Advertisement

Setiap Satuan Menghendaki Suatu Pilihan, Di antara fakta bahasa, ada yang terungkap hanya dengan te­laah ujaran yang sederhana dan ada pula yang hanya dapat diidenti­fikasi melalui perbandingan ujaran yang berbeda. Fakta yang perta­ma maupun yang kedua itu tetap merupakan fakta bahasa. Misalnya ujaran seperti ini bara bagus /ini bara bagus/; kalau kami harus me­lakukan analisis dalam monem dan fonem seperti yang terlihat dalam transkripsi di atas, ujaran tersebut menjelaskan beberapa ciri yang penting dari struktur bahasa: /bara/ dapat muncul setelah /ini/ dan sebelum /bagus/: fonem /s/ dapat muncul di akhir ujaran, dan fo­nem /a/ di akhir sebuah monem; dst. Segala kebebasan tersebut men­jadi bagian kaidah-kaidah yang mendasari analisis pengalaman manusia di dalam bahasa Perancis, dan menjadi bagian bahasa. Di­bandingkan dengan ciri yang lain, kebebasan tersebut mempunyai kelebihan, yaitu, bagi ahli linguistik, muncul hanya dengan telaah distribusi masing-masing satuan di dalam suatu ujaran. Meskipun demikian, jika kami ingin mengatakan hal yang sama mengenai ke­bebasan berkombinasi unsur /bara/, itu adalah karena unsur ujaran itu diketahui sebagai wakil dari suatu satuan yang berbeda dari /ini/ dan dari /bagus/. Untuk sampai ke hasil itu, kita perlu menyatakan bahwa /bara/ di dalam konteks itu, merupakan pilihan khas di an­tara sejumlah nomina yang mungkin dipilih. Perbandingan dengan ujaran Indonesia yang lain menunjukkan bahwa di dalam konteks di mana /bara/ muncul, dapat ditemukan pula /hari/, /baras/, dsb. Hal itu memperlihatkan bahwa penutur secara kurang lebih sadar telah menyingkirkan semua saingan yang seharusnya dapat muncul di antara /ini/ dan /bagus/, tetapi yang tidak sesuai untuk konteks di atas. Mengatakan bahwa seorang pendengar memahami bahasa Indonesia, berarti ia mengenali berdasarkan pengalaman, sederet pilihan yang telah dilakukan pembicara, bahwa ia mengenali /bara/ sebagai pilihan yang berbeda dari pilihan /ini/ dan pilihan /bagus/, dan bahwa bukan tidak mungkin .kalau pilihan /bara/ dan bukan /baras/ mempengaruhi perilakunya.

Demikian pula halnya dengan pilihan fonem: kalau kita dapat mengatakan sesuatu mengenai kebebasan berkombinasi /a/ di dalam /bara/, itu karena /a/ dikenali sebagai sebuah satuan yang berbeda dan khas, misalnya berbeda dengan /a/ yang mendahuluinya di dalam /bara/. Nampak pula di sini bahwa /a/ sesuai dengan pilihan khas. Pembicara yang mungkin secara tidak sadar telah menyisihkan /u/ yang mungkin memberi /baru/, artinya kata lain, baru, atau /bari/ bari, atau /o/ yang mungkin memberi /baro/ yang dapat di­lafalkan namun tidak ada dalam kenyataan.

Advertisement

Jelas bahwa semua pilihan yang dilakukan penutur pada setiap butir di dalam wicaranya bukanlah pilihan yang cuma-cuma. Jelas bahwa jenis pengalaman yang harus disampaikannyalah yang mem­buatnya memilih /bara/ dari /baru/, /bagus/ dari /buruk/. Karena makna menuntut /bara/ lah maka ia harus memilih di akhir kata bu­nyi /a/ dan bukan /u/, atau /i/. Tetapi, apakah ada memilih tanpa menetapkan? Kita jangan mengira bahwa memilih monem lebih “be­bas” daripada memilih fonem.

Advertisement