Advertisement

Penilaian Kelimpahan Secara Kuantitatif, Karena keterbatasan dalam penaksiran kelimpahan secara visual, maka metode kuantitatif dengan maksud untuk menghilangkan pertimbangan pribadi si pengamat telah dikembangkan. Metode kuantitatif untuk menilai kelimpahan berpijak pada pencatatan kelimpahan yang sesungguhnya dalam sejumlah cuplikan (sample) luasan komunitas dan kemudian hasilnya digunakan untuk menaksir kelimpahan dalam komunitas secara keseluruhan. Oleh karena cuplikancuplikan ini dianggap mewakili keseluruhan komunitas, maka cuplikan-cuplikan ini harus diambil secara acak. Metode pencuplikan secara acak ini diterapkan untuk meyakinkan bahwa cuplikan-cuplikan itu disebar sedemikian rupa untuk menghilangkan kecenderungan yang sengaja atau tidak sengaja usaha pemasukan setidak-tidaknya satu individu jenis-jenis yang mencolok dan besar yang dirasakan perlu untuk dicakup dalam pencuplikan. Cuplikan ini disebut kuadrat (yang secara harfiah berarti bujur sangkar) sebab menurut tradisi cuplikan ini berbentuk bujur sangkar, dan tetap disebut kuadrat meskipun cuplikan-cuplikan itu berbentuk lingkaran, segi empat, dan bahkan garis lurus. Ukuran kuadrat yang sesuai untuk menganalisis vegetasi terna adalah kuadrat-kuadrat yang sisinya berukuran 25 cm atau 1 m, tetapi tipe vegetasi hams menentukan ukuran kuadrat yang dipilih —kuadrat kecil bila tumbuhan yang dicuplik kecil dan banyak (misalnya lumut), dan kuadrat besar bila tumbuhannya besar dan terpencar luas (misalnya pohon). Pencuplikan yang memadai sebagian besar komunitas tumbuhan adalah proses yang memakan waktu banyak, dan biasanya dibuat kuadrat sebanyak-banyaknya sesuai dengan waktu yang tersedia, meskipun ada beberapa perhitungan empiris yang menunjukkan bahwa pencuplikan lebih lanjut tidak ada manfaatnya.

Ada tiga metode yang biasa dipakai untuk menyatakan kelimpahan secara kuantitatif dan yang mana yang harus digunakan bergantung kepada tujuan untuk apa informasi itu diperlukan dan kepada waktu yang tersedia untuk pencuplikan vegetasi. Yang pertama dari metode kuantitatif berikut ini dinyatakan dalam nilai mutlak sedangkan yang dua lainnya dalam nilai nisbi.

Advertisement

Kerapatan. Kerapatan (atau kepadatan) suatu jenis adalah jumlah individu rata-rata per satuan luas. Kerapatan ditaksir dengan menghitung jumlah individu setiap jenis dalam kuadrat yang luasnya ditentukan, dan kemudian penghitungan ini diulang di tempat-tempat yang tersebar secara acak. Hasil-hasil dari semua kuadrat ini kemudian dijumlahkan dan kerapatan rata-rata dihitung untuk setiap jenis. Terpisah dari kesukaran praktis dalam penentuan di mana suatu tumbuhan tertentu (misalnya rumput-rumput yang berimpang) berakhir dan yang berikutnya mulai, metode ini tidak berat sebelah karena pengaruh pribadi, meskipun mempunyai kelemahan bahwa jumlah mutlak tidak selalu menunjukkan kepentingan nisbi dalam suatu komunitas. Misalnya saja, lima pohon besar lebih penting dalam struktur suatu hutan daripada lima tumbuhan lumut. Sampai tingkat tertentu keterbatasan metode kerapatan ini dapat ditanggulangi dengan penggunaan persentase penutupan sebagai ukuran kelimpahan.

