PENGERTIAN UNDANG-UNDANG SIMBUR CAHAYA

adsense-fallback

Adalah sistem kemasyarakatan tradisional berdasarkan hukum adat dan undang-undang Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Adat ini berlaku pada hampir seluruh kelompok masyarakat di Sumatra Selatan, kasusnya daerah yang pada waktu lampau termasuk da;am wilayah Kesultanan Palembang, misalnya Bengkulu, Lampung, dan Jambi.

adsense-fallback

Kepemimpinan menurut adat Simbur Cahaya terdiri atas unsur yang paling rendah hingga yang tertinggi. Unsur terkecil adalah dusun, yang dikepalai oleh seorang proatin atau ke r i o yang dibantu oleh beberapa penggawa dusun. Dusun-dusun tersebut membentuk suatu kampung yang dipimpin oleh seorang penggawa kampung. Dari warga kampung terbut terbentuk kelompok-kelompok kesatuan hidup berasal dari satu keturunan (suku) yang membentuk marga. Setiap marga dipimpin oleh pasirah atau depati.

Beberapa marga tergabung di bawah satu ketemanggungan yang dipimpin oleh seorang rangga atau tumenggung. Jika pasirah atau depati berhalangan, tugasnya dilaksanakan oleh seorang pembarap atau penggawa marga. Pada waktu yang lampau, para tumenggung atau rangga adalah orang-orang yang masih termasuk keluarga Sultan Palembang.

Keputusan terhadap perkara-perkara adat diambil dengan mengadakan rapat adat menurut tingkatannya, yaitu rapat dusun, rapat kampung, rapat marga, rapat kecil, dan rapat besar. Rapat dusun dan rapat kampung dipimpin oleh pasirah atau depati. Rapat kecil diadakan oleh beberapa marga yang terlibat dalam satu masalah. Rapat besar ditangani oleh tumenggung atau rangga.

Dalam bidang keagamaan terdapat aturan khusus yang disebut aturan kaum. Setiap kaum, yaitu kesatuan hidup keagamaan di tiap dusun atau marga, di- p’r- sn oleh seorang penghulu yang ahli dalam seluk iieiuk agama Islam. Seorang penghulu dibantu oleh khatib, mudin, bilal, dan merbut.

Masyarakat dibagi atas tiga golongan utama, yaitu golongan bangsawan, rakyat biasa, dan rakyat jelata. Tiap warga masyarakat wajib bekerja bakti {gate atau mata gawe) untuk kepentingan dusun, marga, dan istana. Setiap penduduk yang dapat bekerja, sudah kawin, dan memiliki rumah sendiri harus mematuhi kewajiban-kewajibannya terhadap raja, yang berupa wajib pajak dan wajib dinas.

Hingga saat ini pengaruh adat Simbur Cahaya masih terdapat dalam sisten^.kemasyarakatan kelompok- kelompok etnik di daerah sekitar Palembang, Bengkulu, Lampung, Jambi,’ misalnya pada masyarakat Musi Sekayu, Abung Bunga Mayang, Rambang Senu- ling, Komering, Pegagan, Meranjat, Kayu Agung, Pe- damaran, Ogan, Kisam, Semendo. Pasemah, Rawas. Melayu Bangka, Melayu Belitung, Rejang, Serawai, dan lain-lain.

 

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback