Advertisement

Penggunaan Khas Bahasa Sastra, Orang dapat saja mengecam keadaan yang mengharuskan pe­muda berbahasa Perancis melewatkan waktu berjam-jam untuk membedakan kedua ragam bahasa di atas, padahal sebenarnya pada waktu itu lebih baik digunakan untuk pembelajaran ketrampilan yang lebih produktif. Memang suatu fakta bahwa grafi Perancis, yang bagi orang asing relatif memudahkan di dalam menemukan lafal suatu kata yang bentuk tulisnya sudah dikenal, malah merupakan hambat­an bagi mereka yang telah belajar terlebih dahulu melafalkan bahasa itu sebelum dapat membaca dan menuliskannya. Namun, kita harus yakin bahwa wajar sekali jika ada perbedaan di antara adat bahasa li­san dan adat bahasa tulis. Pada umumnya dapat diterima bahwa, mengingat aksara mereproduksi secara sangat tidak sempurna intonasi suara, maka tidak mengherankan jika sebagai imbalannya terdapat tambahan-tambahan yang menjelaskan. Sebagai contoh, adanya per­bedaan antara sejumlah homonimi, yang begitu sering didapati di da­lam ejaan bahasa Perancis. Namun, hal ini hanyalah sebuah aspek dari suatu perbedaan mendasar dari kondisi penggunaan bahasa lisan dan bahasa sastra. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa percakapan sering kali hanya mengutip suatu situasi, oleh karenanya orang mung­kin membuat kalimat Blips: “par ici” ‘lewat sini!’, di dalam gang metro, dengan gerakan tangan, “quelle tete!” ‘kucel amat tampang­nya!’, “la-bas!” ‘di sana’, dan sebagainya. Bahasa lisan paling sering menggunakan tempat kata ganti orang pertama dan kedua, dan se­cara umum juga kata-kata atau frase seperti ici ‘di sini’, hier ‘kema­rin’, atau demain ‘besok’ hanya mempunyai makna konkret, apabila mengacu kepada situasi di mana kata-kata itu dituturkan. Tentu saja tidak jarang bahwa pembicara berada dalam percakapan di luar si­tuasi di mana terdapat lawan bicara: obrolan, yang tidak selalu dapat dianggap sebagai kegiatan sastra, sering kali melibatkan suatu peri­laku bahasa yang tidak berada dalam situasi khas di mana tatap muka itu terjadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa penggunaan baha­sa yang bebas dari segala bentuk keadaan merupakan hal yang ideal karena hanya dalam kasus seperti itulah komunikasi terjadi dengan sarana yang benar-benar bahasa. Namun, ternyata bahwa bahasa li­san agak sering sama sekali tidak memenuhi ideal itu, sedangkan yang berhadapan dengan halaman putih, hampir selalu dituntut untuk mempraktikan ideal tadi, karena tidak mungkin baginya meramal­kan segala kondisi tempat amanatnya terungkap. Tulisan sakral tentu saja harus dipisahkan karena pada prinsipnya tidak mengikuti (atau tidak selalu) keinginan penulisnya. Perlu diingat pula bahwa sastra li­san merupakan suatu kenyataan yang telah ada sebelum sastra tulis yang kita kenal sekarang ini, dan bahwa dengan semakin bertambah­nya mesin bicara, dapat diramalkan bahwa karya lisan akan muncul kembali berikut penyiarannya melalui media bunyi. Namun, selama sastra lisan itu terbatas pada bahasa, dan tidak disertai bunyi mau­pun proyeksi sinar untuk membantu terbentuknya situasi, kita me­nemukan dalam suatu komunikasi yang dijalin dengan sarana tanda semena. Meskipun demikian, unsur-unsur non-bahasa, seperti tamber suara pembicara, dan pentingnya tekanan penegas maupun unsur­unsur non-segmental seperti lengkung melodi, akan menjauhkan ide­al yang ada dalam catatan tertulis dari satu- satunya ciri penting yang ada dalam ujaran.

Advertisement
Advertisement