Advertisement

Dua hari setelah proklamasi kemerdekaan, pada 19 Agustus 1945 di Jakarta dibentuk Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia. Balai Perguruan Tinggi ini mengupayakan Perguruan Tinggi Kedokteran (yang resmi dibuka pada 1 Oktober 1945) dan Perguruan Tinggi Hukum/Kesusasteraan. Istilah Balai Perguruan Tinggi adalah padanan kata universitas., sedangkan Perguruan Tinggi merupakan padanan kata fakultas.

Ketika pada bulan September 1945 tentara Inggris (sekutu) sebagai pemenang perang masuk ke Indonesia untuk melucuti senjata balatentara Nippon, tentara Belanda bersama Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) ikut membonceng. Pemerintah RI mulai diganggu oleh NICA, sehingga harus hijrah ke Yogyakarta. NICA pada 21 Januari 1946 mendirikan Nood – Universiteit atau universitas darurat di Jakarta yang terdiri dari 5 fakultas, salah satunya fakultas kedokteran. Dengan demikian saat itu di Jakarta ada dua fakultas kedokteran, yaitu Perguruan Tinggi Kedokteran milik RI dan Geneeslcundige Faculteit milik NICA. Ketika pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta pengelola Perguruan Tinggi Kedokteran (PTK) memutuskan untuk tetap bertahan di Jakarta. Namun ada juga staf pengajar PTK dan mahasiswanya yang memindahkan peralatan pendidikan kedokteran ke daerah yang di bawah kekuasaan RI yaitu Surakarta dan Klaten. PTK di Surakarta untuk pendidikan kedokteran tingkat klinik sedangkan PTK Klaten untuk pendidikan tingkat dasar dan preklinik. Selain PTK Klaten dan PTK Surakarta, masih ada PTK milik RI di Malang untuk pendidikan kedokteran tingkat klinik.

Advertisement

Advertisement