Advertisement

Seribu Satu Malam adalah satu kumpulan cerita yang berkembang dalam bahasa Arab, dan men­jadi populer dalam berbagai bahasa. Per­kembangan Seribu Satu Malam adalah me­rupakan salah satu bukti dan ekspresi dari universalitas ajaran dan peradaban Islam. Dalam Seribu Satu Malam terdapat bera­gam unsur cerita dan pikiran, baik dari ko­leksi Semit klasik, Persia maupun India.

Asal-usul ide penulisan genre Seribu Sa­tu Malam telah banyak dipertanyakan. Persoalan apakah Seribu Satu Malam ditu­lis hanya oleh seorang pengarang telah pu­la mengundang berbagai pendapat. Namun melihat bervariasinya kandungan cerita, plot dan pikiran dalam Seribu Satu Ma-lam, tidak mengherankan kalau para ahli cenderung menekankan bahwa Seribu Sa­tu Malam adalah hasil tulisan dari berbagai generasi pengarang berdasarkan ide-ide yang datang dari sumber yang berbeda. Walaupun berbahasa Arab, Seribu Satu Malam lebih mencerminkan budaya dunia Islam yang kompleks. Hal ini dapat dilihat dari bentuk sastra ataupun figur-figur yang ditampilkannya.

Advertisement

Perkembangan penulisan Seribu Satu Malam telah dimulai semenjak abad ke-9. Pada masa itu hanya beberapa fragmen atau isi ringkas dari Seribu Satu Malam telah dibukukan. Para sejarawan kenama­an seperti al-Mas`udi dan Ibnu an-Nadim juga menyebutkan keberadaan prototipe Seribu Satu Malam. Hal ini menunjukkan bahwa Seribu Satu Malam atau sebagian dari kandungannya telah dikenal luas pa­da abad ke-10. Di Mesir, antara abad ke­12 dan 15, beberapa penulis telah menye­butkan koleksi, atau fragmen, yang dise­but Seribu Satu Malam. Akhirnya selama abad ke-15-18 berbagai fragmen telah pu­la dimasukkan ke dalam Seribu Satu Ma-lam sehingga benar-benar jumlahnya men­jadi 1001 cerita.

Secara umum Seribu Satu Malam ter dari dua corak tradisi cerita: Bagdad dan Kairo. Dan segi bentuk dan isi cerita, sebagian sarjana membaginya menjadi:

  1. Seribu Cerita (Hazar Afsanah ) yang berasal dari Persia;
  2. Seribu Cerita yang telah digubah dalam bahasa Arab;
  3. Kerangka cerita berdasarkan Hazar Af­sanah kemudian diikuti cerita Arab asli;
  4. Cerita yang berkembang di masa akhir dinasti Fatimiyah; dan
  5. Cerita yang berkembang pada masa di­nasti Ayyubi dan Mamluk.

Penguasaan dinasti Usmani atas Mesir, Siria, dan Irak akhirnya menutup perkem­bangan Seribu Satu Malam di kawasan ti­mur.

Nama Seribu Satu Malam dimungkin­kan berasal dan istilah Persi Hazar Afsa­nah (Seribu Cerita). Pada abad ke-9, nama Seribu Cerita telah berkembang menjadi Seribu Malam. Judul Seribu Cerita sebe­narnya hanya menunjuk kepada satu jum­lah besar bukan hitungan yang pasti. Begi­tu juga dengan Seribu Malam. Namun pertanyaan mungkin timbul: Kenapa akhirnya 1000 menjadi 1001? Sebagian pengamat menyatakan bahwa nama 1001 adalah ditujukan untuk menghindari ang­ka 1000 sebagai bilangan genap yang di­anggap tidak pantas dan tidak mengun­tungkan. Yang lebih penting, kalau pada mulanya Seribu Satu Malam hanya me­nunjukkan satu jumlah besar, tetapi pada akhirnya istilah ini diartikan sebagai bi­langan pasti, sehingga Seribu Satu Malam pun harus berisi 1001 episode. Karena­nya tidak mengherankan kalau berbagai cerita kemudian ditambahkan untuk men­capai bilangan 1001.

