Advertisement

Rasyid Rida, M. dilahirkan pada 1865 (1283 H) di al-Qalamun, suatu desa di Li­banon, tidak jauh dari kota Tripoli. Me­nurut suatu keterangan, ia mempunyai pertalian-darah dengan al-Husein, cucu Nabi Muhammad. Karena itu, di depan na­manya ia menggunakan gelar as-Sayyid. Latar-belakang pendidikannya dimulai da­ri madrasah tradisional di al-Qalamun. Pa­da usianya sekitar 17 tahun (1882) ia me­neruskan pelajarannya ke Sekolah Nasio­nal Islam (Madrasah al-Wataniyah al-Is­lamiyah) di Tripoli. Di Madarasah ini —suatu sekolah yang tergolong modern yang didirikan oleh asy-Syekh al-Jisr — se-lain pengetahuan agama dan bahasa Arab, diajarkan pula pengetahuan modern dan bahasa Prancis serta Turki. Tetapi, karena mendapat hambatan politik dari pemerin­tah Kerajaan Usmani, masa operasi seko­lah tersebut tidak berlangsung lama, dan Rasyid Rida pun pindah ke salah-sebuah sekolah agama yang ada di Tripoli. Namun demikian, hubungannya dengan guru uta­manya di Sekolah Nasional Islam, yang ju­ga pendiri sekolah tersebut (asy-Syekh Husein al-Jisr) terus berlanjut. Asy-Syekh Husein al-Jisr inilah yang menjadi pem­bimbingnya di masa muda.

Kemudian, melalui majalah al-Vrwat al-WuSqc7, Rasyid Rida mengenal pikiran­pikiran Jamaluddin al-Afgani dan Muham­mad Abduh. Ketika Muhammad Abduh dibuang ke Beirut, Rasyid Rida berkesem­patan untuk berjumpa dan berdialog de­ngannya. Perjumpaap dan dialognya de­ngan Muhammad Abduh semakin mem­perkuat kesan dan semangatnya untuk mengikuti arus pemikiran pembaharuan tokoh asal Mesir ini, Muhammad Abduh, yang kemudian menjadi guru utamanya. Sesungguhnya, ide-ide pembaharuan yang telah diperolehnya pernah dicoba diterap­kannya ketika ia masih berada di Suria, namun usahanya mendapat tantangan dari pihak Kerajaan Usmani. Atas dasar itu, ia memutuskan untuk pindah ke Mesir, dan pada Januari 1898 ia telah sampai di sana.

Advertisement

Pada tahun yang sama, beberapa bulan kemudian, ia segera menerbitkan majalah yang bersemangat pembaharuan dan yang kemudian sangat terkenal: al-Mand.r. Maja­lah ini mempunyai haluan dan tujuan yang sama dengan al’Llrwat al-Wukia. Se-lain ide-ide, majalah ini pun secara lang­sung banyak memuat tulisan Muhammad Abduh. Di samping pikiran-pikiran pem­baharuan keislaman yang bersifat umum, menurut gagasan Rasyid Rida sebaiknya Muhammad Abduh menulis tafsir al-Qur­an modern yang mendukung kerangka pikiran pembaharuannya. Gagasan murid­nya ini tidak segera ditanggapinya secara serius. Tetapi karena Rasyid Rida terus mendesaknya, akhirnya pada 1899 Mu­hammad Abduh setuju untuk memberi­kan kuliah tafsir al-Quran di al-Azhar. Hasil kuliah tersebut disusun Rasyid Ri­da dan kemudian dikonfirmasikannya ke­pada gurunya. Setelah mendapat persetu­juannya, segera Rasyid Rida memuat tu­lisan tersebut — kuliah tafsir al-Quran Muhammad Abduh — di al-Maar. Peker­jaan ini terus dilakukan Rasyid Rida sam­pai gurunya wafat pada 1905. Dengan cara inilah, kemudian, Tafsir al-Maneir ter­cipta. Sebagaimana diketahui, setelah gu­runya wafat Rasyid Ridalah yang mene­ruskan karya penafsiran tersebut, yang di­mulainya dari Surat an-Nisa ayat 126 — hingga wafatnya, Muhammad Abduh ha­nya berhasil menafsirkan al-Quran sampai ayat 125.

Kecuali dalam hal orientasi pemikiran modern, pada dasarnya arah pembaharuan pemikiran Rasyid Rida tidak berbeda de­ngan Muhammad Abduh. Dalam hal pen­didikan, misalnya, ia pun memajukan ide pengembangan kurikulum: matapelajaran umum yang dianjurkannya untuk meleng­kapi matapelajaran agama, misalnya, ada­lah sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekono­mi, dan bahasa-bahasa asing. Selain itu, dalam upayanya untuk menjawab kebu­tuhan mendesak tentang fenomena kris­tenisasi di beberapa negara dunia Islam, di antaranya termasuk Indonesia, pada 1912 ia berhasil mendirikan sekolah dakwah di Kairo: Madrasah ad-Da`wah wa al-IrsyNd. Para lulusan hasil gemblengan sekolah ter­sebut, kemudian, dikirimkannya ke nega ra-negara Islam yang membutuhkannya. Namun ketika terjadi Perang Dunia I, se­kolah dakwah ini terpaksa dihentikan ke­giatannya.

Sebagaimana Jamaluddin al-Afgani, Rasyid Rida pun terjun dalam bidang po­litik yang telah dimulainya ketika ia masih berada di tanah airnya., Kegiatan politik­nya di Mesir terutama dilakukannya sete­lah Muhammad Abduh wafat. Melalui ma­jalahnya (al Man-r)ia banyak menulis ar­tikel politik untuk menentang pemerin­tahan totaliter Kerajaan Usmani dan po­litik kolonialisme Inggris serta Prancis yang hendak membagi-bagi dunia Arab ke dalam wilayah kekuasaannya. Untuk me­nentang semua praktek penyimpangan dan tekanan politik, menurutnya, umat Islam harus bersatu: persatuan yang dida­sarkan kepada sistem ideologi Islam, bu­kan ideologi nasionalisme yang tidak se­suai dengan konsep persaudaraan univer­sal antarsesama umat Islam. Agaknya, pe­mahaman politik Islamnya terwarnai oleh konsep panislamisme Jamaluddin al-Af­gani. Adapun sistem kenegaraan yang di­pandangnya sesuai dengan Islam adalah negara dalam bentuk kekhalifahan: suatu pandangan tradisional tentang sistem po­litik Islam.

Sebagaimana pembaharu lain, ia pun berpandangan bahwa kemunduran umat selain disebabkan oleh kelemahan dan per­pecahan politik, juga disebabkan oleh pe­mahaman dan orientasi teologisnya yang bers.ifat fatalistik. Karena itu, selain harus menyusun kembali kekuatan dan persatu­an politik, umat pun hams mengubah pan­dangan teologisnya serta berorientasi ke­pada kemajuan sains dan teknologi sebagai­mana yang berkem bag di Barat. Rasyid Rida, seorang pembaharu asal Libanon ini, wafat pada Agustus 1935 (1356 H).

Advertisement
Filed under : Uncategorized,