Persentase penutupan. Ini didefinisikan sebagai persentase tanah yang tertutup oleh bagian-bagian tumbuhan tertentu yang ada di atas tanah. Sifat penutupan ini mudah dipahami dengan mengatakan bahwa, bila suatu komunitas yang terdiri atas satu jenis dan tumbuh pada tanah datar disinari langsung dari atas, bagian permukaan tanah yang tertutup oleh bayangan akan merupakan penutupan jenis tersebut. Perkiraan nilai penutupan dapat diperoleh dengan menaksir secara visual persentase jumlah luas kuadrat yang tertutup oleh suatu jenis tertentu, tetapi nilai yang lebih pasti dapat diukur dengan metode kuadrat titik. Metode ini berpijak pada pencatatan jenis mana, bila ada, yang menutup permukaan tanah pada sejumlah titik dalam komunitas yang dipertelakan. Dalam prosedur ini digunakan jarum-jarum panjang dan halus atau jarum-jarum untuk merajut yang digantungkan dalam suatu kerangka yang dapat disesuaikan dengan tingginya vegetasi. Jarum-jarum ini diturunkan satu-satu dan jenisjenis yang dikenai setiap jarum dicatat. Untuk setiap jenis, jumlah semua ‘kenaan’ (hit) yang diperoleh dari serentetan kerangka cuplikan kemudian dinyatakan sebagai persentase dari semua kenaan untuk semua jenis. Kesalahan utama metode kuadrat titik ini adalah taksiran nilai penutupan sebenarnya suatu jenis terlalu tinggi karena jarum yang tebal, seperti jarum perajut, akan mengenai tumbuhan yang tidak akan membuat kontak dengan sumbu jarum. Untuk maksud perbandingan kelebihan taksiran persentase penutupan ini dapat diabaikan asal saja diameter jarum yang dipakai pencuplikan dari satu tempat ke tempat lain tetap.

Persentase penutupan barangkali merupakan ukuran kelimpahan yang paling informatif dan banyak digunakan untuk mempertelakan vegetasi padang rumput di mana tidak mungkin untuk menentukan dari mana suatu individu mulai dan di mana berakhir. Keadaan yang tak menguntungkan dari metode ini adalah bahwa pencuplikan menjemukan dan lambat karena untuk memperoleh taksiran penutupan yang dapat terpercaya diperlukan pencuplikan yang banyak. Penggunaan metode ini juga terbatas pada komunitas terna yang rendah.

Frekuensi. Frekuensi suatu jenis mengukur keterdapatan jenis tersebut dalam kuadrat yang besarnya tertentu dan yang disebar secara acak dalam suatu komunitas tertentu. Frekuensi ditentukan dengan mencatat hanya kehadiran dan ketidakhadiran (bukan jumlah individu suatu jenis dalam sederetan kuadrat yang disebar secara acak). Sebagai contoh, bila 50 kuadrat disebarkan dan suatu jenis tertentu terdapat dalam 10 kuadrat, maka frekuensi jenis tersebut adalah 20 persen. Keuntungan utama dari frekuensi sebagai ukuran kelimpahan adalah suatu tempat dapat dicuplik dengan mudah dan cepat. Tetapi dalam penggunaan metode frekuensi, sangat penting untuk diingat bahwa frekuensi bergantung pada ukuran kuadrat, dan angka frekuensi yang sangat berbeda akan diperoleh dari pencuplikan komunitas yang sama dengan kuadrat yang ukurannya berbeda. Dalam komunitas diagramatik pada  12.3 jelas bahwa kuadrat A akan Tlemberikan nilai frekuensi 100 persen sedangkan kuadrat hanya sekitar 60 persen. Oleh karena itu, tidak mungkinenggunakan data frekuensi untuk membandingkan floristik dua tempat yang serupa bila tidak dipakai kuadrat Tang sama besar di kedua tempat tersebut. Dengan alasan :ersebut, dalam pencatatan nilai frekuensi sangatlah penting :.-ntuk menyebutkan ukuran kuadrat yang dipakai sebagai dasan pencatatan tersebut. Oleh karena nilai frekuensi -..-ergantung pada ukuran kuadrat, maka penentuan ukuran kuadrat yang akan dipakai harus dipertimbangkan dengan iaksama. Jika kuadrat terlalu besar untuk mencuplik suatu komunitas tertentu, nilai-nilai frekuensi yang serupa akan :iiperoleh untuk jenis yang kelimpahannya jelas berbeda. Meskipun demikian, bila digunakan dengan wajar, frekuensi memberikan cara yang tepat untuk menyatakan kelimpahan -:isbi jenis-jenis yang menyusun suatu komunitas. Bila keterbatasan metode ini tidak diperhatikan, maka data irekuensi akan sangat menyesatkan.

Advertisement