Advertisement

Penjelasan tentang Silangan Monohibrid, Dari kenyataan bahwa tanaman dangkal tidak muncul pada F1, tetapi tampak lagi pada F2 bersama-sama dengan tanaman dalam dan tanpa satupun tipe peralihan, jelaslah bahwa ‘sesuatu’ dari tanaman tetua yang tepi daunnya dangkal telah terbawa ke silangan F1 tanpa perubahan, sedangkan pada F2- nya akan memisahkan diri. Jelas pula, bahwa ‘sesuatu’ ini bukan hanya sifat dangkal (yang tidak tampak pada F1) tetapi beberapa ‘faktor’ yang menentukan perkembangan sifat itu pada tahap yang cocok pada perkembangan daun tumbuhan tertentu. Faktor penentu (determinant) suatu sifat turuntemurun seperti pertakikan (indentation) daun itu disebut gen, yang kini dikenal (walaupun pembuktiannya belum akan diuraikan sampai Bab 17) sebagai suatu segmen tertentu dari satu molekul DNA yang terletak pada titik tertentu sepanjang kromosom di dalam inti. Jika satu gen memiliki lebih dari satu keadaan dan masing-masing daripadanya menghasilkan perbedaan fenotipe, keadaan alternatif ini dikenal dengan istilah alel (alleles). Pada persilangan yang sedang diamati, gen untuk pertakikan (lekukan) daun memiliki dua keadaan atau dua alel, yaitu alel dalam dan alel dangkal.

Karena sel kelamin atau garnet pada organisme yang berkembang biak melalui perkawinan merupakan satusatunya hubungan antara tetua dan keturunannya, jelas juga bahwa garnet harus terlibat dalam transmisi gen dari. satu generasi ke generasi berikutnya. Pada silangan monohibrid yang sedang kita amati, tanaman tetua dalam dihasilkan oleh peleburan kedua garnet dari galur dalam yang menangkar sejati, tanaman tetua dangkal dihasilkan oleh peleburan dua garnet dari galur dangkal yang menangkar sejati, dan F1 dihasilkan oleh peleburan dua garnet yang masing-masing satu dari setiap galur, tanpa mempermasalahkan dari yang mana silangan itu dilakukan. Hasil silangan dapat dijelaskan dengan berasumsi bahwa: (1) setiap sel (kecuali garnet) tanaman Coleus memiliki dua alel gen yang mengatur pertakikan daun, satu berasal dari tetua betina dan yang lain dari tetua jantan; (2) pada pembentukan garnet (bakal biji dan serbuk sari) kedua alel itu terpisah satu dari yang lain, atau bersegregasi, dengan hasil bahwa setiap garnet hanya memiliki satu alel; dan (3) pada pembuahan garnet-garnet melebur berpasangan secara acak, sehingga zigot dan individu baru yang berkembang dari garnet-garnet itu memiliki lagi dua alel. aur ini diulang jika garnet-garnet dibentuk oleh generasi  baru. Bagaimana asumsi ini berlaku bila diterapkan pada monohibrid? Jika alel yang dominan bagi pentakikan clam dinyatakan dengan A dan alel yang resesif untuk pentakikan dangkal dengan a, maka kedua penangkaran :nurni individu P dapat dinyatakan dengan AA dan aa, sebab keduanya memiliki dua alel yang identik dalam setiap sel aibuhnya. Demikian pula individu F1 dapat dinyatakan dengan Aa, sebab dalam masing-masing sel tubuhnya terdapat satu alel A dan satu alel a. Atas dasar bahwa alel akan bersegregasi jika garnet terbentuk, maka setiap individu P akan memberikan hanya satu macam garnet (baik bakal bijinya maupun serbuk sarinya) yang berisi alel A (jika individu.itu AA), atau alel a (jika individu itu aa). Demikian pula individu F1 akan menghasilkan dua macam garnet betina (bakal biji), A dan a, dalam jumlah yang sama, dan dua macam gamet jantan (serbuk sari), A dan a, juga dalam jumlah yang sama. Bila suatu bakal biji A dibuahi oleh satu serbuk sari A, hasilnya ialah tumbuhan AA, yang pada gilirannya hanya akan menghasilkan gamet A, jadi menangkar sejati. Jika satu bakal biji a dibuahi oleh serbuk sari a, akan kita peroleh tumbuhan aa yang juga menangkar sejati. Akan tetapi jika satu bakal biji A dibuahi oleh serbuk sari a, atau sebaliknya, maka akan kita peroleh satu tumbuhan Aa, yang seperti individu F1 akan menghasilkan garnet A dan a, dan terulanglah pola keturunan F2, bila menyerbuk sendiri.

Advertisement

Hanya kebetulan (chance) yang akan menentukan yang mana dari kedua alel yang ada dalam sel tubuh suatu individu itu yang akan memasuki suatu garnet tertentu. Kebolehjadian atau probabilitas bahwa suatu gamet F1 (bakal biji atau serbuk sari) akan membawa alel dominan A adalah satu dari dua, atau 1/2, seperti halnya dengan satu mata uang yang dilemparkan ke udara memiliki kemungkinan yang sama (yaitu probabilitas 1/2) untuk jatuh dengan bagian ‘muka’ atau bagian ‘belakang’ menghadap ke atas. Probabilitas bahwa suatu garnet tertentu, bakal biji atau serbuk sari, akan membawa alel resesif a adalah 1/2 juga. Kebetulan juga menentukan apakah bakal biji A atau a yang akan dibuahi oleh serbuk sari A atau a, sebab pembuahan merupakan suatu kejadian acak (random event). Jadi pengaturan transmisi gen itu bergantung pada hukum kebetulan yang berlaku pula bagi semua kemungkinan atau kejadian acak.

Suatu individu F2 yang bergenotipe AA sudah pasti berasal dari bakal biji A yang dibuahi oleh serbuk sari A. Karena probabilitas bakal biji F1 dengan kandungan A adalah 1/2 dan probabilitas serbuk sari F1 dengan kandungan A juga 1/2, maka probabilitas memperoleh biji pada F2 dengan kandungan AA melalui pembuahan acak ialah 1/2 x 1/2 = 1/4. Kesimpulan ini merupakan contoh penerapan ‘hasil kali hukum probabilitas’, yang pada pokoknya menyatakan bahwa probabilitas kejadian yang simultan dari dua atau lebih peristiwa yang independen adalah sama dengan hasil kali probabilitas dari kejadian-kejadian itu secara terpisah.

Genotipe dengan susunan tersebut dalam perbandingan seperti di atas memberikan nisbah genotipe 1 : 2 : 1, atau karena individu AA dan Aa akan tampak serupa, maka nisbah fenotipenya adalah 3 : 1. Jadi asumsi kita mengarah ke penjelasan yang sesuai dengan hasil-hasil pengamatan. Silangan monohibrid dari generasi tetua ke generasi F1, seperti ditafsirkan dengan metode probabilitas untuk perhitungan nisbah garnet dan zigot, diringkaskan dalam  15.2.

 

 

Advertisement
Filed under : Ilmu Alam,