Advertisement

Sumatra Thawalib adalah nama dari sebuah organisasi yang mula-mula didiri­kan di Padang Panjang, Sumatra Barat. Or­ganisasi ini didirikan oleh Syekh Haji Ab­dul Karim Amrullah pada 1918 dengan nama Sumatra Thuwailib (Pelajar kecil Sumatra). Organisasi ini kemudian sema­kin berkembang dengan bergabungnya or­ganisasi pelajar dari Parabek yang bernama Muzakaratul Ikhwan. Kemudian berdasar­kan musyawarah antara Syekh H. Abdul Karim Amrullah dengan Syekh Ibrahim Musa Parabek, maka nama Sumatra Thu­wailib kemudian dirobah menjadi Sumatra Thawalib (Pelajar-pelajar dewasa Sumatra). Hal ini dilakukan karena dengan berga­bungnya pelajar dari Padang Panjang de­ngan pelajar dari Parabek, nama Thuwailib (pelajar kecil) dianggap tidak sesuai lagi dan perlu dirobah menjadi Thawalib (pela­jar-pelajar dewasa).

Organisasi Sumatra Thawalib berawal dari perkumpulan atau organisasi antara guru dan para siswa dari pengajian agama yang diadakan di Surau Jembatan Besi. Pengajian Surau Jembatan Besi ini didiri­kan oleh Syekh Abdullah, yang kemudian pada 1907 dipimpin oleh Syekh Daud Ra­syidi, karena Syekh Abdullah pindah tem­pat tinggalnya. Sewaktu Syekh Daud Ra­syidi pergi ke Mekah untuk memperdalam pengetahuannya dalam bidang agama, pimpinan pengajian dipegang oleh kakak­nya Syekh Abdul Latif Rasyidi. Pada 1911 pengajian surau Jembatan Besi ini dipimpin oleh Syekh H. Abdul Karim Amrullah. Di bawah pimpinannya pepgajian Surau Jembatan Besi ini bertambah pesat kemajuarinya, dan semakin lama siswanya semakin bertambah banyak. Kemudian atas kesepakatan antara guru dan para sis­wa dibentuklah organisasi dengan nama Sumatra Thuwailib, yang kemudian diro­bah menjadi Sumatra Thawalib.

Advertisement

Sumatra Thawalib pada awalnya hanya­lah merupakan organisasi yang bergerak dalam pendidikan. Organisasi ini meliputi dua lembaga pendidikan yaitu Sumatra Thawalib di Padang Panjang dan Sumatra Thawalib di Parabek. Kemudian didirikan pula perguruan Sumatra Thawalib lainnya di Padang Japang, di Sungayang Batusang­kar, dan di Maninjau. Dengan demikian te­lah berdiri lima perguruan Sumatra Tha­walib di Sumatra Barat. Namun, meskipun Sumatra Thawalib itu satu dan serupa ke­giatannya, tetapi masing-masing berdiri sendiri dan tidak Wing berhubungan dan bekerja sama. Pada 1922 diadakan suatu konferensi Sumatra Thawalib di Padang Panjang yang dihadiri oleh wakil-wakil dari perguruan-perguruan Sumatra Thawa­lib. Tujuan dari konferensi ini adalah un­tuk mempersatukan seluruh perguruan Su­matra Thawalib. Atas kesepakatan bersa­ma, dengan suara bulat H. Jalaludin Thalb, ketua organisasi Sumatra Thawalib Padang Panjang, dipilih sebagai Ketua Umum Su­matra Thawalib.

Sekolah Thawalib yang di Parabek dan Padang Panjang mengalami kemajuan yang sangat pesat dan siswanya semakin ber­tambah banyak. Namun seiring dengan ke­majuan itu, politik pun telah mulai ma­suk dalam kehidupan siswa Thawalib, ter­utama yang di Padang Panjang. Pengaruh politik yang masuk ke perguruan ini da­tang dari paham komunisme. Oleh karena itu sewaktu terjadi pemberontakan komu­nis di Silungkang, banyak siswa Thawalib Padang Panjang yang terlibat. Untuk membatasi gerak dan kegiatan politik para guru dan siswa Thawalib, pemerintah Be­tanda mengeluarkan pem b atasan-pem b atas­an kegiatan dan larangan mengajar bagi beberapa guru Thawalib. Mereka yang ter­kena larangan itu antara lain adalah Zainal Abidin Ahmad, Ahmad Syukur, Ibrahim Modin, Seidi Umar dan lain-lainnya.

Di bawah pimpinan Syekh Abdul Ka­rim Amrullah Sumatra Thawalib Padang Panjang berkembang dengan pesat. Namun dengan teijadinya penangkapan-penang­kapan oleh Belanda, sehubungan dengan pemberontakan Silungkang, ditambah de­ngan tedadinya gempa pada 1926 yang menyebabkan banyak orang cenderung untuk memikirkan nasib keluarganya, maka Syekh Abdul Karim Amrullah kem­bali ke Maninjau dan pimpinan Thawalib diserahkan pada Tuanku Mudo Abdul Ha-mid Hakim.

Pada 1929 organisasi Sumatra Thawalib memperluas keanggotaannya pada semua bekas pelajar dan guru-guru yang tidak lagi mempunyai hubungan langsung de­ngan lembaga pendidikan tersebut. Orga­nisasi ini pada tahun berikutnya berobah menjadi suatu organisasi massa dengan na­ma Persatuan Muslimin Indonesia (PER-MI). Hal ini diputuskan dalam Konferensi Sumatra Thawalib yang diadakan di Pa­dang pada 1930. Dengan adanya PERMI maka seluruh perguruan Thawalib berada di bawah pengawasan PERMI dalam ke­giatan dan pengelolaannya.

Sekitar 1933 PERMI mendapat tekan­an-tekanan dari pemerintah Belanda, se­bab banyaknya anggota PERMI yang ter­libat dalam politik menentang Belanda. Hal ini sangat memperlemah lembaga-lem­baga pendidikan Thawalib yang berada di bawah naungannya. Sementara itu siswa­siswanya mendapat tekanan pemerintah agar meninggalkan sekolahnya. Jumlah pelajar di Padang Panjang berkurang ha­nya tinggal 400 siswa dibanding 1930 se­banyak 1.300 siswa. Sekolah-sekolah di luar Padang Panjang dan Parabek ditutup, sehingga sekolah Thawalib hanya ada di dua tempat itu.

Lahimya Sumatra Thawalib mempu­nyai pengaruh besar di Sumatra Barat da­lam bidang-bidang pendidikan, kehidupan beragama, organisasi politik dan media massa. Dalam bidang pendidikan Thawalib berperan dalam menumbuhkan berbagai lembaga pendidikan di Sumatra Barat. Da-lam kehidupan beragama Thawalib dengan penerangannya dapat memperbaiki kehidupan beragama menjadi lebih baik. De­mikian juga dalam penerbitan media mas­sa peran Thawalib sangat besar sebagai pelopor penerbitan al-Munir.

Advertisement