PENGERTIAN TUT WURI HANDAYANI

adsense-fallback

Filsafat suku bangsa Jawa dalam bidang pendidikan yang kemudian diterima sebagai filsafat pendidikan di Indonesia. Filsafat Tut Wuri Handayani mulai populer sejak R.M.

adsense-fallback

Soewardi Soerjaningrat atau K i Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922.

Ki Hadjar Dewantara menetapkan falsafah pendidikan Jawa yang bersifat among, yakni mengasuh, membimbing, dan mengawasi, menjadi falsafah pendidikan bagi sekolah-sekolah Taman Siswa yang didirikannya. Falsafah among lengkapnya adalah ing ngarsa sung tulada, ing madia mangun karsa, tut wuri handayani. Terjemahan bebasnya adalah: (Bila berada) di depan memberi teladan, (bila berada) di tengah (kelompoknya) membangun motivasi, dan (bila berada) di belakang memberi semangat.

Selain Ki Hadjar Dewantara, tokoh masyarakat yang ikut mempopulerkan falsafah itu adalah R.M. Sosrokartono, kakak kandung R.A. Kartini. Pada tahun 1930-an, kepada murid-muridnya, guru spiritual yang menetap di Bandung itu sering berpesan agar mereka menerapkan falsafah among dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangannya, yang paling menonjol dalam falsafah ini adalah anak kalimat “tut wuri handayani”. Apalagi setelah pada tahun 1960- an, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menggunakan kata ini sebagai semboyan dan lambang departemennya.

Filsafat pendidikan among lebih mencerminkan pentingnya pendidikan, di samping pengajaran. Kalimat tut wuri handayani memberikan kesan bahwa seorang pendidik tidak hanya harus memberi contoh, teladan, dan motivasi saja, tetapi juga perlu memberikan dorongan kreativitas bagi anak didiknya. Dalam budaya Jawa, guru atau pendidik dan perangkat desa juga disebut pamong. Seorang guru harus among anak didiknya, sedangkan perangkat desa among masyarakat dalam wilayahnya.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback