari kesimpulan bahwa jamur bukan hewan dan bukan pula tumbuhan, dan sepantasnyalah untuk dijadikan ‘dunia’ terpisah.

Setelah menempatkan virus, bakteri, dan ganggang hijau-biru serta jamur dalam tiga dunia terpisah, tinggallah sekarang organisme eukariota berplastid. Organisme ini terdiri atas berbagai kelompok tumbuhan hijau (termasuk ganggang yang bukan ganggang hijau-biru), yang secara kolektif membentuk dunia tumbuhan sejati yang kini kita pahami. Dunia tumbuhan yang dalam pengertian sempitnya adalah organisme eukariota berplastid, terdiri atas kelompok relatif homogen yang pantas disejajarkan dengan dunia hewan yang tersusun atas organisme eukariota yang tak memiliki plastid atau dinding sel.

Setelah selesai kita mengklasifikasi organisme menjadi lima ‘dunia’, ternyata masih banyak garis pembagi di antara masing-masing kelompok itu. Jangan lupa bahwa semua organisme yang kini hidup telah berevolusi dari satu atau beberapa tipe nenek-moyang yang timbul setelah bumi menjadi dingin kira-kira 3500 tahun yang lalu. Dalam perjalanan waktu beberapa organisme asli punah, beberapa lagi menyebar serta berevolusi melalui jalur-jalur bebas, dan masih beberapa lagi bertahan hidup tanpa perubahan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa usaha untuk mengkotak-kotakkan organisme menurut kategori buatan manusia (yaitu mengklasifikasi organisme itu) tampaknya selalu dipersulit oleh adanya bentuk-bentuk perantara. Jadi nyatanya tidak ada garis pembagi absolut antara dunia tumbuhan dan dunia hewan. Walaupun sebagian besar eukariota yang bukan jamur dapat dengan mudah dimasukkan ke dunia tumbuhan atau dunia hewan berdasarkan ada atau tidaknya plastid, ternyata masih banyak organisme bersel tunggal yang dapat berfungsi, baik sebagai autotrof maupun heterotrof, bergantung pada kondisi lingkungan yang dihuni. Ada pula organisme bersel tunggal yang secara teratur bersifat sebagai heterotrof, akan tetapi ternyata struktur dan daur hidupnya mirip dengan organisme lain yang memiliki plastid. Organisme demikian sering dipelajari baik oleh ahli botani maupun oleh ahli zoologi. Kehadiran ‘tumbuhan/hewan’ demikian dapat dimengerti kalau diingat adanya evolusi. Tidaklah ada manfaatnya untuk mengklasifikasi organisme semacam itu, baik ke dalam tumbuhan maupun ke dalam hewan, sebab organisme itu secara logika tidak akan cocok dengan kategori buatan manusia. Pada prakteknya lazim diambil jalan tengah dengan menggunakan istilah Protista untuk mencakup semua tumbuhan dan hewan bersel tunggal. Beberapa ahli biologi menganggap bahwa Protista harus diperlakukan sebagai ‘dunia’ lain, akan tetapi pemisahan demikian tidak akan dilakukan dalam buku ini, sebab Protista yang akan diuraikan di sini dapat diklasifikasi dengan tegas sebagai tumbuhan bersel tunggal. 1.2 merupakan ringkasan kriteria yang mendasari sistem klasifikasi ke dalam lima dunia itu.

Advertisement