Advertisement

Pengukuran Transpirasi, Pengukuran laju evaporasi dari permukaan air boleh dikatakan tidak berbelit-belit karena proses ini seluruhnya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Di lain pihak pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena semua cara pengukuran transpirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk menaksir laju transpirasi, dan semuanya mempunyai berbagai kesalahan yang merupakan sifat cara tersebut.

  1. Kertas kobal klorida. Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap air yang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah bila kering tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan sebuah gelas preparat. Pada bagian bawah daun pada posisi yang sama ditempelkan lagi sebuah gelas preparat lain dan kemudian kedua gelas preparat tersebut dijepit. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna kertas dari biru cerah menjadi biru muda yang telah dibakukan merupakan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup kertas. Kelemahan yang serius dari teknik ini adalah bahwa stomata yang berada di bawah kertas mulai menutup dalam waktu beberapa menit segera setelah terlindung kertas. Sekiranya percobaan dapat diselesaikan sebelum stomata mulai menutup, masih terdapat kelemahan lain yaitu bahwa permukaan daun di bawah kertas bertranspirasi ke udara yang kering sekali, suatu kondisi yang jarang dijumpai dalam alam. Oleh karena itu, penggunaan kertas kobal klorida untuk menaksir laju transpirasi sebenarnya dari daun tidak memberikan hasil yang baik.
  2. Potometer. Alat ini ( 11.2) mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi. Sayangnya perilaku sepotong pucuk mungkin sekali sangat berbeda dengan perilaku tumbuhan utuh, sehingga pengukuran dengan cara ini mungkin tidak mencerminkan transpirasi dalam kondisi alami. Namun, potometer bermanfaat untuk memperagakan pengaruh kondisi luar terhadap transpirasi.
  3. Pengumpulan uap air yang ditranspirasi. Cara ini mengharuskan tumbuhan atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus cahaya sehingga uap air yang ditranspirasi dapat dipisahkan. Bila digunakan tumbuhan dalam pot hendaknya diusahakan agar tidak terjadi evaporasi dari permukaan pot dan tanah. Aliran udara disedot secara sinambung melalui bejana tersebut dan kemudian dilewatkan ke dalam tabung-tabung U yang sebelumnya sudah ditimbang dan berisi penyerap air (misalnya fosfor pentoksida atau kalsium klorida). Setelah beberapa waktu tabung-tabung U ditimbang kembali. Dibuat pula sebuah eksperimen kontrol tanpa tumbuhan dan ke dalam alat-alat itu dialirkan udara dengan volume sama, untuk menentukan kandungan air dalam aliran udara. Dari perubahan berat dua perangkat tabungtabung U tersebut, banyaknya uap air yang dilepas oleh tumbuhan selama eksperimen dapat ditentukan. Kelemahan cara ini ialah bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh aliran udara yang bergerak, yaitu ‘faktor angin’ (lihat kemudian) jadi dimasukkan.
  4. Penimbangan langsung. Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot yang telah diatur sedemikian rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untuk jangka waktu tertentu dengan penimbangan langsung. Cara lain ialah mencegah pengeringan tanah terlalu banyak selama eksperimen yang panjang, dan laju transpirasi dapat dihitung dengan menentukan berapa banyak air yang harus ditambahkan ke dalam pot sampai berat semula dicapai kembali. Oleh karena selama eksperimen tumbuhan juga tumbuh, penubahan beratnya tidak hanya menunjukkan kehilangan berat karena transpirasi tetapi juga penambahan berat yang diakibatkan oleh fotosintesis. Namun, kehilangan berat karena transpirasi biasanya beberapa ratus kali lebih besar daripada penambahan berat yang disebabkan oleh fotosintesis. Oleh karena itu, kesalahan yang terkandung dalam metode tersebut, kecil saja dan kerapkali dapat diabaikan.

Para pakar pertanian menaruh perhatian terhadap transpirasi sebab mereka ingin mengetahui berapa banyak air yang diperlukan berbagai tanaman budidaya untuk pertumbuhan optimumnya. Tetapi kehilangan air dari suatu luasan vegetasi tidak hanya mencakup air yang hilang oleh transpirasi tetapi juga yang hilang karena evaporasi dari permukaan tanah. Kehilangan air yang digabungkan tersebut dinamakan evapotranspirasi dan istilah ini memberikan pertelaan yang lebih berarti mengenai hilangnya air oleh tanaman daripada transpirasi saja. Pengukuran tranpirasi dalam skala lapangan melibatkan penggunaan alat besar yang disebut lisimeter. Dalam salah saw tipe lisimeter (  11.3) tanaman ditumbuhkan dalam sebuah tangki besar yang kedap air dengan bagian atasnya terbuka seluas 10-20 m2 dan cukup dalam sehingga tanaman dapat berkembang secara normal. Tangki ini dipendam dalam sebuah lubang dengan permukaan tangki dibuat rata dengan permukaan tanah sekelilingnya, dan tangki duduk pada sederetan bantal berisi air di dasar lubang. Perubahan tekanan dalam bantal-bantal, yang diakibatkan oleh pengurangan atau penambahan bobot tangki, dicatat oleh manometer terbuka yang merupakan timbangan hidrostatik untuk sistem ini. Air yang meresap ke dalam tanah dan mengumpul di dasar tangki dialirkan ke dalam tabung penampung yang ditempatkan dalam ruang pengumpul air di samping lubang tempat tangki. Dengan diketahuinya dalam jangka waktu tertentu jumlah air yang masuk ke dalam lisimeter baik sebagai air irigasi maupun air hujan, jumlah air yang hilang karena drainase, dan perubahan berat lisimeter, maka jumlah evapotranspirasi yang terjadi selama jangka waktu yang sama dapat ditaksir. jumlah nisbi seluruh evapotranspirasi yang disebabkan oleh evaporasi dari tanah dan transpirasi oleh tanaman dapat diketahui dengan mengukur evaporasi dari tanah dalam lisimeter kontrol yang diisi dengan macam tanah yang sama tetapi tidak ditumbuhi tanaman. Ternyata bahwa evaporasi dari tanah menyumbangkan lebih sedikit kepada evapotranspirasi total daripada transpirasi dari tanaman. Dalam komunitas tumbuhan yang lebat, evaporasi tanah dapat kurang dari 10 persen, tetapi dalam komunitas tumbuhan terbuka persentasenya jauh lebih besar.

Advertisement

Laju transpirasi, yang ditentukan dengan salah satu cara tersebut di atas, dinyatakan sebagai jumlah air yang hilang per satuan tumbuhan per satuan waktu, tetapi satuan sebenarnya yang dipilih bergantung kepada maksud pengukuran. J adi satuan tumbuhan dapat berupa luas daun, permukaan daun (yaitu luas daun dikalikan dua karena pada sehelai daun terdapat dua permukaan), seluruh tumbuhan atau satuan luas tegalan atau hutan. Demikian pula dengan satuan waktu dapat satu jam, satu hari, satu bulan, atau bahkan satu tahun.

 

Advertisement