Advertisement

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN Di Dunia Islam, Yang dimaksud dengan pendidikan tinggi di dunia Islam adalah perguruan tinggi di jaman kekalifahan yang diteruskan oleh kesultanan Ottoman yaitu antara tahun 632 sampai tahun 1922. Pada waktu itu pengarsipan tertulis belum semudah seperti setelah ditemukannya cara pencetakan di atas kertas (abad ke­15) Tulisan-tulisan ditulis di kulit binatang, daun, kulit kayu, tulang atau yang dapat ditulisi. Pada waktu itu yang sangat menentukan adalah kekuatan daya ingat para saijana Islam yang menakjubkan, sangat kuat.

Untuk membicarakan hal ini perlu diingat terlebih dahulu bahwa ada tiga masa penting dalam perkembangan budaya manusia :

Advertisement
  • Masa sebelum ada tulisan
  • Masa tulisan tangan (manuskrip)
  • Masa zaman cetakan

Ketika kertas masih jarang adanya, para ahli di dunia Islam telah menyatakan bahwa pengetahuan adalah apa yang dapat ditulis di atas kertas.

Di jaman dunia Islam para sarjana muslim sangat kuat daya ingatnya, banyak yang hafal Al Qur’an, hafal hadith, hafal kisah dan syair. Setelah ditemukannya cara mencetak, para ahli terutama sarjana di dunia barat tidak lagi mengandalkan pentingnya pengetahuan yang disimpan dalam ingatan sebab arsip berupa buku lah yang dianggap paling penting.

Ajaran di dunia Islam dilakukan dengan tradisi tutur, persis seperti yang dilakukan para kiai agama Islam di Jawa. Dunia Islam sangat menganggap penting cara mendapatkan ilmu dengan berguru kepada seseorang. Belajar autodidak melalui buku memang bisa menjadikan seseorang pandai tetapi penilaian kepada kepandaian yang dicapai melalui autodidak tidak sebesar seperti yang diberikan kepada kepandaian yang dicapai dengan cara berguru. Dengan demikian guru ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat. Dalam pewayangan hal ini seperti kasusnya Palgunadi yang menjadi ahli melalui autodidak. Palgunadi baru dianggap ahli setelah memberikan pengorbanan ibu jari tangannya sebelah kanan kepada yang dianggapnya sebagai gurunya, yakni pandito Durno.

Dalam dunia Islam untuk para intelektual berlaku etika dan ajaran :

Seorang ilmuwan dilarang menolak permintaan pencari ilmu yang sudah memenuhi persyaratan­persyaratan untuk mendapatkan ilmu dari si ilmuwan.

Ilmuwan yang kikir dengan ilmunya akan menghadapi tiga bencana yaitu mungkin dia akan lupa mengenai ilmunya, atau dia mati tanpa sempat memanfaatkan ilmunva, atau dia mungkin akan kehilangan buku-bukunya. Diharapkan kepada pernilik ilmu agar menularkan ilmunya kepada orang lain yang telah memenuhi persyaratan.

Dalam dunia_ Islam ada pelajaran tentang bagaimana memperlakukan buku, menyimpannya, merawat, membeli, meminjam, dan menyalin. Jika engkau tidak menyimpan banyak pengetahuan dalam ingatanmu, maka tak ada gunanya engkau mengumpulkan buku.

Pengumpulan dan pemilikan sejumlah besar buku tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa si pemilik buku adalah sarjana.

Jangan bersusah-payah menyalin buku jika bisa membelinya. Lebih penting menggunakan waktu untuk mengkaji buku daripada untuk menyalinnya.

Janganlah merasa cukup puas dengan meminjam buku jika bisa membeli atau menyewanya.

Peminjam buku hendaknya tidak berlambat-lambat mengembalikannya tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Peminjam dilarang menahan buku itu jika si pemilik memintanya untuk mengembalikannya.

Buku pinjaman tidak boleh disalin tanpa izin dari pemilik. Jika sebuah buku telah diwakafkan dan tanpa aturan-aturan lebih lanjut, dibiarkan digunakan oleh mereka yang berkepentingan maka tak ada sesuatu pun yang dapat mencegah orang untuk menyalinnya jika dia cermat.

Karena sering kali buku yang dipinjam tidak dikembalikan kepada pemiliknya maka sedikit sekali orang yang mau meminjamkan bukunya kepada siapa pun

Salinan sebuah manuskrip harus dibandingkan dengan naskah lain yang diketahui sebagai benar, dengan demikian salinan itu sah.

 

 

 

Advertisement