Advertisement

Penguraian dalam Monem, Kegiatan yang memungkinkan penguraian ujaran menjadi ber­bagai monem bukannya tidak serupa dengan kegiatan penguraian penanda menjadi berbagai fonem. Jelas di dalam kedua hal di atas, masalahnya adalah menetapkan segmen-segmen yang merupakan pilihan khas penutur: pada kasus fonem, masalahnya adalah penutur harus memilihnya sedemikian rupa sehingga memperoleh penanda yang diinginkan; sedangkan di sini masalahnya adalah bagaimana penutur memilih segmen-segmen demi valensi tertentu yang diberi­kannya pada amanat. Analisis akan menghasilkan pendekatan ujaran .yang makin sedikit perbedaannya secara fonis, tetapi semakin dekat secara semantis. Misalnya dalam bahasa Perancis, /ilkur/ it court dan /nukuria/ nous courions penandanya memiliki kesamaan segmen yaitu /kur/ dan petanda pengertian “courir” (lari), namun kedua ujaran itu nampak sangat berbeda. Yang agak berkurang perbedaan­nya adalah /nukurib/ dan /nukuro/ yang memiliki kesamaan /nukur…25/ dan petanda “courir” dan “premiere personne du pluriel” (orang pertama jamak) (keduanya dipisahkan oleh pendekatan /nukuriol dan /vukurie/ vous couriez, /nukurO/ dan /vukure/ vous courez). Penandanya dibedakan oleh penyisipan /…i…/ pada bentuk pertama, dan tak adanya penyisipan /…i…/ pada bentuk kedua, pe­tandanya dibedakan oleh pengertian “imparfait” yang terdapat dalam bentuk pertama dan tidak hadir dalam bentuk kedua. Jadi, dapat dikatakan ada sebuah monem dengan petanda “imparfait” dan penanda /i/ yang disisipkan sebelum /45/ akhir. Tanda imparfait itu memiliki petanda yang sama, yaitu /i/ apabila ia hadir bersama dengan pengertian “deuxieme personne du pluriel” (orang kedua jamak), tetapi di dalam konteks lain, tanda imparfait itu diungkap­kan oleh penanda /-e/ (il courait /ilkure/ ‘dia lari’). Di dalam konteks tertentu (que nous courions /knukurio/ ‘agar kami lari’) penanda /4• itu berkaitan dengan petanda yang sama sekali lain, yaitu pe­tanda subjonctif. Petanda itu, apabila hadir bersama dengan “orang” yang menyebabkan imparfait menjadi berpenanda /-e/, (dalam hal kata kerja “courir” ‘lari’) tidak memiliki pengungkapan yang ber­beda: setelah ungkapan it veut /ilvo/ ‘ia ingin’, digunakan subjonctif, que nous courions /knukurib/ ‘agar kita lari’, dan setelah ungkapan it voit /ilvwa/ ‘ia melihat’, digunakan indikatif, que nous courons /knukuro/ ‘bahwa kita lari’. Namun, jika dikombinasikan dengan “orang ketiga tunggal”, penanda bagi kedua modus di atas sama /kilkur/ meskipun ejaannya berbeda: qu’il coure ‘agar ia lari’ dan qu’il court ‘bahwa ia lari’. Dalam hal ini sering dikatakan bahwa penandanya zero. Berdasarkan analisis yang sangat terbatas tadi, dapat kita kata­kan bahwa dalam bahasa Perancis terdapat sebuah petanda “impar fait” yang sesuai dengan konteks yang diungkapkan oleh /-i-/ atau /-e-/, dan sebuah petanda “subjonctif’ yang penandanya kadang­kadang /-i-/ dan kadang-kadang zero. Analisis yang lebih mendalam, misalnya dilanjutkan sampai ke bentuk-bentuk seperti itfaisait /ilfze/ ‘ia berbuat’, qu’il false /kilfas/ ‘agar berbuat’, akan menunjukkan ke­pada kita bahwa analisis tadi mencakup semua fakta yang berkaitan dengan tanda imparfait /-i-/, /-e-/, namun harus dirinci lagi dalam hal subjonctif /-i-/ dan zero, karena bentuk subjonctif /kilfas/ tidak identik dengan indikatif /kilfe/. Jadi, kita harus mengatakan bahwa bersamaan dengan kehadiran petanda “faire”, “finir”, “mentir” dan banyak lagi yang lain, petanda subjonctif mengakibatkan pengguna­an varian yang khusus dari penandanya: /fas/, /finis/, /mat/.

Advertisement
Advertisement