PERKEMBANGAN PERILAKU MANUSIA

7 views

Perilaku lokomotor manusia barangkali berkembang dari nenek-moyang yang menyerupai kera dengan tulang belakang pendek, dahi rata, dan bahu serta tulang depan yang mobil, yang diadaptasi untuk memanjat dan mengangkat tubuh dari bawah cabang-cabang pohon. Seperti kera modern (tapi tidak sama dengan monyet), nenek-moyang hipotesis ini relatif janggal dan boros energi ketika berjalan di tanah, baik dengan empat kaki maupun dua kaki. Tapi sebagaimana kelompok primata lain, cara berjalan di tanah semakin lama semakin sering dilakukan. Mengapa nenek moyang kita memilih berjalan dua kaki ketimbang empat kaki tidaklah terang sebab-musababnya, namun yang jelas rancang bangun tubuh yang menyerupai kera itu dibentuk agar tidak boros energi juga ketika berjalan dalam kecepatan normal. Tangan-tangan yang bebas membawa sesuatu merupakan keuntungan cara berjalan dua-kaki. Bukti fosil menunjukkan bahwa cara berjalan dua kaki ini muncul pada jalur evolusi manusia sejak 3,5 Myr, sedangkan sebelum waktu itu tidak ditemukan catatan palaentologisnya.

Sejarah evolusi cara makan manusia terdokumentasikan melalui fosil-fosil gigi yang berasal dari ribuan tahun lalu. Hominid-hominid awal memiliki banyak perbedaan dengan kera-kera Afrika, dengan enamel geraham yang tebal, gigi taring yang luar biasa panjang, dan otot-otot memanjat yang kuat. Studi-studi miskroskopis terhadap sisa-sisa gigi itu menunjukkan bahwa manusia awal barangkali tidak makan biji atau rumput, dan tidak pula mereka mengunyah tulang. Menjelang 2 Myr yang silam, manusia memakan daging, sebagaimana terlihat dari sisa tulang yang terlihat bekas dipotong dengan alat batu. Ukuran gigi taring juga perlahanlahan berkurang mulai dari 2 Myr hingga sekarang, yang banyak disebabkan oleh telah banyaknya pengolahan makanan sebelum dikunyah sehingga menggantikan fungsi gigi pemotong itu. Banyak aspek lain dari evolusi perilaku manusia yang berkaitan dengan fakta bahwa ukuran otak absolut berlipat tiga dan ukuran relatifnya berlipat dua selama 2,5 Myr evolusi manusia. Fosil-fosil yang berasal dari 3,5 dan 2,5 Myr yang lalu memiliki volume endocranial yang sama dengan simpanse modem, kendati ukuran tubuh mereka sedikit lebih besar. Evolusi biologis pada hampir semua aspek perilaku manusia lebih sukar lagi didokumentasikan. Metode dasar untuk melakukannya adalah memperbandingkannya dengan binatang yang hidup sekarang. Dari sudut ini jelaslah bahwa bahasa simbol yang terucap merupakan milik khas manusia di antara semua organisme hidup yang ada. Studi-studi lapangan mengenai monyet menunjukkan bahwa mereka memiliki semacam bentuk komunikasi suara simbolis, namun jurang perbedaan kemampuan bicara manusia dan primata non-manusia sangatlah besar. Kesulitan utama dalam mempelajari evolusi biologis perilaku manusia adalah menentukan komponen genetik dari perilaku itu. Acapkali unsur genetik yang ada hanya kelenturan perkembangan yang secara genetik telah dikondisikan. Terdapat basis genetik dalam hal perkembangan neurofisiologi yang dibutuhkan dalam berbicara, misalnya, namun dibutuhkan kelenturan yang besar dalam mempelajari bahasa. Ada basis genetik dalam hampir semua aspek manusia, namun ada kelenturan yang besar dalam bagaimana cara mengungkapkannya. Salah satu metode untuk memperkirakan sumbangan genetik terhadap perilaku tertentu adalah dengan memperbandingkan perbedaan antara kembar- kembar identik (yang secara genetik merupakan individu yang identik) dengan perbedaan di antara individu-individu yang tidak berkait. Studi kembar dalam kenyataannya diperumit oleh kenyataan bahwa hampir semua kembar dibesarkan di lingkungan yang sama dan bahwa sampel kembar identik yang bisa dipakai masih sangat kecil. Salah satu terobosan teoretis dalam studi evolusi perilaku terjadi pada 1964 dengan terbitnya The General Theory of Social Behavior, dari W.D. Hamilton, la berpendapat bahwa perilaku yang amat dikontrol gen yang cenderung menurunkan daya hidup suatu organisme dapat saja tunduk oleh seleksi alam lantaran apa yang dikenal dengan seleksi kerabat (kin selection). Seleksi kerabat mengacu pada ‘seleksi gen yang disebabkan oleh efeknya dalam mendukung keberhasilan reproduksi kerabat di luar keturunan langsung’. Teori seleksi kerabat telah diterapkan untuk menjelaskan sekian aspek perilaku sosial binatang-binatang non-manusia, khususnya serangga sosial, namun aplikasinya dan teori-teori sosiobiologis lainnya terhadap evolusi perilaku manusia sampai kini belum menghasilkan prinsip-prinsip yang dapat diterima secara universal. Besarnya plastisitas perilaku manusia membuat penelitian terhadap prinsip evolusinya menjadi sukar, namun sudah banyak sekali riset yang sedang dijalankan mengenai topik ini. Hal yang lebih sulit, atau memang mustahil, adalah meneliti divergensi atau peragaman evolusi perilaku antara kelompok manusia berdasarkan aspek genetika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *