Advertisement

Volvox, Anggota terakhir dari kelompok senobium yang dapat bergerak ini terdiri atas sejumlah besar sel klamidomonad yang tersusun dalam sebuah lapisan tunggal sekitar pinggiran bulatan yang penuh cairan (2.7a). Jumlah sel yang pasti bervariasi menurut jenis, dari yang terkecil sekitar 500 sampai sebanyak 60 000. Tiap koloni dapat tumbuh sampai diameternya 1 mm, yang barangkali merupakan batasan teratas bagi stabilitas mekanik susunan koloni tipe ini. Pada beberapa jenis sel-selnya secara individual saling dipertalikan oleh helaian-helaian protoplasma yang kasar, pada jenis-jenis lain dipertalikan oleh benang-benang protoplasma yang halus.

Hampir semua sel dari sebuah koloni Volvox adalah vegetatif semata-mata, dan hanya beberapa pada belahan belakang senobium mampu menghasilkan koloni anak atau garnet. Jadi Volvox memiliki soma yang berkembang sangat baik, seperti halnya pada semua hewan dan tumbuhan tinggi. Ketika sebuah koloni menjelang dewasa, perkembangbiakan sel-sel menjadi jauh lebih besar dibandingkan sel-sel vegetatif, dan melepaskan flagel-flagelnya.

Advertisement

Pada perkembangbiakan aseksual (2.7b—e) setiap sel membelah diri berulang-ulang untuk menghasilkan sebuah koloni baru, yang keadaannya analog dengan pembentukan koloni anak pada Pandorina dan Eudorina. Koloni anak ini menjadi cukup besar dan akan menonjol ke dalam rongga koloni tetuanya. Akhirnya koloni ini terlepas dan berenangrenang di dalam koloni tetuanya, sampai koloni tetua ini mati dan hancur. Ini mungkin tertahan begitu lama sehingga koloni anak sendiri memiliki koloni cucu sebelum terbebas. Pada Volvox africana sebanyak empat generasi dapat terjadi dalam satu koloni tetua asal.

Pada perkembangbiakan seksual (2.7f, terdapat perbedaan ukuran, aktivitas dan strukturnya yang nyata antara garnet jantan dan garnet betina. Koloni-koloni tergolong monoesis atau dioesis menurut jenis-jenisnya. Sel-sel perkembangbiakan betina, oogonium, tidak membelah diri dan tetap dihubungkan melalui protoplasma dengan sel-sel somatik tetangganya, yang memberi makanan kepada oogonium itu. Karena ukurannya yang besar, oogonium mencuat ke bagian dalam koloni. Setiap oogonium menghasilkan satu garnet betina yang besar dan tidak aktif, serta terisi penuh oleh cadangan makanan. Karena garnet betina ini tidak dapat bergerak, maka garnet ini disebut telur. Pembuahan telur terjadi di dalam oogonium. Sel-sel perkembangbiakan jantan, anteridium, berulang-ulang membelah diri membentuk sebuah piringan ceper yang berisi berbagai anterozoid yang ramping dan berflagel dua, dan penampilannya sangat mirip dengan garnet jantan Eudorina. Piringan anterozoid terlepas dan berada di dalam koloni tetua, lalu dari sana terlepas menjadi anterozoid atau tetap berenang di dalam koloni tetua sebagai satu kesatuan sampai mendekati sebuah telur. Jika koloni itu monoesis, anterozoidnya tertarik secara kemotaksis kepada oogonium, sehingga terjadilah pembuahan. Pada jenis-jenis dioesis, anterozoidnya harus melepaskan diri dari dalam koloni jantan melalui pori pada lapisan permukaan sebelum anterozoid ini dapat membuahi telur dari koloni betina. Anterozoid tertarik secara kemotaksis kepada koloni betina, dan diperkirakan masuk lewat pori permukaan koloni betina untuk membuahi telur dari dalam.

Setelah pembuahan terbentuklah zigot berupa spora ber-dinding tebal yang disebut oospora dan berada di dalam zigospora, sebab garnet betina itu adalah telur. Oospora terlepas karena pecahnya senobium tetua, dan akhirnya berkecambah sehingga terbebaslah sebuah zoospora yang berfungsi, yang dihasilkan dengan jalan meiosis. Zoospora membelah diri dan membentuk sebuah koloni yang bulat terdiri atas beberapa sel saja. Koloni kecil ini berkembang biak aseksual, membentuk koloni agak besar dan proses ini berulang-ulang terjadi sampai mencapai ukuran dewasa yang mencirikan jenis ini.

 

Incoming search terms:

  • pengertian volvox

Advertisement
Filed under : Ilmu Alam, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian volvox