Seribu Satu Malam berisi berbagai un­sur, termasuk India, Persia, Mesopotamia, Arabia, Asia Tengah, dan Mesir. Nama-na­ma yang digunakan dalam Seribu Satu Ma-lam, misalnya, menunjukkan asal India (Sindbad), Asia Tengah (Ali Baba dan Khatun), Persia (Syahrazad dan Dinazad). Namun nama-nama Arab jelas paling do­minan. Juga, banyak digunakan cara penu­turan yang berpola India, seperti “Anda sebaiknya jangan berbuat begini dan begi­tu, kalau tidak anda akan mengalami nasib yang sama sebagaimana si polar) dan po­lan.” “Bagaimana hal itu?” Si pendengar ingin tahu lebih lanjut; maka si penutur pun memulai ceritanya.

Seribu Satu Malam memuat bermacam genre cerita, seperti anekdot, roman dan novel, cerita khayal, legenda, cerita hu­ mor, dan cerita didaktik. Cerita didaktik, parabel, dan fabel yang berkisar pada tingkah laku binatang telah dimasukkan dalam Seribu Satu Malam. Kebanyakan cerita bentuk ini seperti “Sindbad si Bijak­sana”, dan “Jali’ad dan Wird Khan” ada­lah berasal dan India tetapi telah diaransir sedemikian rupa sehingga terasa sesuai de­ngan kondisi Timur Tengah. Di samping itu, cerita “Tawaddud”, seorang gadis sa­haya yang cerdik adalah termasuk katego­ri didaktik yang menawan. Kerangka ceri­ta humor terdapat secara jelas dalam ceri­ta “Abu al-Hasan, Penidur yang Bangun”, “Khalifah, si Tukang Ikan”, “Ja`far al­Barmaki dan Badui Tua”, dan “Meruf si Tukang Sepatu”. Cerita legenda yang ber­asal dan Arabia klasik seperti “Hatim at-Ter, “Iram: Kota yang penuh Saka”, dan “Kota Gemerlapan” terdapat dalam Seribu Satu Malam. Juga, dijumpai dalam Seribu Satu Malam legenda Ibrani tentang orang-orang saleh; dan legenda “Pangeran yang Saleh”, yang menggambarkan se­orang anak Harun ar-Rasyid yang menjadi seorang sufi.

Cerita roman seperti “Umar bin an­Nu’rnan dan Anak-anaknya”, dan “Hika­yat si Ajaib dan si Aneh” yang terdapat dalam Seribu Satu Malam telah pula men­jadi model bagi cerita populer di kalangan orang Islam. Di samping itu cerita-cerita seperti “Penjaga Pintu dan Tiga Nyonya”, “Aladin”, dan “Abu Qir dan Abu Sir” adalah termasuk cerita roman atau novel tentang kaum atasan dan orang-orang ka­ya.

Kerangka dasar cerita khayalan dalam Seribu Satu Malam terdiri dan tiga cerita dari India. Cerita “Pedagang dan Raja

“Tiga Tukang Penatu dan Tiga Wa­nita di Bagdad”, dan “Si Bongkok” adalah termasuk kategori cerita khayal yang men­dapat pengaruh, dan menunjukkan, proto­tipe India. Namun cerita khayalan yang paling populer adalah “Aladin dan Lampu Ajaib”, serta “Ali Baba”.

Cerita dalam Seribu Satu Malam kecuali yang termasuk dalam genre di atas, adalah berbentuk anekdot yang jenaka penuh makna. Anekdot dalam Seribu Satu Ma-lam dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

 

Pertama, berkenaan dengan para penguasa dan orang-orang sekeliling mereka, mulai dari Iskandar Zulkarnain sampai dengan sultan Mamluk. Harun ar-Rasyid paling banyak disebut-sebut. Kedua, berkenaan dengan orang dermawan, seperti Hatim dan keluarga Barmak. Ketiga, berkenaan dengan masyarakat umum: tua dan muds, kaya dan miskin, pria dan wanita, dan se­terusnya.

Advertisement